logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 SALA
Line

Di Klaten, 394 Kasus Gizi Buruk

Dipengaruhi Pola Makan dan Kebersihan

KLATEN - Banyaknya kasus busung lapar di berbagai kota belakangan ini, disebabkan oleh gizi yang sangat buruk. Ternyata, kasus gizi buruk terjadi pula di Klaten. Sampai akhir April, tercatat 394 kasus gizi buruk terjadi di kabupaten tersebut sepanjang 2005.

Berdasarkan informasi, satu orang di antaranya masuk dalam kategori marasmus (gizi sangat buruk), yakni bernama Devi Saskia, warga Dukuh Nglando, Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, Klaten. Devi yang berumur 48 bulan itu, hanya mempunyai berat badan 10,3 kg.

Kasus Devi itu, ditemukan oleh petugas Puskesmas Jogonalan II. Namun, saat ini Devi yang juga mengalami bisu tuli itu tidak mengalami komplikasi dengan penyakit lain, baik ringan maupun berat, sehingga dia masih dirawat di rumah.

Kasubdin Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS) Klaten, dokter Ronny Roekminto MKes, mengatakan, kasus gizi buruk disebabkan oleh beberapa faktor. Konsumsi makanan, infeksi, pola asuh, dan kebersihan lingkungan, menjadi faktor yang sangat menentukan.

''Mungkin karena krisis moneter, apa-apa mahal, sehingga daya beli masyarakat menurun. Hal itu sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan gizi, sehingga banyak yang kurang gizi,'' ujar Ronny di ruang kerjanya, Sabtu lalu.

Selain itu, banyak balita yang menderita flek atau primer komplek tuberkolusa (PKTB). Penyakit tersebut sangat memengaruhi kondisi gizi balita.

Berdasarkan survei yang dilakukan DKKS Klaten pada 2004, diketahui bahwa dari 1.635 orang responden, terdapat 1,47 persen anak yang mengalami gizi buruk, 11,4 persen gizi kurang, 85,7 persen gizi baik, dan 1,43 persen kelebihan gizi.

Makanan Tambahan

Sebenarnya, DKKS sudah berusaha mengantisipasi terjadinya gizi buruk sejak lama dengan melakukan droping makanan tambahan. Selama 2004, ada droping sereal (makanan pengganti ASI), biskuit, serta susu bantuan dari pusat dan provinsi lewat Posyandu.

''Pada 2004, Klaten mendapat bantuan 12,5 ton sereal. Makanan itu sangat tinggi nilai gizinya, tapi sayangnya kurang disukai balita. Kadang distribusinya menumpuk di Posyandu, karena tidak disukai,'' kata Ronny.

DKKS tidak bisa mengubah bentuk makanan tersebut, karena diterima sudah dalam bentuk barang. Karena itu, tahun berikutnya bantuan diminta dalam bentuk biskuit yang lebih disukai. Pada 2004 lalu, bantuan biskuit hanya satu truk dan langsung habis.

Ronny menambahkan, idealnya pemberian makanan tambahan kepada balita gizi buruk adalah selama sembilan bulan. Tapi karena ada perilaku masyarakat yang kurang mendukung, maka bantuan untuk penderita gizi buruk selama sembilan bulan, dikonsumsi oleh satu keluarga, sehingga hanya cukup untuk satu bulan.

Tahun ini, ada alokasi dana APBD Klaten sebesar Rp 48 juta untuk pembelian susu dan Rp 48 juta untuk ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi. Selain itu, ada Rp 247 juta untuk pemberian makanan tambahan bagi anak sekolah.

''Dulu makanan tambahan untuk anak sekolah diwujudkan dalam bentuk kudapan, seperti tahu dan tempe bacem. Tapi nanti saya usulkan untuk diberikan susu bubuk, sehingga bisa untuk program minum susu, dengan teknis siswa diminta membawa gelas sendiri,'' ujarnya. (F5-16a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA