| Senin, 13 Juni 2005 | RAGAM |
Percaya atau Tidak, Tinggi Badan Bawa KeberuntunganDIAKUI atau tidak, kehidupan ini penuh diskriminasi. Bukan hanya menyangkut soal warna kulit atau ras melainkan juga berkaitan dengan proporsi tubuh. Orang-orang yang tinggi badannya di atas rata-rata ternyata kebanyakannya berpenghasilan lebih besar dan lebih berkuasa. Tapi terdapat diskriminasi lain lagi. Hal ini hanya berlaku bagi pria dan tidak berlaku pada wanita. Mula-mula kedengarannya sulit dipercaya, bahwa setiap sentimeter kelebihan tinggi badan pria berarti pula kenaikan gaji atau kekuasaan dalam ukuran yang setara. Namun penelitian ilmiah di berbagai negara yang dilakukan selama 30 tahun terakhir ini menunjukkan kebenaran hipotesa yang sulit terbantahkan lagi. Penelitian pertama dilakukan terhadap para lulusan Universitas Pittsburgh di AS. Ternyata, para lulusan yang tinggi badannya minimal 1,88 meter, menerima gaji awal 12 persen lebih tinggi dari rekan lulusan yang lain yang lebih pendek. Riset Ilmiah Penelitian serupa yang dilakukan di AS tahun 1990 memberikan rincian lebih jelas lagi. Penelitian terhadap para lulusan baru fakultas ekonomi menunjukkan setiap inci atau sekitar 2,5 sentimeter kelebihan tinggi badan dari normal berarti tambahan gaji sebesar 570 dolar per tahunnya bagi yang bersangkutan. Yang tentu saja menarik penelitiannya dilakukan di antara para lulusan fakultas ekonomi. Bukan di antara penebang kayu atau kuli bangunan, yang postur tubuhnya amat menentukan untuk kelancaran pekerjaannya. Penelitian serupa di Inggris juga memberikan kesimpulan yang nyaris identik. Mereka yang tinggi badannya di atas rata-rata biasanya memetik keuntungan dalam kariernya di bidang pekerjaan atau politik. Penelitian jangka panjang lainnya terhadap sekitar 33.250 responden di Jerman, yang dilakukan Guido Heineck, pakar ekonomi dari Universitas Munchen, menunjukkan hasil serupa. Bagi pekerja pria untuk setiap 10 sentimeter kelebihan tinggi badan dari rata-rata per-tahunnya menerima gaji 2.000 euro lebih tinggi dari rekannya yang normal. Namun sekali lagi ditegaskan, fenomena ini tidak berlaku bagi pekerja wanita. Sementara penelitian lainnya, yang dilakukan sebuah perusahaan konsultan personal di Jerman terhadap lebih dari 200 manajer puncak menunjukkan data yang mendukung hasil penelitian sebelumnya. Memang hampir seluruh manajer puncak itu lulusan perguruan tinggi. Bahkan 37 persen di antaranya bergelar doktor. Namun yang lebih menarik lagi 91 persen dari manajer puncak itu memiliki tinggi badan lebih dari 1,80 meter atau melebihi tinggi badan rata-rata orang Jerman yang 1,77 meter. Bahkan lima persen di antaranya boleh dijuluki bertubuh sebesar lemari, karena tingginya lebih dari 2 meter seperti misalnya Jurgen Schrempp, direktur utama perusahaan mobil paling bergengsi di dunia Daimler-Chrysler. Sosoknya yang tinggi besar, memang menonjol dan cocok dengan jabatannya yang super-tinggi dan kekuasaan. Kecil atau Pendek Harus diakui juga terdapat sejumlah pengusaha sukses atau penguasa terkenal, yang tergolong kecil atau pendek. Sehingga menimbulkan pertanyaan, apakah semua teori mengenai orang yang tingginya di atas rata-rata lebih sukses itu benar? Contohnya Napoleon yang tingginya 1,69 meter. Atau raja kapal Onassis tingginya cuma 1,65 meter, atau juga presiden China Deng Xiaoping dengan tinggi cuma 1,52 meter. Ternyata terdapat jawaban ilmiah yang juga cukup meyakinkan. Napoleon misalnya untuk ukuran Prancis ketika ia berkuasa, tidaklah tergolong pendek. Sementara pengusaha semacam Onassis tidak memerlukan keputusan dewan direksi atau pemilih untuk meraih sukses. Sama halnya dengan Deng Xiaoping, di negara otoriter semua teori ilmiah dengan mudah dapat dijungkirbalikkan. Sinyal Evolusi Setelah itu muncul pertanyaan lainnya mengapa orang yang lebih tinggi postur tubuhnya seolah-olah mendapat keistimewaan? Jawabannya diperkirakan berkaitan dengan proses evolusi. Prof.Robin Dunbar, pakar antropologi dari Universitas Liverpool di Inggris menyebutkan postur tubuh yang lebih tinggi dan besar dalam evolusi ditafsirkan sebagai sinyal dari sumber genetika yang lebih berkualitas. Juga orang yang lebih jangkung ditafsirkan memiliki kualitas kesehatan lebih baik. Tidak berlebihan bila bapak teori evolusi Charles Darwin dalam bukunya yang terkenal ''The Origin of Species'' menonjolkan yang unggul yang akan terus berkembang. Dugaan saja dan tidak cukup menjelaskan secara ilmiah mengenai kelebihan dari orang yang postur tubuhnya tinggi ini. Penelitian yang dilakukan Universitas Munster di Jerman menunjukkan, orang yang tingginya di atas rata-rata tingkat kesehatannya juga rata-rata lebih baik dibanding yang tingginya di bawah rata-rata. Penelitian terhadap 5.000 responden di Jerman menunjukan, warga Jerman yang tinggi badannya di bawah 1,70 meter menghadapi risiko penyakit darah tinggi dua kali lipat dibanding warga Jerman yang tinggi badannya 1,80 meter. Juga orang Jerman yang tingginya di bawah rata-rata, menghadapi risiko penyakit jantung dan metabolisme lebih besar. Secara sadar atau tidak sadar dalam pemilihan jodoh ternyata gadis-gadis lebih banyak memperebutkan anak laki-laki yang postur tubuhnya lebih tinggi. Inilah rupanya sinyal-sinyal evolusi yang ditangkap oleh kebudayaan dan masyarakat. Jadi jangan heran jika terjadi diskriminasi yang menguntungkan orang-orang yang badannya lebih tinggi dari rata-rata.(Tiksna/dw-world.de-12) |