logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Ciri Negara Pancasila

Ideologi Negara Kesatuan Republik lndonesia (NKRI) adalah Pancasila di mana sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini dapat diartikan semua warga negara Indonesia beragama. Bila mereka melaksanakan ajaran agamanya secara benar dapat dipastikan telah melaksanakan Pancasila dengan lebih baik.

Mereka tidak lantang berteriak, dibanding WNI yang selalu berteriak menegakkan Pancasila dan UUD 1945 serta pertahankan NKRI secara murni dan konsekuen. Mereka itu justru tidak melaksanakan ajaran agamanya dan bahkan melanggar.

Ajaran Pancasila tidak ada yang bertentangan dengan agama yang diakui sah di Indonesia. Berarti sernua peraturan apa pun bentuknya di tingkat pusat atau daerah tidak boleh ada yang bertentangan dengan agama. Kalau ada, dapat dipastikan otomatis bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi NKRI.

Semua agama melarang riba, prostitusi, kemaksiatan, perjudian dan penyalahgunaan miras dan narkoba. Juga melarang penjualan harta negara yang telah habis masa pakainya dengan harga yang jauh di bawah harga pasar (harus lewat lelang terbuka apa pun alasannya).

Sudah saatnya para pemuka agama mulai menentukan sikap menentang kebijakan pejabat/aparat yang melanggar ajaran agama. Jangan sampai agama dijadikan alat untuk mencari jabatan atau menutupi kejahatan yang. mereka lakukan.

Jangan seperti Amerika dengan alasan demokrasi dan hak asasii manusia (HAM), membenarkan UU atau peraturan dalam bentuk apa pun yang bertentangan dengan agama. Contoh membolehkan perkawinan sejenis (homoseks, lesbi) dan masih banyak lagi termasuk izin resmi perjudian.

Muhammad Maftuh
Jl Raya Menganti 99, Cilacap

***

Alamat Pak Joko

Karena 'jatuh cinta' dengan isi tulisan Pak Joko Suprayoga di rubrik Surat Pembaca, saya dan istri tanggal 29 Mei 2005 bersilaturahmi ke Sapen Sukorejo, Kendal seperti yang tertulis di setiap akhir suratnya. Terus terang kami terusik atas 'keedanan'-nya dalam menulis. Hampir setiap hari tulisannya muncul di rubrik ini.

Dari Magelang kami naik bus jurusan Sukorejo. Dengan sedikit cerewet nanya-nanya ke kondektur bus, akhirnya sekitar satu setengah jam perjalanan kami turun tepat di jalan raya Sapen. Mata kami langsung mengamati nomor rumah yang berderet. "Aha, nomor 99, ini dia rumah Joko", kata saya pada istri.

Pintu tertutup, kelihatannya terkunci dari dalam. Sekilas tidak ada orang. Selang beberapa menit tetangga samping rumah tersenyum sambil menjawab salam kami. Dia memperkenalkan diri sebagai Oom-nya Joko. Dari beliau kami tahu kalau Pak Joko ternyata masih muda, baru 32 tahun dan belum berkeluarga.

Padahal dari isi dan caranya menulis terkesan sangat dewasa bahkan tua. Namun, sayang hari itu Joko tidak pulang ke Sapen, rumah orang tuanya. "Joko kerja di Brangsong, Kendal," kata Oom-nya membuka sapa. "Biasanya hari Minggu pulang tapi entah kenapa kok hari ini tidak pulang," tambahnya.

Kami juga ditunjukkan wajah Joko lewat foto saat wisuda sarjana. Ketika saya melirik ke meja, persis di bawah gantungan foto, terdapat bertumpuk amplop berperangko yang semuanya tertulis: "Kepada Yth Bp Joko Suprayoga". Sayang, Oom-nya ini tidak tahu persis alamat Joko di Brangsong, nomor telepon juga tidak tahu. Pak, eh Mas Joko, di manakah engkau berada?

Agus M Irkham
Jl Cinde Utara 27 Semarang

***

KKL, Potensi City Tour

Menanggapi tulisan berjudul Ruang Terbuka, Belajar dari Tinggalan "Leloehoer" kiriman Ir R Siti Rukayah Tutut MT di rubrik Rame Kondhe (SM 31 Mei 2005), ada beberapa hal yang menunut saya pantas dijadikan bahan kajian bersama.

Pertama, Kawasan Kota Lama (KKL) sebagai ruang terbuka untuk ekspresi publik saya sempat memerhatikan ruas Jl Mpu Tantular, tepatnya di seberang kantor PT Pelni. Beberapa orang memainkan musik di trotoar yang sekilas mungkin dinilai sebagai gangguan bagi pejalan kaki.

Namun saya mendapati aktivitas bermain musik itu dilakukan selewat pukul 22.00 yang bisa diartikan sebagai hiburan gratis untuk para pejalan kaki. Saya teringat kehadiran pemusik jalanan yang menghibur di jalan-jalan di daerah tujuan wisata.

Kedua, Ruang Terbuka sebagai potensi wisata. Kalau diperhatikan serius, pesona ruang terbuka di KKL tidak kalah menarik dengan yang ada di kota lain yang lebih sering menjadi kota tujuan wisata, baik untuk wisata domestik maupun asing. Contohlah Kota Jogjakarta atau Bandung.

Kota Semarang pun memiliki potensi yang sebenarnya lebih. Pesona kota ini menurut saya memenuhi tiga kategori: wisata historis, wisata religius, dan wisata arsitektural. Mengenai wisata arsitektural, ruang terbuka yang disebutkan Ibu Tutut, misalnya Simpanglima, Tugumuda, Kawasan Gombel dan lainnya.

Saya ingin menarik perhatian ke KKL yaitu daerah seputar stasiun Tawang, Gereja Blendhuk, jembatan Mberok dan sekitarnya. Saya hanya berandai, suatu saat menjadi nyata, KKL menjadi ruang publik yang ryaman dan menarik untuk kunjungan wisata. Tentu diikuti peningkatan kondisi dan sarana yang diperlukan agar layak untuk kunjungan wisata.

Harapan saya ini kiranya tidak dinilai berlebihan mengingat pariwisata adalah sektor andalan untuk perolehan devisa dan setidaknya memperluas lahan kerja bagi masyarakat sekitarnya. Yang dibutuhkan adalah kerjasama dan kesungguhan para pihak yang terkait.

Terlebih kemauan masyarakat untuk turut menjaga dan mengelola potensi yang tak ternilai itu ke depannya. Wisata adalah kebutuhan abadi manusia. Mengelola warisan 'leloehoer' berupa bangunan dan kawasan Kota Lama adalah bukti peduli kita pada sejarah bangsa.

Ny El Amin Prasetyono SS
Jl Kebonharjo Rt 6/Rw 6, Semarang

***

Virus Menulis

Menarik sekali apa yang ditaburkan Joko Suprayoga di kolom Surat Pembaca ini tentang menulis (SM16 Mei 2005). Ya, menulis memang pekerjaan unik, karena di dalamnya ada godam yang berbingkai berat sekaligus bantal yang terbungkus ringan. Suatu pekerjaan yang sangat berat dan sangat ringan.

Menulis itu tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan sekadar bicara. Sebab secara fisik jarak otak ke tangan lebih jauh daripada otak ke mulut. Begitu jauhnya seperti ribuan kilometer jauhnya dalam ukuran kerja syaraf (Pramudya Ananta Toer).

Dikatakan berat bila kegiatan yang japemete dengan menulis yaitu membaca tidak pernah dilakukan. Bila kita membaca maka otak akan mudah menyalurkan energi pada tangan untuk bergerak menulis. Membaca ibarat menabung gumpalan-gumpalan ingatan dan ide dalam tabung benak.

bung benak telah penuh (padat) maka untuk meluberkan (cair) harus dengan menuangkan dalam gelas tulisan. Setelah tulisan tercipta meski sederhana, maka kekuatan tangan dalam bergerak menulis. Harus terus diasah sampai muncul virus menulis, yaitu virus yang membuat ketagihan untuk terus menulis. Agar virus menulis bertambah ganas, maka kegiatan membaca harus dilakukan dengan gencar dan membabi buta diiringi liukan tarikan tangan yang terus rnenerus bergerak menuntun ide yang 'terlanjur' ada seusai membaca menuju taman tulisan.

Walhasil jika sudah terjangkiti virus menulis maka menulis merupakan pekerjaan yang sangat ringan. Seperti ucapan Saut Poltak Tambunan bahwa menulis itu seperti relaksasi saja. Sesuatu yang tak mungkin bisa diimajinasikan dalam tulisan berupa novel atau cerpen.

Maka jika menulis sudah terasa sangat ringan kita lakukan sebaiknya ditindaklanjuti dengan mengakuri pekik Prof Dr Ir Andi Hakim Nasution: "Menulislah dan hiduplah dari menulis".

M Fahrudin Hidayat
Jl R Patah 2 Bawang, Batang

***

Forum Komunikasi Umat Kristen

Pada tanggal 18 Mei 2005 telah dideklarasikan Forum Komunikasi Umat Kristen (FKUK) Kabupaten Semarang, Forum berkedudukan di Jl Pemuda 93 Ambarawa telp (0298) 591 883 yang dalam deklarasi dihadiri 227 rohaniawan dan perwakilan Majelis Gereja Kabupaten Semarang.

Acara dihadiri Bupati Bp Bambang Guritno SE MM yang memberikan sambutan sekaligus mengukuhkan susunan pengurusnya. FKUK lahir dilatarbelakangi, selama ini banyak umat Kristen tersebar di berbagai organisasi namun kurang menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi umat.

Misi dan tujuannya mempersatukan dan memberdayakan umat dibidang sosial, ekonomi dan budaya. Bila diperlukan juga di bidang politik termasuk mencari solusi damai bila ada permasalahan di gereja terutama bila terjadi kasus dengan umat beragama lain serta ikut mengurus perizinan.

FKUK ini bukan saingan BKSAG (Badan Kerja Sama Antargereja), tetapi untuk melengkapi. Bila BKSAG bergerak di bidang sosial religius (kerohanian, liturgi) maka FKUK bergerak di luar bidang tersebut. Bagi gereja dan umat yang berkepentingan dapat berhubungan, berkomunikasi dan berkonsultasi dengan FKUK.

David Mulyono
Pojoksari Rt 2/Rw 2, Ambarawa


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA