logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 WACANA
Line

Dilema Pembelajaran Teknologi Informasi

Oleh: M Hendy Nugroho

PERKEMBANGAN telekomunikasi, media, dan informatika (telematika) yang sedang booming akhir-akhir ini, mendapat sambutan positif di masyarakat. Perkembangan telematika tidak hanya disambut dan dinikmati oleh kalangan bisnis (yang kemudian dikenal istilah e-bussiness) maupun pemerintahan yang (belakangan populer dengan istilah e-government dan e-parlianment), tetapi juga telah merambah dalam dunia pendidikan.

Perkembangan telematika dalam dunia pendidikan direspons oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan memasukkan kurikulum yang bernuansa pengenalan seluk beluk teknologi informasi dan komunikasi, terutama di jenjang pendidikan menengah. Adanya respons ini menunjukkan bahwa Departemen Pendidikan Nasional memperhatikan perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang sedang mengalami kemajuan pesat. Dengan kebijakan ini diharapkan siswa memiliki bekal kemampuan untuk mengenal, memahami, dan berinteraksi dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi, sehingga kelak pada saat lulus tidak buta sama sekali dengan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang ada di masyarakat.

Pada jenjang sekolah menengah, pelajaran tentang teknologi informasi dan komunikasi menjadi sebuah materi intrakurikuler wajib. Di SMP dan SMA, materi teknologi informasi dan komunikasi dimuat dalam mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), sedangkan pada SMK disebut dengan mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI). Pada jenjang SMK, materi teknologi informasi dan komunikasi bahkan telah dijadikan sebuah bidang keahlian tersendiri, yaitu bidang keahlian teknolagi informasi dan komunikasi yang memiliki 4 program keahlian yaitu: rekayasa perangkat lunak, teknik komputer dan jaringan, multimedia, dan teknik radio dan kepenyiaran.

Karakteristik

Materi teknologi informasi dan komunikasi yang dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah menengah memiliki karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Hal ini karena pada umumnya materi pelajaran yang ada pada kurikulum sekolah (SMP dan SMA) berupa materi sains, sedangkan materi dalam teknologi informasi dan komunikasi berkaitan erat dengan teknologi.

Ada perbedaan mendasar antara sains (ilmu pengetahuan murni) dengan terapannya, terutama dalam bidang teknologi. Pada dasarnya sains mengkaji sebuah objek berdasarkan ide maupun hakikatnya dan cederung bersifat statis. Sedangkan teknologi merupakan penerapan dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh manusia. Proses pembelajaran yang berkaitan dengan perangkat teknologi diperlukan kegiatan praktik langsung pada objek kajian sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembelajaran teori. Kegiatan praktik diperlukan dalam rangka mempersempit jarak antara teori dengan keadaan di lapangan.

Tuntutan

Pembicaraan tentang teknologi tidak akan lepas dari perkembangannya yang sedemikian pesat, mengingat teknologi merupakan aplikasi dari sains. Perkembangan teknologi berlangsung dalam hitungan jam, bahkan kurang dari satuan waktu tersebut. Setiap saat manusia berusaha menemukan hal baru dari sebuah teknologi yang telah ada, baik dengan menemukan hal baru, memperbaharui maupun mengembangkan yang telah ada.

Demikian halnya dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dirasakan cukup pesat di awal abad 21 ini. Sebut saja penemuan berbagai perangkat keras teknologi informasi mulai dari komputer dan peripheralnya, handphone, internet, PDA, kamera, dan sebagainya, yang setiap saat terus berkembang dengan bentuk, model, dan kemampuan baru. Begitu juga dengan perkembangan perangkat lunak yang setiap saat dihasilkan dari perusahaan-perusahaan perangkat lunak maupun perorangan.

Perangkat lunak yang digunakan untuk mendukung penggunaan perangkat keras dalam membantu tugas-tugas manusia semakin hari menjadi semakin banyak dan beragam. Setiap vendor (produsen) berlomba-lomba menawarkan keunggulan produk barunya. Produk teknologi yang dirasa begitu canggih pada hari ini, boleh jadi akan tertinggal dengan temuan teknologi baru dalam beberapa hari kemudian.

Kurikulum teknologi informasi dan komunikasi di sekolah pada dasarnya berisi standar kompetensi dasar pengenalan dunia teknologi informasi dan komunikasi. Dalam pelaksanaannya, proses pembelajaran ini dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah masing-masing, namun tetap diharapkan agar materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan di lapangan.

Sebab tujuan kurikulum tidak akan dicapai jika materi-materi yang diberikan tidak dapat diterapkan atau tidak sesuai dengan kondisi yang sedang berkembang di masyarakat. Materi yang terdapat dalam kurikulum teknologi informasi dan komunikasi memang tidak secara tegas menyebut produk vendor tertentu sebagai standar teknologi yang diajarkan di sekolah.

Hal ini bertujuan untuk menghindari monopoli produk dari sebuah vendor tertentu. Kewenangan guru dalam memilih dan menyampaikan materi sangat menentukan kualitas pembelajaran.

Dengan demikian, kurikulum teknologi informasi dan komunikasi di sekolah menuntut adanya kesesuaian antara situasi dan kondisi yang ada dalam masyarakat maupun industri (sebagai pengguna jasa lulusan sekolah) dengan materi pembelajaran yang diberikan di sekolah, sehingga pada akhirnya materi yang diajarkan di sekolah benar-benar dapat diterapkan di lapangan, tidak hanya sekadar bekal teori yang sulit untuk diterapkan.

Masalah

Tuntutan yang harus dilaksanakan oleh guru dan sekolah dalam pelaksanaan proses pembelajaran teknologi informasi dan komunikasi menghadapi berbagai kendala yang tidak sederhana. Masalah utama yang seringkali dihadapi oleh pihak sekolah dan guru adalah keterbatasan sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya perangkat. Kemampuan setiap sekolah untuk memiliki perangkat teknologi informasi dan komunikasi tidak sama. Diakui atau tidak, tidak semua sekolah memilik. kemampuan -dan kemauan- untuk mengadakan peralatan teknologi informasi dan komunikasi. Ada sekolah yang mampu membangun beberapa ruang laboratorium komputer yang memiliki sejumlah komputer dengan spesifikasi tinggi, berbasis jaringan dan multimedia dilengkapi dengan kamera digital. handycam, LCD, bahkan akses internet 24 jam. Tetapi masih hanyak sekolah yang tidak memiliki kemampuan sebaik itu. Mungkin masih ada juga sekolah yang hanya memiliki dua buah personal komputer, itu pun ada di ruang kepala sekolah dan tata usaha, sedangkan untuk pembelajarannya, guru hanya menerangkan sebagaimana halnya pelajaran lain tanpa kegiatan praktik.

Kendala lain yang dihadapi adalah kemampuan sekolah untuk melakukan perawatan dan upgrade secara kontinyu perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang telah dimilikinya. Masih banyak pandangan yang menyatakan bahwa sebuah perangkat keras teknologi informasi mampu digunakan selama bertahun-tahun, tergantung pada merk dan produsennya. Padahal tidak demikian, selain tuntutan perkembangan, penggunaan perangkat teknologi informasi dan komunikasi juga memiliki batas kemampuan.

Selain kendala dari pihak sekolah, kendala lain adalah belum adanya lembaga pendidikan yang secara khusus mendidik calon tenaga kependidikan di bidang teknologi informasi dan komunikasi.. Pada umumnya yang terjadi sekarang adalah sebagian besar guru yang ditugaskan mengajar materi teknologi informasi dan komunikasi adalah guru yang 'dianggap' memiliki kemampuan tersebut. Kalau parameter tersebut yang dijadikan pegangan, maka interpretasi guru dalam memahami tuntutan kurikulum untuk diajarkan kepada siswa tidak akan sama. Sebab guru tersebut tidak secara khusus belajar mengenai dunia teknologi informasi dan komunikasi, melainkan belajar secara otodidak dengan cara dan teknik masing-masing. Masih agak lumayan jika guru yang ada merupakan lulusan dari jurusan yang berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi yang kemudian menempuh pendidikan kecakapan mengajar (akta mengajar) maupun guru yang benar-benar memiliki pengalaman di bidang tersebut yang memahami falsafah pengajaran teknologi informasi dan komunikasi. Tetapi kalau guru yang buta sama sekali dengan teknologi informasi dan komunikasi yang kemudian 'dipaksa' mengajar materi tersebut, tentu akan sangat merugikan siswa.

Dilema

Tuntutan yang harus dilaksanakan memang tidak sebanding dengan banyaknya masalah yang harus dihadapi. Kurikulum telah dibuat ideal sedemikian rupa, sehingga diharapkan mampu menjawab tantangan masa depan. Akan tetapi di sisi lain, kondisi di lapangan masih memerlukan perhatian dan penanganan serius terhadap keterlaksanaan maupun ketercapaian tujuan kurikulum. Hal ini menjadi dilema tersendiri bagi dunia pendidikan.

Mahalnya biaya mata pelajaran teknologi informasi dan komunikasi saat ini tidak lepas dari 'status' bangsa Indonesia yang masih merupakan negara berkembang, negara konsumen, negara importir dan sebutan lain yang intinya menjadikan bangsa Indonesia sebagai subjek teknologi bangsa-bangsa lain. Meskipun sebagian pemerhati telematika Indonesia telah berupaya mengembangkan dunia telematika di dalam negeri, seperti mengembangkan perangkat lunak open source, namun tetap saja belum menjadi solusi yang aptimal.

Pemerintah hendaknya berusaha menggandeng perusahaan yang merupakan vendor perangkat keras maupun perangkat lunak untuk memiliki kepedulian terhadap dunia pendidian dengan menjual produk dengan harga yang dapat dijangkau dunia pendidikan maupun dengan menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan bagi guru terhadap produk yang dihasilkan. Pada akhirnya toh perusahaan tersebut juga yang akan diuntungkan, baik dalam hal promosi maupun penggunaan. Diakui atau tidak, sekolah merupakan celah efektif untuk mempromosikan sebuah produk teknologi informasi dan komunikasi.

Terlepas dari segala permasalahan yang ada, langkah pemerintah (dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional) yang berani mengambil risiko untuk membuka mata bagi generasi muda terhadap teknologi informasi dan komunikasi patut dihargai dan mendapat dukungan dari semua pihak. Hal ini sebagai salah satu upaya menangkal secara dini isu tentang kesenjangan digital bagi bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain di dunia. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi bangsa Indonesia akan bangkit dari ketertinggalan dari bangsa lainnya. (24)

-M Hendy Nugroho SPd, guru SMK N 1 Kendal.


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA