| Senin, 13 Juni 2005 | WACANA |
tajuk rencanaKampanye, Bagian Penting Sosialisasi Pilkada- Pemilihan kepala daerah secara langsung tak harus dihadapi dengan ketegangan, apalagi sampai menimbulkan konflik horisontal. Kecuali sudah bukan waktunya, masyarakat juga makin kritis dan sadar untuk tidak diperalat oleh salah satu kandidat atau sebuah partai politik. Termasuk pada masa kampanye yang ternyata dapat dilakukan dengan damai dan simpatik. Seperti di Solo hari Sabtu lalu, empat pasangan calon wali kota dan wakil wali kota kampanye bersama. Mereka menggelar pawai bersama dan sangat meriah sebagai tanda dimulainya masa kampanye. Acara yang diorganisasikan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) setempat ini dilaporkan berlangsung meriah dan sukses. Kita menilai hal ini sangat penting sebagai bagian dari sosialisasi. - Di Semarang dan Rembang, hal serupa juga berlangsung dengan lancar, kendati tidak semeriah di Solo. Kampanye bersama, mengapa tidak? Mengapa harus sendiri-sendiri dan salah-salah terpancing kampanye negatif, karena pendukung salah satu calon menjelekkan atau memojokkan calon lain. Tetapi aturan main sudah dibuat dan disepakati sehingga kita tak mungkin mengubahnya. Hanya selama bisa diatur kembali, mengapa tak dipikirkan model-model seperti itu. Baik lewat debat terbuka, uji publik, maupun tampil bareng dalam sebuah pawai dan sebagainya. Toh pada hakikatnya masa kampanye yang relatif pendek itu haruslah dimanfaatkan untuk mendekatkan calon-calon itu dengan konstituen atau masyarakat yang diharapkan memberikan suara. - Sudah tak mungkin lagi dalam waktu yang singkat dan makin mendekati hari coblosan, para calon terlalu banyak berbicara serta memaparkan visi dan misi. Bisa jadi masyarakat pun sudah tak tertarik mendengarkan. Maka, model kampanye dengan pawai atau pertemuan terbuka akan lebih tepat, asalkan dikembangkan secara kreatif. Para calon mendatangi berbagai tempat dan mereka menggelar acara yang bisa berlangsung meriah. Lebih mahal dari segi biaya, namun juga lebih efektif asalkan masyarakat dapat tertarik mengikuti acara tersebut. Ada yang mengadakan jalan sehat dengan door prize sepeda motor, televisi, ponsel, dan sebagainya. Ada pula yang cukup beranjangsana dari kampung ke kampung atau blusukan ke pasar-pasar. - Jadilah masa kampanye akan lebih dimanfaatkan untuk membantu sosialisasi. Hal ini penting, karena melihat kecenderungan yang terjadi di Kabupaten Kebumen dan Kota Pekalongan, masyarakat banyak yang mulai enggan menggunakan hak pilihnya. Mereka lebih memilih bekerja atau berlibur daripada datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Mungkin saja salah satunya karena grengseng pilkada dan sosialisasi yang sangat kurang sehingga mereka banyak yang belum tahu kapan hari pencoblosan. Kurang mengenal betul siapa-siapa calonnya. Kecuali mungkin pejabat lama yang mencalonkan kembali. Dalam konteks ini, kegiatan kampanye massal dan kalau perlu bersama-sama, menjadi penting. Asalkan tetap damai dan simpatik. - Di beberapa daerah di luar Jawa Tengah, pilkada menyulut beberapa kericuhan. Protes pendukung yang kalah bisa memicu keributan dan konflik di tingkat massa. Pastilah banyak yang menduga mereka itu hanya digerakkan. Pendemo yang dibayar oleh calon yang kalah. Maka sikap penuh kedamaian dan simpatik perlu terus dijaga sampai pilkada usai. Sampai perhitungan suara berjalan lancar dan aman. Dalam hal ini nasihat orang-orang tua dulu agar ''sing menang ora umuk, sing kalah orang ngamuk'' benar-benar dapat ditaati. Sebaliknya, KPUD sebagai penyelenggara pun perlu berhati-hati dan terus menjaga netralitasnya agar keseluruhan proses pilkada dapat berjalan sesuai dengan aturan dan tidak ada masalah dari segi legal formal. - Asalkan para kandidat dan elite partai tak terpancing emosi dan berbuat kurang fair pada pesaingnya, boleh dikatakan pilkada kali ini akan dapat lancar dan terkendali. Yang diharapkan bukan sekadar lancar, namun juga dengan tingkat partisipasi yang relatif tinggi. Apa yang terjadi di Kota Pekalongan dan Kabupaten Kebumen mudah-mudahan tak terjadi di tempat lain. Atau malah ada yang angka partisipasinya lebih kecil? Untuk berjaga-jaga, kegiatan kampanye sebagai bagian dari proses yang harus dilalui agar dimanfaatkan untuk membuat suasana makin gerengseng. Suasana Solo termasuk meriah dalam menyambut pilkada. Kalau Solo bisa, mengapa yang lain tidak? Semua itu merupakan tugas dan tanggung jawab masyarakat. Tidak hanya bisa diserahkan kepada KPUD. |