| Senin, 13 Juni 2005 | NASIONAL |
Tak Ada Toleransi bagi TNI Berpolitik Praktis
SEMARANGPrajurit TNI dituntut bersikap netral dalam menghadapi pilkada di beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah dan DI/Yogyakarta. Hal tersebut ditegaskan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunarso pada upacara penerimaan prajurit Yonif 400/Raider, yang telah melaksanakan tugas operasi di daerah rawan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang (12/6). Sunarso menandaskan, institusinya tidak akan menoleransi sikap anggota TNI yang terjebak dalam kegiatan politik praktis, apa pun bentuknya. ''Selain itu, TNI juga harus siap sewaktu-waktu jika diminta membantu Polri dalam rangka pengamanan pilkada sesuai dengan prosedur,'' katanya. Pangdam juga mengungkapkan kepuasannya terhadap prajurit, karena selama di NAD mereka mampu melaksanakan tugas sesuai dengan tuntutan yang diberikan komando operasi. ''Jadikanlah penugasan tersebut sebagai pengalaman berharga, sekaligus tambahan bekal untuk meningkatkan kemampuan sebagai prajurit profesional,'' papar dia. Kapendam Letkol CAJ Drs Agus Subroto mengatakan, 697 prajurit bertugas di Aceh selama 16 bulan. Agus menambahkan, hasil yang dicapai para prajurit memuaskan. Hal tersebut terbukti dengan pelumpuhan 60 anggota Gerakan Separatis Aceh (GSA). ''Selain itu, mereka juga menahan 22 anggota GSA, menyita 15 senjata AK, 4 senjata M16, 7 pistol, 1 SKS, 9 senjata rakitan laras pendek, dan 5 senjata rakitan laras panjang,'' kata dia. Selain itu, tambah Kapendam, para prajurit yang menumpang kapal Teluk Parigi itu juga berhasil menyita 1.968 amunisi AK, 629 amunisi M16, 243 amunisi pistol, 22 magazen, 14 bendera GSA, 4 dokumen, 12 HT, 1 popor SS1, 21 hanmok, 3 tenda, 1 teropong, dan 3 handuk milik anggota GSA. (H11-29t) | ||||