logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 NASIONAL
Line

Peringatan 600 Tahun Cheng Ho Diluncurkan


TEMU USAHA:Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto dan Menteri Perdagangan Mar'ie Elka Pangestu semalam menghadiri temu usaha dan peluncuran peringatan 600 tahun pendaratan Laksamana Cheng Ho di Jawa Tengah, yang berlangsung di Hotel Sahid Jakarta.(30t)

JAKARTA- Peringatan 600 tahun perjalanan Laksamana Cheng Ho di Semarang 18 Juli-7 Agustus 2005, semalam diluncurkan di Hotel Sahid Jakarta. Pada acara tersebut digelar temu usaha dan diskusi mengenai perjalanan Cheng Ho ke berbagai negara, terutama di Semarang.

Tampil sebaga pembicara, Gubernur Mardiyanto, Menteri Perdagangan Marie Pangestu, dan Yu Hungyao, Minister Counselir Kedubes China untuk Indonesia. Diskusi dipandu Ketua Kehormatan Paguyuban Sosial Marga Tiong Hoa Indonesia (PSMTI) AB Susanto.

Hadir dalam kesempatan itu Wakil Ketua MPR BRA Mooryati Sudibyo, anggota DPD asal Jawa Tengah Budi Santoso, dan para tamu undangan lainnya.

Ketua Panitia Pelaksana Sindu Dharmali melaporkan, acara dimulai dengan pameran, seminar, upacara ritual dan seremonial, serta acara kebudayaan. Rangkaian acara tersebut akan menggambarkan betapa keberagaman budaya peradaban, agama, dan perdagangan dapat menjadi pemersatu yang memberikan banyak manfaat dan keuntungan bagi Indonesia, khususnya Jawa Tengah.

Acara yang Dipersiapkan

Adapun sejumlah acara yang telah disiapkan terdiri atas pameran internasional Cheng Ho, Pameran Produk Dalam Negeri Regional 2005, Pameran Kerajinan Daerah Seluruh Indonesia, Pameran Benda-benda Peninggalan Cheng Ho, Pameran Foto Karya Michael Yamashita (fotografer legendaris dari National Geografic), dan Presentasi Foto dan Kisah Peliputan. Pameran Relik, Seminar, Upacara Ritual & Seremonial, serta Acara Kebudayaan.

Gubernur Mardiyanto dalam diskusi itu melontarkan pertanyaan yang menggelitik, ''Laksamana Cheng Ho milik siapa?''

Meski Mardiyanto mengaku tidak terlalu mengenal tokoh yang satu ini, dia merasa Cheng Ho telah menjadi bagian dari sejarah kaum etnik keturunan Tionghoa di Semarang dan Indonesia pada umumnya.

''Cheng Ho bukan milik siapa-siapa, namun menjadi milik orang yang peduli terhadapnya,'' katanya. Namun, tambahnya, Cheng Ho merupakan tokoh yang pluralistik dan sukup toleran di dalam melakukan perjalanan.

Marie Pengestu mengatakan, sangat mendukung adanya event ini, mengingat semangat pluralisme yang dibawa sangat penting. Dia juga mengungkapkan, ada tiga hal yang dapat dipetik dari peringatan, pertama adalah hubungan antara Cheng Ho dan perdagangan, mencoba mengingat peran Cheng Ho dalam perdagangan, dan ketiga apa yang bisa kita harapkan ke depan dari acara ini.

Cheng Ho, menurutnya, membawa pemikiran budaya dan mencerminkan adanya sikap toleransi.

Kaitannya dengan perdagangan, lebih lanjut Mari mengatakan, ''Perdagangan akan menguntungkan jika ada investasi yang terbuka.'' Dan Indonesia termasuk yang paling terbuka dan toleran terhadap masuknya perdagangan dan kebudayaan.(aih,bn-29t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA