logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 NASIONAL
Line

Kutai Kartanegara Pascapilkada Langsung (1)

Kembalinya ''Robinhood'' dan Sejuta Impian Rakyat


INDAH: Pemandangan di pusat kota Tenggarong, ibu kota Kukar, yang indah dan damai seusai pilkada. Kontras dengan situasi sebelum pilkada yang panas dan diwarnai banyak demo. Inset: Syaukani HR. - SM/Zaini Bisri

Wartawan Suara Merdeka A Zaini Bisri selaku Wakil Ketua Umum Tim Pemantau Pilkada (TPP) Mapilu-PWI Jateng selama tiga hari, 8-10 Juni lalu, berkunjung ke Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. Bersama rombongan Komisi A DPRD Jateng dan pengurus Mapilu lainnya, dia mengamati perkembangan Kutai Kartanegara pascapilkada langsung pertama di Indonesia pada 1 Juni lalu. Berikut laporannya.

IKLAN sosialisasi pasangan calon bupati/wakil bupati Kutai Kartanegara (selanjutnya disingkat Kukar), Drs H Syaukani HR MM dan Drs Syamsuri Aspar MM, di SCTV mengejutkan banyak orang. Sebegitu pentingkah pilkada di Kukar, sehingga dari nun jauh di sana orang perlu mempublikasikan pencalonannya lewat layar kaca? Seberapa besar kekayaan Syaukani sehingga dia mampu membayar iklan di televisi pusat?

Mungkin bukan secara kebetulan, kalau momentum pilkada langsung pertama di Indonesia dimulai dari Kukar. Kabupaten seluas 28.972,98 km persegi dengan 18 kecamatan ini, memang perkembangannya unik.

Di bawah kepemimpinan Syaukani bersama Syamsuri Aspar sebagai bupati dan wakil bupati Kukar 1999-2004, daerah ini berkembang fantastik. Dari kabupaten peringkat 108 dengan APBD hanya Rp 200 miliar pada 2001, Kukar kini menjadi kabupaten terkaya dengan APBD Rp 2,7 triliun, melampaui APBD Kaltim yang hanya Rp 2,1 triliun.

''Semua ini berkah otonomi daerah,'' kata Ketua DPRD Kukar H Bachtiar. ''Dengan otonomi daerah, mulai tahun 2001 kami bisa menggali potensi kekayaan alam Kutai Kartanegara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.'' Kukar kemudian ditetapkan sebagai pilot project otonomi daerah di Kaltim.

Harus diakui, perubahan wajah Kukar tak bisa dilepaskan dari peran Syaukani. Buktinya, dengan kekayaan alam yang tidak jauh berbeda, Kutai Barat dan Kutai Timur sebagai wilayah pemekaran Kabupaten Kutai pada akhir 1999, tidak berkembang seperti Kukar. Di bawah Syaukani, Kukar menjadi kaya lewat eksploitasi tambang emas, batu bara, minyak, dan sarang burung.

Perubahan Tenggarong

Perkembangan Kukar yang paling mencolok tampak di Tenggarong, ibu kota kabupaten berpenduduk 549.213 jiwa. Jika Anda memasuki Tenggarong dari Samarinda, ibu kota Provinsi Kaltim, lewat jalan baru yang dibangun Syaukani sepanjang 30 km, tahulah Anda di mana posisi kabupaten ini di tengah kabupaten-kabupaten lainnya di Indonesia. Jalan beton yang naik-turun perbukitan ini tentu dibangun dengan biaya yang tidak sedikit. Konon bahan semen sepenuhnya didatangkan dari Gresik.

Jalan ini merupakan jalan tembus Samarinda-Tenggarong yang jika ditempuh menggunakan mobil hanya perlu 30 menit. Bandingkan dengan melewati jalan lama menyisir Sungai Mahakam, yang bisa memakan waktu 90 menit.

Di ujung jalan segera tampak kemegahan dan keindahan Tenggarong. Pemandangan pertama yang mencolok adalah jembatan gantung Sungai Mahakam II yang menyerupai jembatan Golden Gate di AS. Jembatan yang membentang di atas Sungai Mahakam dengan lebar sekitar satu kilometer ini, dibangun Syaukani dengan biaya Rp 960 miliar. Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Se-Indonesia (Apkasi) 2000-2004 itu juga membangun planetarium di Tenggarong yang menghabiskan dana Rp 25 miliar.

Di bawah jembatan di tengah Sungai Mahakam, membentang Pulau Wisata Kumala seluas 75 hektare dengan berbagai fasilitasnya yang modern.

Antara lain sky tower yang dilengkapi lift, kereta gantung (cable car), arena bermain, taman, dan juga bertengger patung perunggu Lembu Swana berbiaya Rp 37 miliar yang merupakan simbol Kerajaan Kutai.

Konon, Syaukani lewat program ''Gerbang Dayaku'' (Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai) ingin menjadikan Kukar seperti Singapura: negara dengan jumlah SDM sedikit tapi maju. Maka, dibuatlah proyek-proyek mercusuar tadi untuk menyulap Tenggarong menjadi kota wisata. Untuk memacu kemajuan wilayah pedesaan, tiap desa disubsidi Rp 2 miliar.

Untuk memajukan SDM, siswa SD hingga SMA dibebaskan dari SPP dan mahasiswa yang tidak mampu dibantu. Tiap guru negeri dan swasta mendapat tambahan honor Rp 500.000 per bulan. Di perusahaan-perusahaan kontraktor asing, Syaukani menetapkan prioritas pekerjanya harus putra daerah, kecuali untuk jenis keterampilan yang tidak dimiliki putra daerah.

Bukan hanya itu, setiap warga yang tidak mampu berhak pula atas sumbangan dari Pemkab Kukar. ''Tiap hari ada warga tidak mampu yang meminta sumbangan ke sini dan pasti kami sumbang,'' kata Penjabat Bupati Kukar Hadi Susanto saat menerima kedatangan rombongan Komisi A DPRD Jateng dan Mapilu, di kantornya, Kamis (9/6) lalu.

Kontroversi Syaukani

Sukses mengubah Kukar menjadi kabupaten yang kaya bukan saja membuat popularitas Syaukani melambung, melainkan juga dianggap pahlawan oleh rakyatnya.

Dia ibarat conveyor bagi sejuta impian rakyatnya. Wajar bila akhirnya dia terpilih kembali menjadi Bupati Kukar. Kemenangannya akan diumumkan 15 Juni lusa dan akan dilantik 8 Juli.

Namun, sarjana ekonomi lulusan Universitas Jember dan magister manajemen jebolan Unsoed yang kini menempuh S3 di IPB ini juga sekaligus tokoh yang kontroversial. Oleh sebagian orang di sana, Syaukani dijuluki sebagai Robinhood, karena cara-caranya dalam mengeksploitasi kekayaan alam Kukar.

Panasnya suhu politik di Tenggarong menjelang pilkada tidak bisa dilepaskan dari kontroversi dan keterlibatan Syaukani. Proyek-proyek mercusuarnya sulit dibedakan apakah merupakan program pemerintahannya atau ambisi pribadinya. Syaukani pun dituding melakukan banyak penyimpangan anggaran.

Dalam pertambangan batu bara misalnya, Pemkab Kukar memang meraup pendapatan besar, apalagi dengan harga batu bara yang melambung tinggi 40 dolar AS per kilogram sejak 2003 lalu seperti diungkapkan Hadi Susanto. Namun Syaukani sebagai pemegang kontraknya tentu juga menikmati limpahan dolar. Dari situ dia membangun Hotel Singgasana dan Hotel Lesung Batu di Tenggarong.

Perseteruan antara Syaukani dan Gubernur Kaltim Suwarna AF naga-naganya berkisar pada persaingan memperebutkan kekayaan daerahnya. Konon, Suwarna tidak suka terhadap Syaukani, karena Syaukani mengungkap indikasi korupsi Suwarna di sektor perkebunan kelapa sawit, salah satu andalan pendapatan asli daerah (PAD) Kaltim.

Perseteruan itu memuncak saat Awang Dharma Bakti diangkat sebagai Penjabat Bupati Kukar menggantikan Syaukani yang habis masa jabatannya per November 2004. Hampir setiap hari terjadi demo pro-kontra penunjukan Kepala Dinas PU Kaltim itu yang disebut-sebut ''orangnya'' Suwarna.

Pelantikan Awang pun gagal dilaksanakan di Tenggarong, karena rombongan Gubernur diadang pendukung Syaukani. Awang akhirnya dilantik di Samarinda.

Situasi Tenggarong yang panas bisa diredam, setelah Maret lalu Mendagri merevisi keputusannya dengan menarik Awang dan menggantikannya dengan Hadi Susanto sebagai Penjabat Bupati Kukar. Stabilisasi inilah yang kemudian mengantar pilkada Kukar berlangsung aman, tertib, dan sukses.(41t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA