logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 NASIONAL
Line

Ribuan SMS Serbu Ponsel SBY


SBY - SM/dok

JAKARTA-Sesaat setelah tersiar lewat media massa bahwa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono siap menerima pengaduan dari masyarakat melalui SMS selama 24 jam nonstop, maka ribuan SMS "menyerbu" ke ponsel Presiden SBY bernomor 0811-109-949. Nomor ponsel itu juga didokumentasikan di phonebook ponsel masyarakat.

Sepanjang sejarah Indonesia, baru Presiden SBY-lah yang mengumumkan nomor teleponnya kepada publik. Pengumuman itu disampaikannya dalam temu wicara dengan para petani dan nelayan di Jatiluhur, Jawa Barat, Sabtu siang (11/6).

Bisa jadi, karena terlalu banyak yang mengontak, ponsel SBY tersebut mengalami masalah. Ketika ditelepon, yang terdengar justru nada tulalit...tulalit.

"Ponselnya sibuk melulu. Kirim SMS juga tidak ada report-nya," lapor seorang pendengar radio swasta di Jakarta, Sabtu malam lalu.

Pada Minggu (12/6) hal serupa juga terjadi. Bahkan, nomor ponsel itu tidak bernada sibuk, tapi malah tulalit. "Jangan-jangan nomornya sudah ganti?" tanya Ayu, warga Paseban, Jakarta Pusat, dengan nada kecewa.

Adri, warga Jl Kramat Raya, Jakarta, juga belum berhasil menyampaikan unek-uneknya pada RI-1. "Saya telepon, dijawab operator, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi," ceritanya.

Saat menanggapi sulitnya menghubungi ponsel SBY, Jubir Presiden Andi Mallarangeng menjelaskan, ponsel SBY hang (mengalami gangguan).

"Hang-nya tadi pagi," kata Andi Mallarangeng saat dikonfirmasi pukul 11.00, Minggu (12/6).

Ponsel SBY ngadat karena terlalu banyak SMS yang masuk. Jumlahnya ribuan. SMS berebutan masuk sesaat setelah SBY mengumumkan nomor ponselnya pada Sabtu siang di Jawa Barat. "Sistemnya jadi kacau, karena overloaded," ujar Andi.

Atas kengadatan ponsel itu, pria berkumis itu meminta maaf. "Kami meminta maaf pada seluruh rakyat Indonesia akibat kejadian ini. Kami sedang berusaha mencari cara bagaimana membuat sistem yang bisa menampung banyak pesan. Misalnya dengan sistem komputer," urainya.

Ponsel SBY sebelumnya memang sering menerima laporan dari masyarakat. Tapi jumlahnya tidak sebanyak dua hari belakangan ini.

Pada saat temu wicara hari Sabtu, Presiden mengemukakan, beberapa waktu lalu ada seorang guru honorer dari Kabupaten Pati yang mengirimkan sms kepadanya, mengeluhkan honor empat bulan yang belum diterimanya. Segera setelah itu SBY mengecek langsung ke Mendiknas Bambang Sudibyo, menanyakan mengapa masalah itu bisa terjadi.

Dari Mendiknas diperoleh keterangan, pada bulan Desember 2004 honor guru tersebut sudah dikirimkan. Hanya untuk bulan Januari hingga Maret 2005 belum dikirimkan karena dananya belum turun dari pusat.

SBY pun menyampaikan informasi itu kepada guru tersebut dan berpesan agar honor tiga bulan terakhirnya dirapel (dibayar sekaligus). Ketika ternyata guru itu tidak bisa merapel honor tiga bulannya, dia kembali mengirimkan sms kepada Presiden. "Pak, katanya dirapel," cerita SBY disambut tawa hadirin.

Ponsel SBY bernomor 0811-109-949 selama ini dibawa ajudan. "Nanti kalau ada perubahan nomor atau sistem, pasti kami umumkan kepada masyarakat," janjinya.

Sementara itu, Presiden SBY sudah tahu bahwa ponselnya hang karena terlalu banyak SMS yang masuk. Apa reaksinya? "Presiden ya tersenyum," ujar Andi Mallarangeng, sambil terkekeh.

Presiden tidak mengira begitu dia mengumumkan nomor ponselnya 0811-109-949 yang terbuka 24 jam pada Sabtu, masyarakat langsung menyerbunya dengan pesan singkat. "Presiden tidak menyangka respons masyarakat luar biasa tinggi."

Lalu apa saja isi SMS itu? Isinya mulai yang simpel-simpel hingga laporan yang cukup berat. "Ada yang cuma tanya kabar Pak Presiden, menyatakan dukungan pada pemberantasan KKN, dan ada yang memberikan informasi situasi di daerahnya. Macam-macamlah," tuturnya.

Namun SMS yang datang lebih banyak sekadar coba-coba. Misalnya, sekadar menanyakan kabar kesehatan SBY. "Mungkin karena masih baru," kata pria yang sebelumnya dikenal sebagai pengamat politik ini.

"Info-info yang tidak relevan, atau problema yang bisa diselesaikan oleh Pak Camat, Pak Lurah, RT/RW, atau pejabat daerah setempat, sebaiknya tidak usah disampaikan. Kirimlah SMS pada kasus-kasus yang memerlukan intervensi Presiden, yang tidak mampu diselesaikan daerah," katanya.

Semalam jubir Andi Mallarangeng menyatakan Presiden menginstruksikan agar disiapkan lima ponsel baru untuk menampung kiriman aduan masyarakat. Nomor ponsel dan sistem pengiriman akan diumumkan sesegera mungkin. (dtc,ant-41t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA