| Senin, 13 Juni 2005 | KEDU & DIY |
Buku ''Di Bawah Bendera Revolusi''Pernah Ditawarkan Rp 100 JutaYOGYAKARTA- Buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Presiden pertama RI Soekarno, selesai dicetak untuk kali kelima oleh Yayasan Bung Karno (YBK) dan Badan Pengelola Bung Karno (BPBK) Jakarta. Buku tersebut dijual dengan harga Rp 250.000 per buah, tetapi bagi mahasiswa dan pelajar yang ingin memilikinya hanya dikenakan biaya separo. Buku tersebut pernah menjadi buku wajib tetapi kemudian mengalami penurunan, ketika era Orba dan era reformasi buku DBR menjadi langka, bahkan menjadi komoditi yang harganya waktu itu sampai ditawarkan orang Rp 100 juta. Hal itu dijelaskan oleh Ketua Umum YBK Guruh Soekarnoputra, Sabtu lalu, seusai menyerahkan sumbangan buku tersebut kepada Perpustakaan UGM di Yogyakarta. Sumbangan itu diterima oleh Kepala Perpustakaan UGM Drs Ida Fadjar Priyanto MSi, disaksikan Kepala Bidang Humas dan Keprotokolan UGM Drs Suryo Baskoro Ms mewakili Rektor UGM. Menurut Guruh, pertama kali DBR dicetak tahun 1959, disusul cetakan kedua tahun 1962, 1964, dan 1965 serta baru tahun 2005 bisa dicetak kembali. Sebab, saat itu iklim politik tidak mendukung serta kendala biaya yang besar. Buku itu berisikan himpunan tulisan, pidato-pidato, dan pemikiran-pemikiran Bung Karno sejak Indonesia mencapai kemerdekaannya dan akan dibawa ke mana negeri ini. Buku DBR dicetak dalam dua bahasa yaitu Indonesia dan Inggris. YBK didirikan oleh delapan putra-putri Bung Karno, yang saat ini sedang mengupayakan untuk mendirikan sebuah tempat guna menampung seluruh koleksi Bung Karno. Termasuk benda-benda seni dan juga koleksi buku-bukunya, yang menurut keinginan almarhum untuk dipersembahkan kepada seluruh rakyat Indonesia, bukan diturunkan kepada ahli warisnya. Sosialisasi Tempat itu diberi nama Persada Soekarno atau Soekarno Centre, yang sebenarnya sudah mendapat tempat di kompleks Gelora Bung Karno di Senayan Jakarta yaitu di Graha Pemuda. Di mana dahulu Menteri Pemuda dan Olahraga berkantor, yang pada 2004 lalu pengelolaannya diserahkan kepada YBK dengan sebuah Keppres. Namun mungkin karena ada pergantian politik dan sebagainya, sekarang ini Graha Pemuda tersebut ditempati kembali oleh Menegpora. ''YBK akan mengadakan serangkaian pembicaraan dengan pemerintah mengenai pengelolaan tempat tersebut,'' kata Guruh. Karena itu, pada 6 Juni lalu diputuskan untuk mendirikan perpustakaan Bung Karno di tempat sementara di Gedung Bola Jalan Proklamasi 66 Jakarta. ''Kami mohon UGM dapat memelopori sosialisasi mengenai ajaran-ajaran Bung Karno. Dengan demikian, UGM dapat melahirkan mahasiswa yang betul-betul mengabdikan seluruh jiwa raganya kepada Indonesia tercinta ini.'' (P12-55s) |