logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 KEDU & DIY
Line

Jangkrik Juga Dibutuhkan untuk Kosmetik

PENGGEMAR unggas, terutama burung berkicau tak asing lagi dengan jangkrik. Serangga yang bisa menggerakkan sayapnya hingga berbunyi krik...krik tersebut menjadi menu favorit, selain kroto, bagi burung berkicau. Namun belum banyak yang tahu kalau sebenarnya jangkrik tak hanya sebagai pakan burung, tetapi bisa untuk bahan jamu maupun kosmetik.

Bagi para peternak jangkrik yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Jangkrik Indonesia (Astrik), serangga itu memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Jangkrik memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, yakni 57,32 persen.

Hasil penelitian Litbang Astrik yang dilakukan oleh Ir Ptayitno MSi dan teman-temannya dari Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menyebutkan, jangkrik juga mengandung senyawa kimia asam amino yang sangat diperlukan dalam proses pembentukan GSH (glutation) dan berfungsi sebagai antioksida alami tubuh manusia.

Penelitian itu juga menyebutkan bahwa jangkrik memiliki kandungan hormon progesteron 105,49 ppm, testosteron 31,78 ppm, dan estrogen 259,535 ppm. Bahkan mampu menghasilkan sumber energi 4,87 kalori/gram, di atas bahan makanan yang lain seperti kandungan sumber energi dalam jagung 2,73 kal/gr, gandum 4,05 kal/gr, daging atau ikan 4,27 kal/gr, dan telur 4,36 kal/gr.

Berbagai kandungan, terutama protein jangkrik dan hormon yang tinggi itulah membuat jangkrik diburu untuk kepentingan industri pakan ternak, jamu, maupun kosmetika.

Marketing and Purchasing Manager Astrik, Ika Nurwidya SE mengungkapkan, para peternak masih kesulitan memenuhi kebutuhan pasar. Dia memberikan contoh, salah satu industri pakan ternak di Jawa Timur saja membutuhkan 50 ton jangkrik kering setiap dua minggu.

''Masih ditambah lagi permintaan industri pakan lainnya, jamu, dan perusahaan kosmetik yang tersebar di pulau Jawa. Permintaan jangkrik bisa mencapai 200 ton setiap minggu. Namun kita hanya mampu mencukupi 500 kg sampai satu ton saja,'' papar Ika.

Sangat Terbuka

Manajer Riset dan Pengembangan Astrik, Bagus Sigit Bayu mengakui pasar jangkrik masih sangat terbuka. Hanya saja produsen pakan ternak, jamu, dan kosmetika memerlukan jangkrik dengan kualitas baik yang kandungan proteinnya terjaga.

Pihaknya membuat standardisasi dan metode budidaya secara terpadu untuk menjaga kualitas. Astrik saat ini mengembangkan peternak kemitraan melalui divisi-divisi yang didirikan di 44 kabupaten yang saat ini sudah memiliki 1.000 peternak.

Astrik menyediakan telur, pakan, dan boks untuk sarang bagi peternak yang menjadi anggota. Mereka membayar Rp 1,4 juta dan mendapatkan fasilitas sepuluh boks sarang seharga Rp 10.000/ boks, telur empat ons yang satu onsnya Rp 60.000, pakan 120 kg, dan beban oven Rp 50.000.

Menurut Bayu, paket tersebut rata-rata mampu menghasilkan 80 kg jangkrik setelah dipelihara selama 35 hari. Astrik akan membeli hasil ternakan tersebut dengan harga Rp 30.000/kg. Dalam waktu sebulan, peternak bisa meraih keuntungan Rp 1 juta.

Sejauh ini Astrik tidak menerima jangkrik dari luar anggota kemitraan karena kualitasnya tidak terjamin. Dia pernah mencoba membeli dari peternak umum. Namun ternyata kandungan airnya sangat tinggi yaitu empat kg jangkrik basah setelah dikeringkan hanya menghasilkan satu kg. (Agung PW-39d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA