| Senin, 13 Juni 2005 | KEDU & DIY |
Letusan Merapi 1.000 Tahun Lalu Hilangkan 4 Abad Peradaban JawaSABTU (11/6) sore Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X melacak jejak sejarah letusan Gunung Merapi 1.000 tahun silam ke daerah Kabupaten Magelang. Dia meninjau beberapa lokasi yang diperkirakan tenggelam oleh material vulkanik. Didampingi Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Dr Ir Sari B Kusumayudha yang juga Ketua Panitia Vulcano International Gadering dalam rangka memperingati 1.000 tahun meletusnya Gunung Merapi, Raja Mataram itu mengidentifikasi Tempuran (pertemuan aliran) Kali Progo dan Kali Elo di wilayah Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur. Fondasi tanah di sebelah atas dan bawah memiliki struktur yang berbeda. ''Strukturnya di sini kan lava. Kira-kira tenggelam 10 meter lebih. Logis saja, pada waktu itu Bodobudur ataupun Prambanan diperkirakan tenggelam,'' ungkapnya. Akibat letusan Merapi pada Abad X, tutur Sri Sultan, penduduk Jateng bagian selatan serta Yogyakarta berpindah ke Jawa Timur. Di sana ada Singosari dan Majapahit. Saat itu semua masih Hindu. Lalu pindah ke Demak, Pajang, dan Mataram. Kembali lagi kira-kira akhir Abad XIII atau awal Abad XIV. Karena itu, selama sekitar 400 tahun peradaban masyarakat Jateng bagian selatan dan Yogyakarta tak diketahui. Yang ditemukan adalah situs-situs candi untuk tempat beribadah. Dalam rangka 1.000 tahun melestusnya Gunung Merapi, Sri Sultan HB X bermaksud menguak misteri peradaban yang hilang selama empat abad tadi melalui seminar sejarah dengan mengundang para pakar dari mancanegara. Pakar vulkanologi diminta lebih dulu mengunjungi lokasi yang menjadi jejak bencana alam 1.000 tahun silam dengan harapan secara faktual mereka bisa melihat kondisi saat ini dengan struktur tanah yang berbeda-beda. Gubernur DIY itu ingin mengembangkan hal itu sebagai suatu alur sejarah dan akan mengangkat peradaban Jawa yang hancur karena Merapi. Sebab, ada benang merah yang dianggap perlu dilihat. ''Saya hanya ingin memberikan suatu nuansa agar pemerintah hati-hati untuk merehabilitasi dan rekonstruksi Aceh karena tsunami. Jika tidak hati-hati, dikhawatirkan peradaban masyarakat Aceh juga hilang,'' ujarnya. Dengan disertai Bupati Magelang Ir H Singgih Sanyoto, Wabup Drs H Hartono, dan Ketua DPRD HA Labib SE, Sri Sultan HB X meninjau sumur air asin di Desa Candirejo. Di tempat itu, Dr Helmi Purwanto, Pembantu Dekan III Fakultas Geologi UPN Yogyakarta, mengemukakan, ada bongkah-bongkah di sumur air asin yang dinamakan breksia. Borobudur Breksia dikatakan sebagai produk gunung api tetapi yang dimaksudkan bukan Gunung Merapi melainkan bagian dari gunung api tersier di selatan Menoreh dan tersesarkan. Sesar turun dan pucuknya yang terlihat. ''Pada waktu Borobudur menjadi danau, wilayah ini merupakan pulau. Pulau di antara danau. Karena usianya tua dan sering kena tektonik lalu jadi sesar sehingga ada retakan ada pergeseran.'' Sesar kekar itu menjadi jalannya air asin keluar gas rawa. Gas rawa yang muncul tampak plendas-plendus. Air asin Candirejo itu sudah diteliti di laboratorium. Kandungan Na Ca memang tinggi. Jejak akibat letusan Merapi 1.000 tahun lalu juga ditelusuri ke Kalasan dan Prambanan. (Tuhu Prihantoro-55j) |