logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 KEDU & DIY
Line

Mutu Pendidikan di Yogyakarta Merosot

YOGYAKARTA- Sangat disayangkan Yogyakarta sebagai kota pelajar, kenyataannya mutu pendidikan di sana cenderung merosot. Kondisi demikian ini membuat predikat itu menurun. Apabila kondisi ini tidak segera dibenahi, dikhawatirkan predikat sebagai kota pelajar akan segera hilang.

Ketua Dewan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ir Yuwono Sri Suwito menyatakan itu di hadapan peserta "Refleksi Semangat Kebangkitan Kebangsaan" di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, Sabtu (11/6). Turut bicara Wakil Gubernur DIY KGPAA Sri Paduka Paku Alam IX dan Ir Bayudono MSc, Kepala Bapeda Pemprov DIY.

''Apa yang saya sampaikan ini berdasarkan hasil angket dari masukan kuesioner Prof Dr Adi Susanto MSc, yang dilakukan pada Januari 2005 lalu,'' tutur Yuwono Sri Suwito, yang juga dikenal sebagai pemerhati budaya.

Penyebab penurunan citra Yogyakarta sebagai kota pelajar, disebabkan banyaknya peredaran barang haram seperti narkoba. Hal ini terjadi karena Kota Gudeg itu merupakan pusat berkumpulnya generasi muda yang datang dari berbagai daerah yang sedang menimba ilmu.

Bagi para pengedar barang haram tersebut, daerah ini menjadikan pasar potensial khususnya dalam peredaran narkoba. Susahnya lagi, para generasi muda penerus bangsa ini juga mudah tergiur. Banyak di antara mereka tidak selesai kuliahnya, karena sebagian masa hidupnya terpaksa dihabiskan di penjara.

Kumpul Kebo

Selain itu, kata Yuwono, banyak generasi muda selama menyelesaikan studinya melakukan kumpul kebo. Hal ini terjadi karena banyak rumah kos-kosan yang tidak ditunggui induk semangnya atau pemiliknya.

Kondisi demikian ini menyebabkan para mahasiswa atau pelajar yang bertempat tinggal di rumah kos-kosan bebas memasukkan orang ke dalam kamar pribadinya. ''Semua ini salah satu kenapa citra Yogyakarta sebagai kota pelajar menurun,'' ungkapnya.

Kondisi ini, papar Yuwono, masih diperparah dengan mahalnya biaya pendidikan. Sepertinya, perguruan tinggi sudah mengarah mencari keuntungan. Hal ini dibuktikan dengan mahalnya biaya pendidikan di daerah ini. ''Sekarang ini sepertinya di Yogyakarta tidak ada biaya kuliah yang murah, hampir semua perguruan tinggi mahal,'' tambahnya.(sgt-55s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA