| Senin, 13 Juni 2005 | KEDU & DIY |
Pembangunan Ambarukmo PlazaTidak Korbankan Peninggalan HB VIIIYOGYAKARTA - Kekecewaan pemerhati budaya dan kalangan arsitek terhadap pembangunan Ambarukmo Plasa terobati, setelah Pengageng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KGPH Hadiwinoto menegaskan, tidak akan membongkar gandok ataupun pendapa di kompleks Ambarukmo Palace Hotel. ''Pembangunan itu tidak bakal membongkar gandok ataupun pendapa di kompleks Ambarukmo. Kenapa saya berani mengatakan demikian? Sebab, sayalah yang menandatangani surat pembangunan itu,'' ungkap KGPH Hadiwinoto di hadapan peserta Sarasehan ''Dinamika Pelestarian dan Pembangunan Kota Yogyakarta'' di ruang utama bawah kompleks Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (11/6). Sarasehan yang diselenggarakan Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia Yogyakarta, Jogja Heritage Society, Yogyakarta Heritage Trust, dan Yayasan Pondok Rakyat tersebut agak terusik ketika mendengar pembangunan Ambarukmo Plasa akan membongkar gandok dan pendapa. Seperti diberitakan, di sebelah barat Hotel Ambarukmo kini sedang dibangun pusat perbelanjaan terbesar di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan demikian, wajar apabila pemberhati budaya dan arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia Yogyakarta agak keberatan. Sebab, dengan hilangnya bangunan tersebut maka ciri khas Yogyakarta sebagai kota budaya lambat laun akan hilang. Keraton Yogyakarta, lanjut Gusti Hadi, tidak mungkin akan mengorbankan bangunan peninggalan almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. ''Bagi keraton sendiri, bangunan gandok dan pendapa di kompleks Ambarukmo mempunyai arti tersendiri. Jadi, tidak mungkin akan dibongkar,'' katanya. Perubahan Sejak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri dengan Raja Sri Sultan Hamengku Buwono I hingga sekarang, khususnya pada zaman pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sudah ada perubahan yang sesuai dengan zaman. Perubahan itu terutama ketika keraton mendapat aliran listrik dan air ledeng serta pembenahan Bangsal Pagelaran yang dahulu tidak beratap. Namun setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII naik takhta, di pagelaran dipasangi tratag. ''Ketika Sri Sultan Hamengku Buwono VII berkuasa, itu belum terjadi,'' ujarnya. Perubahan yang mencolok juga terjadi pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pada 1947, beliau mempersilakan Universitas Gadjah Mada memakai Bangsal Pagelaran untuk ruang kuliah hingga UGM mempunyai kampus seperti sekarang ini. Setelah itu, keterbukaan dan perubahan juga dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Buktinya, Bangsal Pagelaran boleh dimanfaatkan untuk umum. (sgt-55j) |