| Senin, 13 Juni 2005 | EKONOMI |
Sekali Panen, Untung Rp 36 JutaKUDUS-Prospek budidaya tanaman Melon di sejumlah desa di Kecamatan Jati, Kudus kini menjadi salah satu primadona usaha bagi penduduk di wilayah itu. Luas area tanaman melon yang mencapai 25 hektare, yang tersebar di Desa Pasuruan Lor, Pasuruan Kidul, Jati Wetan, Jati Kulon, Tumpangkrasak dan Ploso memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pendapatan para petani yang menggarapnya. Seorang petani di Desa Pasuruan Lor, Sutarjo, mengaku dalam satu masa tanam, yang mencapai tujuh puluh hari, dapat meraup keuntungan bersih sebesar Rp 28 juta - Rp 36 juta. Keuntungan tersebut merupakan keuntungan bersih setelah dikurangi ongkos produksi yang mencapai Rp 2.250 - Rp 2.500 per batangnya. ''Satu hektare lahan dapat ditanami tanaman melon sebanyak 16.000 batang - 18.000 batang,'' ungkapnya, kemarin. Selain itu, kalkulasi tersebut diperoleh dengan memperhitungkan harga melon di pasaran melon yang mencapai berat sekitar dua kilogram, seharga Rp 4.000 per kilogramnya. Adapun untuk bibitnya, kata Sutarjo, dibeli dari Purwodadi, dalam kemasan seberat 10 gram yang berisi sekitar 550 biji melon dengan harga pasaran mencapai Rp 109 ribu. ''Hasil ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan bertanam palawija,'' katanya tanpa merinci selisih keuntungan yang didapat dari kedua jenis usaha tersebut. Menurut Camat Jati, Dwi Sutomo SH, yang ditemui di sela panen raya melon di Desa Pasuruan Lor, pada Jumat (10/6) menyatakan, pihaknya memang berupaya untuk mengajak petani lainnya untuk turut membudidayakan andalan sekaligus ciri khas Kecamatan Jati itu. Dengan 25 hektare area yang ditanami tanaman melon, kata dia, pendapatan yang diperoleh petani mencapai Rp 700.000.000 - Rp 900.000.000 dalam waktu usaha yang hanya mencapai 70 hari. Kondisi tersebut, ungkapnya, tentu akan sangat meningkatkan pendapatan para petani yang mengupayakannya. (H8-59) |