| Senin, 13 Juni 2005 | EKONOMI |
Primadona di Jakarta Islamic IndeksDALAM rangka pengembangan pasar modal di Indonesia, Bursa Efek Jakarta telah mengadakan diversifikasi pada beberapa sub pengembangan. Diantara sub pengembangan tersebut yaitu adanya pengelompokan jenis saham yang tergabung dalam Jakarta Islamic Indeks (JII). Di Indonesia, gagasan tentang perlunya Jakarta Islamic Indeks telah diprakarsai oleh Dana Reksa Invesment Managemen (DIM) dan sejak 3 Juli tahun 2000 oleh BEJ secara resmi diberlakukan sebagai suatu tolok ukur bagi perkembangan jenis saham yang sesuai dengan hukum Islam. Jakarta Islamic Indeks ditentukan atas dasar transaksi perdagangan dan perkembangan harga saham dari 30 jenis saham terpilih. Penentuan jenis saham terpilih yaitu atas dasar kriteria memenuhi persyaratan hukum agama serta perdagangan likuid. Sejalan dengan syariah Islam, maka aktivitas usaha yang diperbolehkan yaitu aktivitas usaha yang bukan perjudian, bukan lembaga keuangan yang menggunakan sistem bunga, bukan usaha yang memproduksir barang haram dan bukan usaha yang membawa kemudharatan. Tahun dasar yang digunakan sebagai basis perhitungan Jakarta Islamic Indeks yaitu tanggal 1 Januari tahun 1995 dengan angka indeks sebesar 100. Namun demikian JII secara formal baru diberlakukan terhitung mulai 3 Juli tahun 2000. Perhitungan indeks didasarkan atas kapitalisasi pasar, artinya tergantung perkembangan harga saham dan besarnya jumlah saham yang diperdagangkan. Komposisi 30 jenis saham pada JII tersebar pada 8 sektor yang tercatat di BEJ kecuali sektor keuangan. Penentuan saham primadona pada analisis perusahaan dapat dilihat dari aspek kombinasi antara rasio keuntungan perusahaan dan likuiditas perdagangan. Pada sektor pertambangan hampir semua jenis sahamnya tergabung di JII yaitu saham Timah (TINS), Internasional Nickel (INCO), Tambang Batu Bara Bukit Asam (PTBA), Indocement Tunggal Perkasa (INTP), Bumi Resource (BUMI), Medco Energi International (MEDC), dan saham Energi Mega Persada (ENRG). Saham Bumi Resource (BUMI) merupakan pemimpin saham (stock leader) pada sektor pertambangan. Pada sektor industri dasar dan kimia termasuk di dalamnya jenis saham Semen yaitu saham Gresik (SMGR), semen Cibinong (SMCB), Indocement Tunggal Perkasa (INTP). Jenis saham tersebut pada kuartal pertama tahun 2005 keuntungan perusahaannya mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saham Gajah Tunggal (GJTL) merupakan satu-satunya jenis saham pada sektor Aneka Industri yang tergabung pada Jakarta Islamic Indeks. Saham tersebut merupakan saham yang fundamental keuntungan perusahaannya baik. Saham Ciputra Surya (CTRS) dan saham Kawasan Industri Jabotabek (KIJA) merupakan saham yang terpilih pada Jakarta Islamic Indeks yang berasal dari sektor properti. Pada sektor infrastruktur jenis saham Telkom (TLKM), Indosat (ISAT) dan saham Perusahaan Gas Negara (PGAS) tergolong pada Jakarta Islamic Indeks. Saham Telkom dan Indosat tetap tergolong sebagai saham primadona pada Jakarta Islamic Indeks. Pada sektor perdagangan terdapat empat jenis saham yang termasuk pada JII yaitu saham United Tracktor (UNTR), Limas Stochomindo (LMAS), Multipolar (MLPL) dan Bakri Bother (BNBR). Saham Unitet Tracktor (UNTR) memenuhi syarat sebagai primadona yaitu sebagai pemimin saham dan fundamental keuntungan perusahaan juga baik. Saham pilihan dari sektor pertanian yaitu saham PP London Sumatra (LSIP) dan saham Astra Agro Lestari (AALI). Sedangkan pada sektor barang konsumsi jenis saham Indofood (INDF), Kalbe Farma (KLBF), dan Tempo Scan Pasific (TSPC) memenuhi syarat tergolong pada JII. Pada sektor tersebut pilihan saham primadona jatuh pada saham Kalbe Farma yang merupakan saham likuid dan keuntungan perusahaannya kuartal pertama tahun 2005 meningkat. Ketiga puluh jenis saham yang tergabung dalam JII juga merupakan bagian dari 334 jenis saham yang ditransaksikan di Bursa Efek Jakarta. Dapat terjadi diantara para investor membeli saam yang sama tetapi masing-masing dapat terjadi dengan niat yang berbeda-beda. Dalam agama penilaian kinerja tidak semata ditentukan oleh hasilnya tetapi juga ditentukan oleh kebenaran dalam niatnya. (Dr Sugeng Wahyudi, dosen strategi dan keuangan pada Program MM Undip-59). |