| Senin, 13 Juni 2005 | EKONOMI |
Aset Bank Muamalat Capai Rp 16 MSOLO - Sejak dibuka awal September 2003, pertumbuhan Bank Muamalat Solo mencatat kemajuan yang cukup signifikan. Bank ini mulai dibuka awal asetnya Rp 2 miliar. Pada bulan Mei 2005, aset itu sudah berkembang dan mencapai Rp 16 miliar. Hal itu diungkapkan Operation Officer Bank Muamalat Cabang Solo, Dendy Prasetya pada jumpa pers sehubungan akan diselenggarakannya ''Gelar Potensi Umat 2005'' di Goro Assalam, Pabelan, Sukoharjo 15-19 Juni 2005. Penyelenggara acara ini adalah Bank Indonesia (BI) Solo, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta dan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbesindo). Dendy mengungkapkan, pembiayaan yang mulai dibuka dengan nilai Rp 2 miliar di akhir tahun 2003, terus mengalami pertumbuhan dan pada akhir Mei 2005, posisinya menjadi sebesar Rp 31 miliar. Sedangkan pendanaan yang mulai dibuka dengan nilai Rp 2 miliar, April 2005 lalu sudah mencapai Rp 16 miliar. Sektor pembiayaan, kata dia, lebih banyak dilakukan ke koperasi-koperasi, terutama Koperasi Pegawai Republik Indonesia di Eks Karesidenan Surakarta. ''Hampir 80% sektor pembiayaan kita adalah pada koperasi. Selebihnya pada individual dan usaha,'' katanya. Di sektor usaha, pembiayaan itu belum sampai masuk pada corporate, melainkan masih di tingkat usaha kecil dan memengah (UKM). Sedangkan pendanaan, pihaknya banyak bekerjasama dengan sekolah-sekolah. Target laba tahun ini Rp 1,2 miliar. Kemudian untuk pembiayaan Rp 60 miliar, dan dana pihak ketiga Rp 60 miliar. Sementara itu, Ketua Panitia ''Gelar Potensi Umat 2005'', Ivan Rahmawan SE MSi mengatakan, acara ini diselenggarakan dalam rangka mensosialisasikan lembaga keuangan syariah, khususnya perbankan syariah, sekaligus ajang promosi bagi lembaga terkait, BI Solo dan lembaga pendidikan Islam. Acara ini diharapkan memunculkan sinergi antara institusi bisnis dan lembaga pendidikan. Lebih dari itu dengan adanya lembaga keuangan syariah seperti bank syariah, asuransi syariah, BMT dan lembaga keuangan syariah lainnya yang terus berkembang di wilayah Surakarta ini dapat dijadikan mitra utama lembaga maupun perusahaan khususnya dalam hal pembiayaan dan pendanaan. Ivan menambahkan lembaga keuangan Syariah sebenarnya memiliki prospek pasar yang tak kalah dengan bank umum. Hanya saja, saat ini sosialisasinya masih belum maksimal.(bt-59) |