logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 EKONOMI
Line

BI Antisipasi Peningkatan Nilai Tukar dan Inflasi

SEMARANG- Bank Indonesia (BI) akan melanjutkan kebijakan yang cenderung ketat untuk menjaga stabilitas makro ekonomi khususnya dalam mengendalikan tingkat inflasi dalam jangka menengah. Menurut Pemimpin BI Semarang Amril Arief kebijakan ini ditempuh antara lain dengan menyerap kelebihan likuiditas perbankan secara optimal dan kemungkinan akan adanya kenaikan suku bunga secara bertahap.

Di samping itu, menurut Amril, BI juga akan melanjutkan dan memperkuat langkah-langkah stabilisasi nilai tukar melalui pengendalian sisi permintaan dan sisi penawaran sebagaimana yang sebelumnya telah diimplementasikan melalui kebijakan strerilisasi, pengelolaan valas BUMN, dan penyesuaian ketentuan Posisi Devisa neto (PDN).

''Dengan kebijakan ini diharapkan kestabilan makro ekonomi dapat dikendalikan, meskipun tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi cenderung meningkat,'' kata dia, kemarin.

Keyakinan Konsumen

Sementara itu, hasil survei konsumen BI Mei 2005 di Semarang menunjukkan ekspektasi konsumen terhadap harga barang dan jasa akan meningkat pada 6 bulan yang akan datang. ''Kenaikan harga tertinggi diperkirakan akan terjadi pada kelompok makanan, transportasi, dan komunikasi. Hal tersebut disebabkan adanya pencabutan subsidi pemerintah,'' jelas Amril.

Berdasar indeks survei pada Mei 2005 menunjukkan peningkatan ekspektasi dibanding periode sebelumnya. Bahkan telah terjadi pergeseran ekspektasi pesimis menjadi optimis yaitu pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 90,11 menjadi 101,5. Perubahan ekspektasi ke arah positif terjadi pada Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dari 72,56 menjadi 84.

Sedangkan dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dapat diketahui bahwa masyarakat semakin optimis akan kondisi ekonomi 6 bulan yang akan datang dengan naiknya indeks dari 107,67 menjadi 119.

Consumer Confidence Index juga memperlihatkan adanya optimisme yang lebih besar di banding periode survei sebelumnya.

Namun demikian secara keseluruhan masih terlihat adanya ekspektasi yang pesimis terhadap kondisi ekonomi, penghasilan dan konsumsi dengan indeks dari 95,4 menjadi 99,6. (mhr-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA