logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 13 Juni 2005 BUDAYA
Line

Menyatu dalam Satu Kanvas

PERUPA dari Purbalingga kini bangkit. Itu ditandai dengan pameran bersama dua pelukis senior dan yunior di Rumah Makan Sambas di jantung kota Purbalingga selama sepekan mulai kemarin.

Andi Wahyudi (27) dan Ocong Soeroso (51) tampil seperti anak dan bapak. Keduanya juga menyatu dengan inisial AO, singkatan nama keduanya. Bagi Ocong, pameran itu sebagai pertanda kembali menyelami kehidupan seni rupa, setelah bertahun-tahun absen.

''Saya selama ini aktif di bidang dekorasi dan membuat taman di dalam dan luar negeri,'' ujar lelaki kelahiran 27 September 1954 itu. ''Pameran ini merupakan kulanuwun saya pada perupa di Purbalingga, Jateng, dan nasional, bahwa saya sudah melukis lagi.''

Adapun bagi Andi, pameran itu sebagai ajang unjuk gigi perupa muda yang patut diperhitungkan. Dia bangga memamerkan karya di lingkungan sendiri, setelah sekian lama malang melintang di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Bali.

Meski karya Adi dan Ocong sering terpajang bareng karya pelukis terkemuka, mereka tak malu berpameran di sebuah rumah makan yang belum terkenal. Bahkan beberapa karya terpaksa dipasang di tembok kolam yang rawan kehujanan. Apalagi sangat boleh jadi tak ada turis mampir ke arena pameran, karena lokasinya yang tersembunyi.

Label pameran ''Kerja Sama'' itu membuktikan bahwa mereka tidak cuma bekerja sama memajang lukisan, tetapi juga melukis bersama di atas kanvas 3 x 1 meter. Mereka melukis di hadapan pengunjung saat pembukaan pameran. ''Tema lukisan saya memang kerja sama,'' ujar Andi.

Mereka memanfaatkan cat sederhana, yakni cat tembok. Melukis di atas kanvas dengan cat tembok bukan perkara baru bagi mereka. Itu menampakkan kesederhanaan keduanya. Hasilnya pun cukup bagus. Mereka menghasilkan warna cemerlang, tak kalah dari cat minyak kelas atas.

Pelukis dari Purwokerto Yokh Hartono, Hadi Wijaya, Bungsu, dan Kusnanto yang menonton pameran mengacungkan jempol atas kebersamaan pelukis di Purbalingga. ''Saya senang mereka bisa bekerja sama pameran. Pelukis dari Purwokerto bisa bergabung dengan Purbalingga,'' kata Yokh.

Cukup banyak lukisan dipamerkan Andi dan Ocong. Mereka pun memperlihatkan kemampuan melukis dalam berbagai aliran, dari ekspresionis, natural, sampai surealis. Kekuatan warna Ocong diimbangi kekuatan goresan kuas Andi. Tak ayal, pameran itu seolah-olah menampilkan karya seorang pelukis.

Ada 80 lukisan dipajang. Ocong lebih banyak mengangkat tema kritik sosial. Dalam lukisan "Batas-Membatasi", misalnya, dia bercerita soal kesenjangan sosial sejak zaman kerajaan, kolonialis, sampai sekarang yang disebut zaman edan.

Andi menampilkan lukisan penuh makna. Dalam lukisan "Tidak Ada Ruang Gerak", dia menggambarkan dua orang berebut dan saling melangkahi untuk mencapai tujuan dan harapan. Itulah realitas kehidupan sehari-hari di sekitar kita. (Khoerudin Islam-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA