| Senin, 13 Juni 2005 | BANYUMAS |
eling elingKomunitas Seniman TradisionalBANJARNEGARA-Wakil Bupati Hadi Supeno menyarankan seniman tradisional membentuk wadah berhimpun. Jadi mereka mempunyai kekuatan lebih untuk memberdayakan diri. Dia mengemukakan hal itu dalam acara "Temu Kangen Seniman-Seniwati Tradisional" di Desa Kecitran, Kecamatan Purworejo Klampok, baru-baru ini. Saran itu dia lontarkan saat menanggapi keluhan para seniman mengenai seni tradisional yang terancam punah. Mereka merasakan pembinaan dari pemerintah tak menyentuh langsung kelompok-kelompok kesenian tradisional.(mos-53) Satpol PP Garuk Orang Gila PURWOKERTO- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Banyumas, Kamis (9/6), menangkap orang gila yang keluyuran di jalan-jalan utama Purwokerto. Operasi melibatkan 20 personel yang dipimpin Kepala Kantor Satpol PP Bambang Setijono. Mereka menangkap lima orang gila, terdiri atas tiga perempuan dan dua lelaki. ''Mereka langsung kami kirim ke bangsal jiwa RSUD Banyumas.'' (G23-53) Pelatihan Perlindungan Masyarakat BANJARNEGARA-Sebanyak 9.000 personel perlindungan masyarakat mengikuti pelatihan penanggulangan bencana alam, baru-baru ini. Pelatihan dipusatkan di desa-desa rawan bencana. Sebab, Banjarnegara merupakan kawasan rawan longsor dan gas beracun, terutama di Dieng. Kepala Bagian Perlindungan Masyarakat Untung Samekto mengharapkan peserta memperoleh bekal pengetahuan dan keterampilan untuk menanggulangi bencana alam. (mos-53) Parkir di Jalan Masjid PURWOKERTO- Lahan parkir kendaraan bermotor di Jalan Masjid, Purwokerto, dinilai merampas hak masyarakat, terutama pemakai jalan. ''Sebab, lahan parkir itu berada di dua sisi sehingga mempersempit ruang gerak kendaraan yang lewat,'' ujar Hendarto Eko, Ketua Program Magister Sains Ilmu Lingkungan Unsoed Purwokerto. Sebenarnya, kata dia, jalan itu dibuat dengan dana APBN untuk memberikan pelayanan transportasi terbaik ke masyarakat. Hal serupa terjadi di depan Rita, Jalan Jenderal Suprapto. ''Semestinya Rita menyediakan lahan parkir memadai.'' (P52-53) Jembatan Bambu Swadaya BANJARNEGARA - Warga Dusun Balaran, Desa Merden, dan Dusun Tempuran, Desa Karanganyar, Kecamatan Mandiraja, membangun jembatan bambu secara swadaya. Jembatan yang dibangun dengan biaya Rp 4 juta itu menghubungkan kedua desa yang terpisah oleh Sungai Parakan. Lalu lintas perekonomi daerah penghasil gula kelapa bermutu itu kini makin lancar. Kepala Desa Karangtengah, Suwardji, menyatakan pembangunan jembatan itu membuat perjalanan ke Pasar Merden makin mudah. Sebelumnya, warga desa harus menyeberangi sungai untuk menuju ke pasar atau memutar sejauh 4 km. Dia berharap pemerintah memberikan perhatian karena masyarakat berencana membangun jembatan permanen.(mos-53) |