| Senin, 13 Juni 2005 | BANYUMAS |
Kedokteran Tak Cuma untuk Orang BerduitPURWOKERTO-Program Pendidikan Dokter (PPD) Unsoed Purwokerto bukan cuma untuk anak konglomerat, anak dokter, dan kalangan berduit lain. Banyak juga anak petani, guru, dan pegawai negeri sipil (PNS) diterima. Bahkan tahun ini Unsoed menerima 13 mahasiswa berprestasi tanpa tes dalam program itu. Dekan PPD Dokter H Mambodiyanto SH MMR mengemukakan hal itu saat tatap muka dengan 95 orang tua calon mahasiswa, Sabtu (11/6). ''Saya diminta Rektor meluruskan persepsi keliru itu. Uang atau sumbangan terbesar bukan yang paling menentukan dalam penerimaan calon mahasiswa,'' ujarnya. Dia mengakui program pendidikan yang baru berusia empat tahun itu memang membutuhkan dana cukup besar untuk pengembangan. Baik untuk pembangunan ruang kuliah, laboratorium, gedung dekanat, maupun fasilitas penunjang lain. Juga untuk memperbaiki honor staf pengajar. Dia mengemukakan honor pengajar selama ini hanya Rp 17.500/jam. Padahal, jika mereka mengoperasi pasien pada waktu yang sama bisa memperoleh Rp 2 juta. ''Karena itu perlu perbaikan honor. Apalagi mulai tahun ini kami menerapkan kurikulum berbasis kompetensi. Setiap dosen maksimal hanya boleh membimbing delapan mahasiswa.'' Padahal, dana dari pemerintah sangat terbatas, hanya sekitar 5%. Sisanya ditanggung orang tua mahasiswa. Namun di tengah keterbatasan itu, pendidikan dokter Unsoed meraih akreditasi A. ''Itu sangat membanggakan karena kedokteran yang mendapat akreditasi A hanya sembilan perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Unair, dan Universitas Hasanudin.'' Gotong Royong Pembantu Dekan IV Bidang Pengembangan Dokter H Hendro Boedhi Hartono SpOg menyatakan untuk menutup kekurangan dana itu, orang tua mahasiswa menyumbang secara gotong royong. ''Yang lebih mampu menyubsidi yang kurang mampu.'' Dia mencontohkan pada tahun akademik 2004-2005 partisipasi orang tua mahasiswa Rp 6,3 miliar. Adapun rencana anggaran tahun 2005-2006 sekitar Rp 8,2 miliar, bantuan pemerintah diperkirakan hanya Rp 500 juta. ''Kekurangan Rp 7,7 miliar itu kami serahkan ke orang tua mahasiswa untuk memikirkan.'' Dana itu, ujar dia, akan digunakan untuk membangun ruang kuliah baru 1.600m2, lab skill, perpustakaan, dan berbagai sarana penunjang lain. Semua dana yang terhimpun dikelola orang tua mahasiswa. Fakultas hanya merencanakan pengembangan. Dalam dialog itu sejumlah orang tua calon mahasiswa memberikan berbagai masukan. Ada pula yang mengusulkan seleksi penerimaan mahasiswa dilakukan secara nasional. Selain dari Banyumas, banyak orang tua yang hadir dari Jawa Barat, DKI, dan Kalimantan. (P16-53) |