| Rabu, 08 Juni 2005 | SALA |
Purnomo: Itu Tidak MematikanBALAI KOTA - Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Surakarta dokter Purnomo Dwi Putro MKes menegaskan, meski gejalanya hampir sama dengan demam berdarah dengue (DBD), chikungunya tidak termasuk penyakit mematikan. Dia mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu takut dengan serangan penyakit itu. Chikungunya bisa sembuh dengan istirahat yang cukup dan obat dari dokter. "Untuk chikungunya tidak ada obat yang spesifik. Misalnya untuk panas tinggi diberikan obat penurun panas dan untuk menghilangkan nyeri diberi obat penghilang sakit. Asalkan daya tahan tubuh bagus dan istirahat cukup, penderita bisa cepat sembuh," ungkapnya, kemarin. Mengenai adanya laporan penderita chikungunya di Kelurahan Kadipiro, dia berjanji akan mengecek hal itu. Sejauh ini dia mengakui, belum menerima laporan. "Warga yang terkena langsung berobat ke RS dan bukan puskesmas. Saya senang masyarakat sudah sigap memberikan pertolongan warga yang punya gejala seperti DBD. Itu bagus," ujarnya. Mengenai gejala chikungunya, dia mengungkapkan, antara lain panas tinggi, timbul bercak atau bintik kemerahan di kulit, beberapa bagian tubuh seperti tangan dan kaki membengkak, dan nyeri di persendian. Penyakit ini karena virus yang ditularkan nyamuk Aedes albopiptus. Meskipun menular, jika daya tahan tubuh kuat, virus tersebut tidak akan menyerang manusia. Untuk memastikan apakah penderita benar-benar tertular chikungunya tidak bisa melalui cek darah biasa namun harus tes laboratorium khusus yang biayanya relatif tinggi. Hampir sama dengan DBD, penularan penyakit chikungunya bisa dicegah dengan budaya hidup sehat dan menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Untuk campak jerman, Purnomo mengemukakan, itu hampir sama dengan penyakit gabagen yang selama ini dikenal masyarakat. "Keduanya bisa sembuh dengan daya tahan tubuh yang baik dan istirahat cukup," katanya. (G18-18j) |