| Rabu, 08 Juni 2005 | PANTURA |
Konsep Minimalis Teater Ruang
SUASANA Auditorium Universitas Pancasakti (UPS) Tegal saat itu terang benderang. Lalu, muncullah tiga orang di panggung yang siap berekspresi. Dua pria di antaranya melepas pakaian dan (maaf) hanya mengenakan pakaian dalam yang melekat di tubuh, sedangkan seorang lagi (perempuan) mengenakan baju warna gelap. Sesaat kemudian, ruangan tiba-tiba menjadi gelap. Yang tampak di atas panggung hanya tiga cahaya merah seperti bulan sabit dan planet berputar. Pancaran cahaya itu itu kemudian disusul oleh gerakan-gerakan berbeda yang dimainkan tiga orang tersebut. Dua pemain pria memperagakan gerakan binatang seperti monyet yang disusul dengan gerakan lain seperti berebut mendapatkan seorang wanita yang tergolek tak berdaya. Gerakan itu berganti-ganti dengan topik yang berbeda. Sampai pada penghujung pertunjukan, salah satu pemain pria itu menjahili pemain pria lainnya. Kemudian dia mendapatkan imbas dijahili oleh sesuatu yang tak terlihat. Mereka yang kemudian menemukan satu perempuan bersandar di dinding dengan tangan sebagai penyangga tubuh itu, lalu melemparkan kesalahan pada dirinya (sosok perempuan tersebut). Tidak berhenti di situ, mereka pun bersama-sama menghukum perempuan itu. Itulah cukilan pentas Teater Ruang dari Surakarta dengan lakon "Z" yang tampil di Auditorium Universitas Pancasakti (UPS), Jalan Halmahera Km 1 Kota Tegal, kemarin (5/6). Pertunjukan "Z" tersebut dalam rangka pentas keliling dunia Teater Ruang. Sebagian besar penonton menilai penampilan pemain luar biasa. Meskipun banyak kritik dilontarkan, kritik tersebut bersifat membangun. Sutradara lakon ''Z'' Joko Bibit Santosa mengatakan, pementasan ini dibilang minimalis karena dimainkan tanpa suara. Setting tempatnya sangat sederhana dengan dekorasi kain hitam. Selain itu pencahayaan hanya menggunakan senter dan lakon hanya dimainkan oleh tiga personel. Meski demikian, pertunjukan itu tetap bagus. Pemain lakon yang terdiri atas Helmy Prasetya, Nopek Novianto, dan Ery Aryani itu, menurut penilaiannya tampil sangat mengesankan. Tubuh dan Lampu Dia juga mengatakan, lakon ''Z'' merupakan pertunjukan tanpa kata, lampu, dan setting, tetapi hanya menggunakan tubuh pemain dan lampu senter. Lewat ''Z'', dia ingin menciptakan bahasa, setting, musik, artistik, dan estetik tersendiri. ''Z'' hanyalah istilah judul lakon. Maknanya tergantung pada pandangan tiap-tiap penonton. Seniman Tegal Nurhidayat Poso mengungkapkan, tidak dapat menilai apa yang dia nikmati dari teater tersebut. Namun dia merasakan arti dari penampilan itu. Dalam lakon tersebut ada penggambaran pemain menjadi binatang, sebuah kekuasaan, dan penganiayaan terhadap perempuan. Dia berpendapat, dalam teater yang terpenting adalah tim karena gerakan-gerakan pemain sangat didukung kerja tim. Pendapat Nurhidayat dibenarkan Joko Bibit Santoso, bahwa kerja tim sangat memengaruhi hasil teater ini. Kekaguman terhadap stamina pemain diungkapkan seniman lain Yono Daryono. Dia menilai lakon ini membutuhkan proses yang sangat panjang. Bahkan, mungkin merupakan proses yang berdarah-darah. Di sisi lain, Ketua Dewan Kesenian Tegal Sisdiono Ahmad SPd berkomentar, stamina pemain benar-benar luar biasa. Dia menggambarkan gerakan Ery Aryani yang berjalan dengan tangannya merambat di dinding panggung itu belum pernah dilihatnya dalam pentas lain. ''Pementasan teater dengan pemain yang sangat fit diharapkan menjadi contoh yang dapat menumbuhkan semangat seniman Tegal untuk tidak nglokro dan manja saat latihan,'' tambah seniman lain Nurngudiono. Sang sutradara Joko Bibit memiliki banyak pengalaman. Dia pernah aktif di kelompok teater TESA UNS, TERA, serta GAPIT. Dia menanggapi, semua kritik yang masuk akan lebih mematangkan penampilannya di lain tempat. Sebab baginya, ''Z'' bukan karyanya, melainkan karya Ruang. Kelompok ini beberapa waktu lalu pernah pentas di Japan Foundation, Jepang. Menurutnya, penampilan kali ini merupakan pementasan yang terjelek karena latihan yang dilakukan tidak maksimal. (Siti Kholidah-37m) |