logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 08 Juni 2005 PANTURA
Line

Keluarga Bawon Turun-temurun Hidup di Kolong Jembatan

SIANG itu jarum jam menunjuk angka 11.15. Sinar matahari terasa begitu menyengat. Namun, di bawah sebuah jembatan di tengah Kota Pekalongan, sekelompok anak kecil masih terlihat ceria bermain. Meski dengan balutan pakaian yang terkesan kumuh dan kondisi tempat tinggal tidak terawat, mereka seakan tak menghiraukan dan terus saja bermain.

Rasa sedih maupun risi dengan keadaan di sekitar tak dirasakannya. Padahal tempat itu berada di pinggir Sungai Loji Kota Pekalongan dengan kondisi tanah yang becek dan penuh sampah.

Anak-anak tersebut merupakan bagian dari keluarga besar Bawon (55). Keluarga Bawon mulai tinggal di daerah itu sejak puluhan tahun lalu. Hingga saat ini, jumlah penghuni tempat itu mencapai 22 orang, 15 di antaranya anak-anak dan balita. Mereka secara turun-temurun menempati "rumah" di bawah Jembatan Loji Kota Pekalongan.

Ketika ditemui dia menceritakan, awal mulanya pada tahun 60-an merantau ke Kota Pekalongan tanpa memiliki tempat tinggal. Karena tidak mampu membeli rumah yang layak, akhirnya membuat tempat tinggal di bawah Jembatan Sungai Loji dengan ketinggian sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah.

Sekat untuk menutupi dibuat seadanya dengan menggunakan plastik, kain, maupun papan.

Sedangkan sebagai alas tidur, digunakan selembar tikar atau terpal yang digelar tak beraturan. Sementara itu tempat memasak menjadi satu dengan tempat untuk tidur.

Bagi orang kebanyakan, kehidupan keluarga Bawon tentu jauh dari layak. Bahkan tidak semua orang tega mengunjungi tempat tersebut. Mereka akan memilih untuk melihat dari atas jembatan. Namun hal demikian ternyata tidak berlaku bagi keluarga yang tak memiliki pekerjaan tetap itu.

Merasa Nyaman

Menurut Bawon, ia dan keluarganya tetap merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Ia pun enggan dipindahkan ke tempat lain. Padahal, Pemerintah Kota Pekalongan selalu berusaha membujuk mereka untuk pindah dan ditempatkan ke pusat rehabilitasi agar mendapatkan penghidupan yang layak. Namun mereka selalu menghindar saat ada razia.

Sementara itu, Sopiatun (30), salah seorang anak Bawon menyatakan hidup di bawah jembatan sudah dilaluinya dalam waktu lama. Di usianya yang masih muda itu ia sudah memiliki lima anak hasil perkawinannya dengan Udin (35).

Karena sudah terbiasa, ia merasa nyaman hidup di tempat tersebut. Ia memilih menghindari razia daripada harus tinggal di panti rehabilitasi. Alasannya, mereka merasa terkekang dan tidak punya kebebasan apabila harus hidup terikat di panti rehabilitasi. (Wawan Hudiyanto-37d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA