logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 08 Juni 2005 OLAHRAGA
Line

Tanpa Penonton, Jepang Vs Korut Tetap Panas

BANGKOK- Korea Utara akan berhadapan dengan Jepang di zona netral tanpa penonton pada pertandingan vital hari Rabu (8/6) ini. Namun paduan antara kontroversi, sejarah dan ambisi Piala Dunia tetap memastikan pertandingan itu akan menjadi sesuatu yang heboh.

Awalnya, pertemuan kedua negara itu direncanakan berlangsung di hadapan 70 ribu penonton yang memadati Stadion Kim Il-Sung di Pyong Yang. Namun kemudian diubah ke Bangkok karena kerusuhan penonton ketika tuan rumah Korut ditaklukkan Iran 0-2 di stadion itu beberapa waktu lalu.

Untuk Jepang, tim peringkat dua Grup B di bawah Iran, pemindahan ke Stadion Supachalasai, Bangkok itu adalah kejutan tak terduga. Maklum, mereka masih harus berjuang mengamankan posisinya untuk dapat ikut final Piala Dunia tiga kali berturut-turut.

Di grup itu, Iran tampil di puncak klasemen dengan 10 angka, disusul Jepang (9), Bahrain (4) dan Korea Utara (0).

Pertandingan Jepang-Korut dengan hasil seri akan mengantar Iran dan Jepang ke Piala Dunia 2006 di Jerman. Namun usai memotivasi para pemainnya dalam pembicaraan selama 90 menit di Bangkok, Senin petang, pelatih tim nasional Jepang Zico menyatakan tidak ada prospek bagi Jepang untuk mengubah status menjadi mode bertahan.

"Kita tahu dapat pergi ke Jerman dengan status seri, tapi kita ingin hasil terhormat," kata mantan pemain top Brasil itu. Dia menekankan perlunya berjuang melawan rasa cepat puas diri. "Ini pertandingan kita yang terpenting, kita harus bertekad kuat baik di hati maupun pikiran."

Zico dipaksa berjuang tanpa Hidetoshi Nakata, Shunsuke Nakamura dan Alessandro Santos yang masih tertahan akibat kartu kuning dalam kemenangan 1-0 atas Bahrain, pekan lalu. Menambah keterbatasan tim itu, pemain belakang yang juga pemain terbaik Liga Jepang, Yuji Nakazawa, mendapat cedera lutut kanan yang dialaminya setelah berlatih selama 20 menit pada Senin sore itu.

Tanpa Poin

Sementara Korut, yang hingga seejauh ini belum mengemas satu angka pun setelah empat pertandingan, tidak punya pilihan lain. Untuk mengubur kekecewaan akibat pemindahan lokasi pertandingan, mereka kini mengincar kemenangan.

Sebuah kemenangan bagi Korut akan memberikan kesempatan mengungguli Bahrain di posisi ketiga, yang menempatkan mereka di play-off melawan posisi ketiga Grup A, sementara kekalahan justru berarti akhir perjalanan menuju ke Jerman.

"Tentu saja kami memiliki kesulitan karena pertandingan yang sedianya diadakan di kandang sendiri berubah menjadi di wilayah netral," kata Sekjen Asosiasi Sepakbola Korut, Ri Hi-Yoon di Bangkok. "Namun orang Korut memiliki semangat juang revolusioner untuk berusaha sampai penghabisan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk memenangkan pertandingan ini dengan penuh semangat."

Dua negara itu memiliki sejarah ketidaksukaan satu sama lain, dan hal itu akan menjadi bumbu tersendiri dalam pertandingan. Sentimen anti-Jepang bertahan kuat di Korut, yang berawal dari pendudukan Jepang pada abad lalu. Jepang menculik dan melatih banyak warga Korut menjadi mata-matanya pada tahun 1970-an dan 1980-an yang menyebabkan kemarahan rakyat hingga saat ini. (ant,rtr,F3-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA