| Rabu, 08 Juni 2005 | MURIA |
''Aryo Penangsang'' Selalu Bayar PajakMEMASUKI Desa Panolan Kecamatan Kedungtuban, Blora serasa memasuki wilayah Kerajaan Jipang Panolan saat masih berjaya. Bagaimana tidak? Meski di desa yang terletak kurang lebih 15 kilometer dari Kota Cepu ini hanya akan dijumpai beberapa peninggalan Kerajaan Jipang Panolan, suasana dan karakteristik warga mengingatkan pada kerajaan yang dipimpin Aryo Penangsang. ''Penduduk di desa ini bertemperamen keras, namun sangat bertanggung jawab terhadap tugas yang diemban,'' ujar Ngasiman, kepala desa setempat. Ngasiman yang didampingi salah seorang kerabatnya, Sholihan Mochtar SH AP menceritakan, sifat Aryo Penangsang yang keras dan terkenal urakan itu sedikit banyak diwarisi mayoritas penduduk yang terletak di pinggir Sungai Bengawan Solo ini. Meski demikian, kerasnya temperamen penduduk ini tidak serta-merta membawa ke sifat sombong dan congkak. ''Di balik temperamen yang keras, kami menyimpan kelembutan. Kami akan keras manakala kami harus melaksanakan tugas dan tanggung jawab kami sebagai warga negara dan kepala rumah tangga,'' tandasnya Warisan untuk melaksanakan tanggung jawab ini menurut Sholihan bisa dilihat dari perilaku sebagian warga, terutama yang berprofesi sebagai pencari ikan, yang tidak akan pulang mencari ikan jika hasil yang didapat tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangga dan kewajiban membayar pajak. Menurut Sholihan, jika sudah ''berlayar'' mencari ikan di sungai Bengawan Solo, mereka harus menginap di atas perahu. ''Berhari-hari mereka mencari ikan. Kalau hasilnya dirasa sudah cukup untuk membayar pajak dan membiayai kebutuhan rumah tangga, misalnya untuk membayar SPP anaknya, mereka baru pulang. Kalau tidak, mereka akan tetap mencari ikan. Bahkan sering sampai ke luar daerah seperti ke Bojonegoro,'' ceritanya. Tak Pernah Kering Sholihan menceritakan, desa yang berpenduduk 2.100 jiwa ini sebagian penduduknya bekerja sebagai nelayan. Namun sebagian besar lainnya petani. Menurutnya, hal ini cukup beralasan. Sebab, sebagian besar wilayah desa ini adalah tanah pertanian. ''Lebih dari 70% tanah di Desa Panolan adalah tanah pertanian,'' ungkapnya. Sholihan mengatakan, dibanding dengan desa lainnya di Blora, Desa Panolan tergolong istimewa. Pasalnya, warga desa ini tidak pernah kesulitan mendapatkan air. Menurutnya, saat musim kemarau tiba, sebagaian besar warga desa di Blora kesulitan air. Akibatnya, sawah mereka dibiarkan terbengkalai. Beda dengan Desa Panolan. Di desa ini air sangat berlimpah. Warga desa bisa sewaktu-waktu bercocok tanam. Panen pun bisa sampai tiga kali dalam setahun. ''Selain ada sumur pantek, kami juga bisa memanfaatkan air Bengawan Solo yang mengalir di sungai Bengawan Sore dan untuk mengairi sawah kami,'' katanya. Sungai Bengawan Sore menurut Sholihan adalah sungai yang dibangun oleh penguasa pada zaman Kerajaan Jipang. Awalnya, sungai ini dibuat sebagai benteng pertahanan. Namun ternyata manfaatnya bisa dirasakan hingga sekarang, dan di seberang sungai inilah menurut legenda, Aryo Penangsang tewas dalam pertempurannya melawan Sutawijaya. ''Sungai Bengawan Sore ini dibuat mengelilingi wilayah Desa Panolan. Kedua ujung sungai ini berada di Sungai Bengawan Solo. Jadi, airnya berasal dari Sungai Bengawan Solo,'' tandasnya. (Abdul Muiz-15n) |