logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 08 Juni 2005 MURIA
Line

Dari Promo Tatah Ukir Sungging Jepara di TMII (2-Habis)

''Macan Kurung, Nasibmu Kini...''

JIKA Anda melihat karya seni ukir Jepara, terutama di kawasan Mulyoharjo, paling tidak terbesit dalam benak semacam rasa takjub, paling tidak bagaimana bahan kayu itu diolah hingga hasilnya tampak sempurna. Terbayang tingkat kesulitan tinggi saat proses pembuatan. Konon, bagi para pengukir, hal itu biasa dan tak terlalu sulit.

Lihatlah di sepanjang Mulyoharjo, sekitar 1,5 km arah utara alun alun kota yang membentang mulai jalan raya hingga ke barat sepanjang beberapa ratus meter. Sebagai tamsil, sebuah akar kayu jati yang ''disulap'' menjadi produk dengan nilai artistik tinggi.

Bagaimana tidak, akar kayu jati yang oleh sebagian orang cukup digunakan sebagai kayu bakar, bagi kalangan pengrajin Jepara bisa bernilai jutaan rupiah. Kayu itu ibarat batangan lilin, terserah pemesan, mau dibuat apa akar itu. Ingin akar itu menjadi patung gerombolan ikan Arwana pun oke. Namun, banyak yang bisa mengerjakan karya-karya seperti itu. Beda dengan karya klasik seperti patung ''Macan Kurung''.

Konon di Jepara saat ini hanya ada tak lebih dari 10 orang yang bisa membuat patung Macan Kurung. Di masa tokoh pemahat ulung Singowiryo di era RA Kartini pada 1900-an, ia memang mengajarkan berbagai motif ukir, namun saat itu Macan Kurung belum tampak. Yang dominan waktu itu adalah barang-barang kecil seperti asbak, figura pahat, dan meja-meja kecil.

Karya Macan Kurung mulai tampak di Jepara pada era 1970-an dengan Akwan (70), warga Mulyoharjo sebagai generasi awalnya. Saat ini ia masih hidup meski tak lagi berkarya karena usianya yang lanjut.

Sebagai ilustrasi, kesulitan membuat Macan Kurung terletak pada peliknya membuat bodi macan di dalam jeruji yang utuh dalam satu gelondong kayu. Karena pemahat dituntut lihai mengencakkan mata tatah diantara jeruji kayu yang sebelumnya sudah terbentuk.

Rosyidi (40) warga Kauman Bangsri, Jepara malam itu menunjukkan kelihainnya di TMII di atas dipan kecil. Ia membuat patung Macan Kurung dengan disaksikan para pengunjung. ''Saya tak pernah belajar dengan siapapun. Saya bisa setelah melihat orang lain membuatnya,''kata pria yang sejak kecil sudah lihai dalam seni pahat.

Ia mengatakan untuk membuatnya butuh waktu sekitar 3 pekan untuk ukuran kayu berdiameter 40 cm dengan ketinggian kurang lebih 1 meter. Awalnya ia bisa membuat Macan Kurung justru bukan karena motif ekonomi, melainkan sekadar mengalirkan hobi. Meski demikian ia tak menyangkal ada pesan spritual dari motifnya.

Biasanya didalam kurungan itu memang pakem patung macan tapi diatasnya terdapat patung naga atau burung garuda, rajawali, atau elang. ''Macan dalam kurungan ibarat nafsu buruk yang harus dikekang. Banyak tantangan dalam mengekangnya. Karena itu butuh ketegaran bak mental burung rajawali, elang, atau garuda. Adapun naga menurut bangsa China adalah simbol keselamatan,''jelas dia yang baru bisa membuat Macan Kurung sejak 1988.

Sementara M Sahal Mahfud, dari perusahaan Rimba Lestari Mulyoharjo yang ikut bersama Rosyidi di TMII mengatakan, harga satu unit macan kurung tak sebanding dengan nilai artistiknya. ''Bayangkan untuk ukuran diameter 40 cm dengan tinggi 1 meter hanya berharga Rp 1,3 juta,''tuturnya.

Hal itulah yang membuat pembuat patung ini tak banyak dan kemungkinan semakin langka. ''Pengrajin membuatnya berdasarkan pesanan. Jika tak ada yang pesan maka tidak dibuat. Padahal pasar domestik maupun internasional kurang antusias,''katanya.

Saat ini Asia masih menjadi pasar utama patung Macan Kurung, ini berbeda dengan produk-produk lain yang bisa menembus Eropa dan Amerika. (Muhammadun Sanomae44)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA