| Rabu, 08 Juni 2005 | MURIA |
''Pengunjuk Rasa'' Serbu KPUD
SUASANA Alun-alun Blora pagi kemarin terlihat ramai dipenuhi aparat kepolisian dan aparat keamanan lainnya. Ratusan aparat ini bersiaga guna mengantisipasi unjuk rasa warga yang tidak puas dengan hasil pemilihan kepala daerah (pilkada). Aparat polisi bersenjata lengkap membentuk barikade di depan Kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Mereka bersiaga untuk menghalau aksi protes pendukung salah satu pasangan calon bupati (cabup) dan wakil bupati (cawabup) yang tidak puas dengan hasil pilkada. Sementara itu, dari dua penjuru jalan yang lain terlihat iring-iringan pengunjuk rasa -yang diperankan sesama anggota polisi- hendak menuju KPUD. Sebelumnya mereka mendatangi kantor DPRD untuk menyampaikan tuntutan mereka. Namun lantaran tidak puas dengan penyampaian anggota DPRD, para pengunjuk rasa meneruskan aksinya ke KPUD. ''Kami meminta KPUD membatalkan hasil pilkada dan mengulang pilkada dari awal,'' ujar salah seorang pengunjuk rasa. Meski hanya latihan, polisi berpakaian preman yang memerankan pengunjuk rasa terlihat tidak mau kalah dibandingkan dengan aksi unjuk rasa sesungguhnya. Penyampaian orasi, tuntutan, hujatan, dan umpatan terdengar dari megaphone yang mereka bawa. Dengan berpakaian ala kadarnya, pengunjuk rasa membawa pula poster hujatan terhadap pihak yang dituntutnya. Tak ketinggalan para pengujuk rasa ini menyertakan pelindung diri untuk menjaga keselamatan. ''Tolak hasil pilkada. Bubarkan KPUD. Tegakkan kebenaran,'' begitu bunyi poster yang mereka bawa. ''Kami tak mau dibohongi. KPUD tidak adil,'' teriak salah seorang pengunjuk rasa. Puluhan polisi yang berperan sebagai pengunjuk rasa ini pun tak kalah garang dengan pengunjuk rasa yang melakukan tindakan anarkis. Para demonstran melempari polisi yang bertugas mengamankan aksi unjuk rasa dengan botol berisi air mineral. Polisi yang mengamankan aksi ini berupaya menahan emosi agar tidak terjadi bentrok. Tidak Canggung Namun pancingan pengunjuk rasa dengan lemparan botol air menjadi semakin menjadi-jadi. Belum puas dengan aksi lemparan ini, para demonstran mendobrak dan merobohkan miniatur kantor DPRD yang terbuat dari kayu tripleks. Begitulah sekelumit gambaran simulasi pengamanan pilkada yang digelar di Alun-alun Blora, kemarin. Dengan disaksikan Kapolres Blora AKBP Drs H Zainal Arifin Paliwang, Penjabat Bupati Blora Drs Suwoko SH, dan pejabat Muspida lainnya, para demonstrans ataupun polisi yang mengamankan unjuk rasa ini tidak terlihat canggung memeragakan simulasi pengamanan pilkada. Simulasi ini digelar seusai upacara penutupan pelatihan linmas dan gelar pasukan dalam rangka pengamanan pilkada. (Abdul Muiz-15s) |