| Senin, 06 Juni 2005 | SALA |
Batik Tradisional Masih Tetap DiminatiSUKOHARJO - Batik tradisional masih tetap diminati dan tidak akan punah dan terus berkembang. Hal itu disebabkan oleh selalu tampilnya corak atau desain baru hampir setiap saat sesuai dengan perkembangan mode. Bahkan batik mampu menjadi saingan busana lain. ''Batik tidak membosankan, karena kreasi dan coraknya selalu baru,'' kata H Wisnu Subroto, pengusaha home industri batik Kartikamas di Cemani, Grogol, Sukoharjo, saat peresmian galerinya, Sabtu malam (4/6). Wisnu yang malam itu didampingi Nasrul Kotto --mantan pemain Arseto Solo yang bertindak sebagai manajer marketing-- mengatakan, kehadiran butiknya di Kampung Pinang, Cemani, merupakan tuntutan masyarakat khususnya pelanggan yang tiap hari datang ke rumah untuk mencari kain batik. Kondisi pasar klewer Solo sudah tidak nyaman, lokasinya berdesakan dan kurang bebas untuk memilih corak. ''Agar pelanggan bisa leluasa dan bebas, kita buka butik dengan luas 9 m X 16 meter,'' kata Wisnu. Berbagai corak modern dan parang dimodifikasi dengan kembang, mode Wonogiren juga sudah dimodifikasi sesuai selera serta kebaya. Menurut Nasrul Kotto, produksi batik Kartikamas lengkap untuk pria dan wanita. Khusus untuk busana muslim wanita (Abaya) yang kainnya berasal dari bahan santung dikembangkan dengan mode cap colek yaitu antara batik tulis dan cap, sehingga harganya relatif murah yakni hanya Rp 32.500 dan itu pun nasih mendapat diskon 20%. Diakui Nasrul Kotto, persaingan pasaran batik di Solo cukup ketat, tetapi dia yakin bahwa harga yang dipatok mulai Rp 15.000-Rp 1,5 juta bisa bersaing dengan harga di pasar Klewer. (P44-51h) |