logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Juni 2005 RAGAM
Line

Berpikir Positif

T: Saya sangat senang sekali membaca rubrik Interaktif Tasawuf di Harian Suara Merdeka, dan saya selalu kliping rubrik tersebut. Saya ingin bertanya kepada Bapak, bagaimana caranya menghilangkan pikiran negatif, yang selama ini menghinggapi pikiran saya?

Marjono, Jepara

J: Saudara Marjono, sebenarnya kumpulan rubrik tersebut sudah diterbitkan dan tersedia di toko-took buku atau berhubungan dengan LPK2 atau telepon 70124706.

Menurut saya, Anda termasuk orang yang mendapat bimbingan dari Allah, karena banyak orang yang mempunyai pikiran tersebut, cenderung menyembunyikan kepada orang lain. Sehubungan dengan pertanyaan Anda, perlu mengingat Al-Quran surah al-Hujurat (49) ayat 12: ''Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka itu adalah dosa dan jangan mencari-cari kejelekan orang lain, dan jangan mengumpat antara satu dengan lainnya''.

Bunyi ayat tersebut sejalan dengan pendapat Ary Ginanjar bahwa dalam diri manusia terdapat tujuh belenggu, yang bisa menjadikan seseorang terjebak pada berpikir negatif yang cenderung tidak baik. Ketujuh belenggu itu ialah: prasangka negatif, prinsip hidup, pengalaman pribadi, kepentingan dan prioritas, sudut pandang, pembanding, dan literatur.

Yang pertama ialah prasangka negatif. Sifat ini akan sangat mengganggu pikiran kita, karena prasangka itu akan terjadi sebelum melakukan klarifikasi terhadap yang bersangkutan. Yang kedua ialah adanya suatu prinsip hidup yang kadang-kadang membuat seseorang kacau dalam hidup ini. Contoh budaya harakiri di Jepang ketika seseorang merasa bersalah. Yang ketiga ialah pengalaman negatif sering menjadikan seseorang takut melangkah. Yang keempat ialah adanya kepentingan dan prioritas. Kepentingan berawal dari prinsip hidup, yang membuahkan kepentingan dan kepentingan akan menentukan prioritas. Contoh suatu negara yang lebih mementingkan politik, akan bisa mengorbankan nyawa rakyatnya.

Kelima yaitu sudut pandang. Sudut pandang ilmiah kadang-kadang berbeda dengan sudut pandang agama. Contoh bayi tabung akan ditentang oleh agamawan. Belenggu yang keenam ialah pembandingan. Kita sering menilai segala sesuatu berdasarkan perbandingan pengalaman yang dialami sebelumnya dan bayangan itu kita ciptakan sendiri dalam alam pikiran kita. Dan yang ketujuh ialah pengaruh literatur (bacaan). Kita sering menyimpulkannya sesuatu berdasarkan hasil bacaan, namun setelah itu akan berubah sedemikian cepat karena ada pengaruh literatur lain yang berbeda dengan sebelumnya.

Untuk menghindari ketujuh belenggu tadi, maka dianjurkan untuk berfikir jernih dan obyektif, dengan didahului melihat faktor yang mempengaruhinya, dan dengan mengembalikan kita pada fitrah (God Spot)-nya. Sehingga kita bisa mampu melihat dengan mata hati, mampu memilih dengan tepat dan cepat serta memprioritaskan secara benar. Dan keputusan yang diambilnya benar-benar dengan cara adil dan bijaksana.

Cara membentuk pandangan diri yang positif, sehingga dapat mengatur perasaan/ emosi kita ialah dengan:

1. Kata-kata positif terhadap diri sendiri, artinya sanggup mengontrol perkataan pada diri sendiri. Yang diucapkan hanyalah kalimat-kalimat yang positif.

2. Memutar kenangan positif dalam pikiran kita, dan jangan memutar video atau kenangan yang negatif.

3. Menumbuhkan kepercayaan diri sendiri. Memperbaiki rasa percaya diri sangat erat kaitannya dengan harga diri. Harga diri naik maka secara otomatis percaya diri naik pula. Sementara harga diri dapat diumpamakan dengan tabungan uang di bank. Rekeningnya berada di tangan kita, sewaktu-waktu bisa diambil atau diisi. Nomor PIN-nya pun di tangan kita.

Menabung harga diri bisa dengan cara mendengar ungkapan hal-hal yang positif dari orang lain, sedang menariknya berarti mendengarkan ungkapan-ungkapan negatif dari mereka. Hal ini dikarenakan yang mengetahui nomor PIN hanyalah kita sendiri sehingga kita sendirilah yang memutuskan menabung atau tidaknya, atau bahkan menarik/mengurangi harga diri. Wallahu a'lam bish shawab. Demikian semoga ada manfaatnya.(12)


Bagi yang berminat dengan rubrik ini, kirimkan surat ke alamat Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo, d/a LPK2 (Lembaga Pengembangan Keagamaan dan Kemasyarakatan) dan Lembkota Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 70124706. Di atas sebelah kiri amplop ditulis "Interaktif Tasawuf"


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA