| Senin, 06 Juni 2005 | PANTURA |
Melongok Perajin JaringTak Terpengaruh Hasil TangkapanDI SEBUAH ruang berukuran sekitar dua meter persegi, Rusmana (52), seorang produsen jaring ikan nampak sibuk merajut. Dari tangannya satu per satu benang nilon dirajut menjadi lembaran jaring yang siap pakai. Dia yang tinggal di Jalan Blanak, Kota Tegal itu, memang cukup dikenal sebagai produsen jaring ikan. Hasil kerajinannya acapkali dipesan pemilik kapal, nelayan Kota Tegal, maupun daerah lain. Di sela-sela kegiatannya, dia menuturkan menjadi produsen jala memiliki kesan tersendiri. ''Kenapa saya lebih senang membuat jaring, karena pesanan itu tidak tergantung ramai dan tidaknya hasil tangkapan. Makanya, bisnis kami tidak terpengaruh apakah hasil tangkapan ikan ramai atau tidak. Sebab, jaring itu kan kebutuhan yang primer bagi nelayan,'' tuturnya. Masih Jarang Kendati tiap nelayan bisa merajut, kata dia, masih jarang yang menekuni bisnis ini. ''Memang, hampir setiap nelayan dapat membuat jala, termasuk saya. Tapi, yang menekuni bisa dihitung dengan jari. Apalagi, sekarang sudah banyak jaring yang tersedia di toko. Silakan saja orang mau memilih," ujar Rasmana. Tanpa bermaksud promosi, dia mengutarakan produknya cocok untuk kapal cantrang dengan ukuran lebar mata jala 5 inci. ''Biasanya jaring ini untuk menangkap jenis ikan tongkol dan tengiri. Sedangkan panjang jala mencapai 30 meter.'' Dia menceritakan, untuk membuat jaring dimulai dari benang nilon yang diikat pada tiang. Dengan teliti, untaian benang nilon kemudian dirajut. ''Untuk menyelesaikan satu jaring biasanya diperlukan waktu selama satu minggu hingga 10 hari,'' ungkapnya. Sedangkan mengenai pemasaran, dia mematok harga satu jaring Rp 2,5 sampai Rp 3 juta. Apalagi, bahan baku sekarang lagi naik. ''Modal yang diperlukan memang cukup besar, Rp 2 juta untuk yang kecil dan tentu saja variatif tergantung besar kecilnya jaring yang akan dipesan. Biaya ini sudah termasuk harga 15 kilogram timah sebagai bahan pemberat jala.'' Dia mengatakan, jaring yang diproduksinya itu mampu bertahan sampai dua tahun lebih. Asalkan tidak terkena karang atau bahan pemotong lain, bisa dipakai lebih dari dua tahun. Kalau kena karang, ya memang harus diganti. Sebab, biaya perbaikan lebih besar dibandingkan dengan harga jaring baru,'' tukasnya. (Siti Kholidah-37) |