| Senin, 06 Juni 2005 | PANTURA |
Sudah Satu Bulan Harga Kentang Tak NaikBUMIAYU- Puluhan petani di Kecamatan Sirampog mengeluhkan harga jual kentang yang tidak kunjung naik sejak sebulan terakhir, yaitu Rp 2.000 per kilogram. Jika kondisi itu berlarut-larut, mereka khawatir tidak mampu mempertahankan produksi pertanian lantaran merugi. Sebagian petani malah ada yang mengaku merugi, karena biaya produksi lebih besar. "Untuk satu kilogram kentang, kami hanya laba Rp 300," kata salah seorang petani di Desa Igirklanceng. Keuntungan itu diperoleh dari selisih harga jual dengan ongkos produksi yang mereka keluarkan. Dia menuturkan, kondisi itu sebenarnya jauh lebih baik daripada April lalu, di mana harga jual kentang anjlok hingga Rp 1.000 per kg. Karena berbagai pertimbangan, sebagian petani memilih membuang hasil panenan. Menyusul tindakan itu, tidak lama berselang harga kentang kembali merangkak. Kini harga per kg berada pada kisaran Rp 2.000. Meski mendekati titik impas, hal itu rupanya tidak membuat para petani gembira. Mereka merasa pemasukan yang diperoleh masih tidak seimbang dengan risiko yang ditanggung. "Kalau panenan depan gagal, kami sudah tidak punya tabungan untuk menanam lagi," kata petani lain. Dia mengungkapkan, untuk satu kg kentang harus membeli benih Rp 1.000. Selain itu, mereka masih harus mengeluarkan biaya untuk ongkos tenaga, biaya obat antihama dan pupuk. Camat Sirampog Abdul Kamid SH melalui sekretaris camat Eko Purwanto SIP mengemukakan, ada empat desa di wilayah Kecamatan Sirampog yang menjadi sentra pertanian kentang. Keempat desa yaitu Desa Igirklanceng, Batursari, Dawuhan, dan Desa Wanareja. Selain itu, sebagian petani tersebar di dua desa yaitu Desa Sridadi dan Desa Kaligiri. Hasil produksi mereka kebanyakan diserap pembeli dari daerah Tegal, Cirebon, dan Banyumas. Dia menyebutkan, kelesuan harga kentang di Sirampog tidak lepas dari lonjakan produksi yang terjadi di daerah. "Kecenderungan setiap tahun memang begitu," kata dia. Biasanya, permintaan menurun manakala produksi kentang di Jawa Barat melonjak. Praktis hal itu berdampak pada merosotnya harga jual. Untuk mengendalikan mekanisme pasar, menurutnya, jelas sangat sulit. Maka, satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah meningkatkan daya saing produk. "Kami selalu memberikan penyuluhan pada petani untuk meningkatkan mutu hasil pertanian." Eko mengungkapkan, tidak sedikit petani yang menggunakan obat kimia secara jor-joran. Pada jangka pendek, hal itu memang mampu membasmi hama tanaman. Namun jangka panjang, resistensi hama akan semakin tinggi. Akibatnya, kebutuhan obat pembasmi semakin tinggi dan otomatis hal itu akan menambah biaya pengeluaran. (H16-52s) |