logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Juni 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Memberi Makna Hari Lingkungan

- Kemarin, 5 Juni, diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tahun ini, 2005, tema yang ditetapkan oleh United Nations Environment Program (UNEP) adalah Green Cities: Plan for the Planet. Di sini, pada beberapa spanduk resmi bertuliskan: "Jadikan Bumi Bersih dan Hijau untuk Merealisasikan Kota yang Bersih, Hijau, dan Sehat". Sebuah tema yang mewakili keadaan mondial saat ini di berbagai belahan dunia. Di banyak sekali negara, terutama di berbagai kota besar, polusi telah sedemikian berat. Meski sudah diusahakan dikurangi, tetap saja menjadi persoalan besar. Kota dunia telah berkembang menjadi metropolis dengan segala konsekuensinya. Bangunan fisik makin menjulang, ruang publik makin menciut, pepohonan meranggas, limbah perumahan makin kotor, menjadikan kualitas lingkungan terus menurun dalam 10 tahun terakhir.

- Sementara kota makin merendah kualitas lingkungannya, di sisi lain hutan makin menciut, bahkan rusak, sungai makin kotor, ditambah lagi banjir mudah sekali terjadi. Wajah lingkungan makin muram, dan tampaknya makin susah untuk kembali ke masa silam, yang udara begitu bersih, langit begitu biru, dan air begitu sehat. Dahulu, kita berbangga atas bangunan dengan cerobong asap yang menjulang ke langit. Itulah pertanda ada kebangkitan ekonomi. Tetapi periode berikutnya, asap dari cerobong itu juga menimbulkan sesak napas. Sebuah contoh di Gresik, setiap warga daerah itu harus menghirup udara yang terkontaminasi oleh industri semen dan juga dari petrokimia.

- Di Karanganyar, sumur penduduk tercemar oleh logam berat yang dihasilkan oleh industri. Hal yang sama juga terjadi di mana-mana. Di darat, sungai, laut, dan juga perkotaan menunjukkan gejala seragam. Kualitas lingkungan yang makin buruk telah memberikan dampak negatif bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. orang tua tercemar, anak-anak dan bayi lahir dalam keadaan tidak sehat. Kualitas fisik dan mental generasi turunan terganggu. Tetapi betapa pedih, bagaimana pula dengan nasib kehidupan mereka selanjutnya, seolah-olah tak ada yang merasa paling bertanggung jawab. Perselisihan lingkungan yang masuk ke badan peradilan hampir selalu susah ditebak hasilnya. Sementara itu, rusaknya generasi turunan sangat berpengaruh terhadap kualitas manusia masa depan.

- Keadaan itu tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Ketika kementrian lingkungan hidup dibentuk, penghargaan lingkungan diberikan, semua berharap kualitas lingkungan makin membaik. Tetapi, kenyataan tidaklah demikian. Hutan habis dibabat secara liar dan resmi. Para cukong kayu ilegal, katanya, ditangkap. Tetapi, kembali peradilan seolah-olah tak pernah memberikan harapan. Peradilan berjalan, tetapi pembabatan juga berjalan. Apa artinya? Tak memberikan efek apa-apa. Kenyataan-kenyataan seperti ini sering membuat masyarakat dan pencinta lingkungan frustrasi. Pertanyaannya, kekuatan apa yang bisa mengubah keadaan ini. Apakah pemerintah saat ini mampu? Tampaknya belum terlalu tangguh untuk berhadapan dengan persoalan ini.

- Nah, jika pemerintah dalam keadaan seperti itu, kita sebenarnya masih bisa berharap ada perubahan. Dari mana? Dari setiap individu dalam masyarakat yang ingin keadaan berubah. Sudah waktunya setiap individu mengambil posisi yang seperti apa dalam menghadapi krisis lingkungan yang makin berat. Tidaklah terlalu perlu untuk mengambil sikap seperti para penerima Kalpataru. Biarlah penghargaan itu diterima orang-orang yang hebat. Sementara itu, perilaku setiap orang keseharian berubah, misalnya tidak membuang putung rokok sembarangan, tidak membuang bungkus rokok dari kaca mobil mewah, tidak membuang sampah dan plastik ke gorong-gorong, juga tidak membuang limbah ke sungai. Jika beberapa hal ini dilakukan setiap individu, secara niscaya keadaan jauh lebih bersih.

- Kota yang bersih, hijau, dan sehat, tidak lahir dari wali kota atau bupati, tetapi lahir dari perilaku budaya masyarakatnya. Jika setiap individu warga kota/masyarakat tidak membuang sampah seenaknya dalam kehidupan kesehariannya, pastilah gorong-gorong tak akan dipenuhi sampah dan limbah rumah tangga berlebihan. Tetapi, perbuatan kecil ini sungguh amat mulia. Teramat mulianya, sehingga tidak semua individu sanggup melakukannya. Maka, jika tidak sanggup, menjadi tugas aparat untuk mengingatkan dan memberikan sanksi. Hanya sikap tegas, bahkan keras, yang bisa mengubah kultur. Di sinilah kehadiran wali kota/bupati yang memiliki komitmen lingkungan dinantikan. Tetapi, komitmen seperti ini hanya ada pada wali kota/bupati yang memahami budaya. Lain, tidak!


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA