logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Juni 2005 SEMARANG
Line

Sekolah Kejuruan Kurangi Kemiskinan

SEMARANG - Sekolah menengah kejuruan (SMK) telah berperan dalam pengentasan kemiskinan dan pengangguran. Kepala Dinas P dan K Jateng, Drs Suwilan Wisnu Yuwono MM, mengungkapkan hal itu dalam Rapat Kerja dan Koordinasi (Rakerkor) Kepala SMK se-Jateng, di LPMP Srondol, Semarang, baru-baru ini.

Menurut dia, pendidikan di SMK lebih banyak memberikan bekal keterampilan bagi siswa untuk masuk dalam dunia kerja. Sebaliknya, lulusan sekolah umum (SMA-Red) harus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

"SMK memiliki kontribusi yang besar dalam mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Sebagian besar lulusan sekolah kejuruan langsung diserap dunia usaha dan dunia industri, begitu merampungkan pendidikan setiap tahunnya. Bahkan, beberapa SMK yang sudah menjalin kerja sama dengan pihak luar, seperti di Surakarta, kewalahan melayani kebutuhan pasar," ujarnya didampingi Ketua Dewan Pendidikan Jateng, Prof Dr Retmono, dan Kasubdin Pendidikan Menengah Dinas P dan K, Drs Nurhadi Amiyanto MEd.

Adanya SMK yang telah mampu men-cetak tenaga kerja terampil tersebut, bisa me-ngurangi angka pengangguran dan kemiskinan. Suwilan berharap, kenyataan tersebut akan membuka pandangan orang tua yang lebih suka memilihkan pendidikan anak di sekolah umum daripada sekolah kejuruan.

Di sisi lain, anak usia 16-18 tahun yang seharusnya belajar sekolah jenjang SMA di Jateng jumlahnya masih memprihatinkan. Angka partisipasi kasar (APK) anak usia 16-18 tahun saat ini hanya 41,79%. Sebaliknya, angka partisipasi murni (APM) mencapai 31,17%.

Kemampuan Sedang

Menilik keberhasilan kerja sama yang terjalin antara pengelola SMK dan dunia usaha-dunia industri, pihaknya berharap, calon siswa usia 16-18 tahun makin terdorong untuk me-nempuh pendidikan yang siap kerja di sekolah kejuruan.

"Di SMK, siswa bisa mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Mereka bisa memilih jurusan tata boga, tata busana, menari, automotif, pertukangan, budidaya rumput laut, hingga pertanian. Keahlian di bidang semacam itu, banyak yang membutuhkan. Kalau pun tak terserap dunia industri, mereka bisa mandiri dengan berwiraswasta," tuturnya.

Tapi ironisnya, lanjut dia, jumlah siswa yang memilih belajar di sekolah kejuruan masih didominasi oleh peserta didik yang secara kemampuan akademik sedang, dan dari segi ekonomi menengah ke bawah.

Menurut Kepala Dinas P dan K, masyarakat perlu disadarkan bahwa belajar di SMK lebih menjamin kelangsungan masa depan. Sebab, sistem pendidikannya lebih diorientasikan kepada tuntutan pasar kerja. Secara kualitas pun, proses pendidikan sekolah kejuruan tak kalah dibanding sekolah menengah umum. (H7-36a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA