logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Juni 2005 SEMARANG
Line

Basmi Wereng secara Tradisional

DEMAK - Petani Demak belakangan ini memiliki cara tersendiri untuk membasmi hama wereng cokelat yang menyerang tanaman padi mereka. Yaitu menebarkan daun tembakau, cengkok, dan saos rokok ke areal sawahnya.

Seperti dilakukan sebagian petani Desa Kedungwaru Lor, Kedungwaru Kidul, Wonorejo, Tuang, Cangkringpos, dan Karanganyar (semuanya Kecamatan Karanganyar), Demak.

Wanto (54), salah satu petani Desa Karanganyar menuturkan, cara kerja dengan pengobatan tradisional itu memang lamban. Namun dapat menekan perkembangan wereng cokelat. Daun tembakau yang disebar di sawah akan berbaur dengan air dan diserap oleh tanaman padi. Setelah air yang tercampur daun itu terserap, rasa pohon padi menjadi pahit sehingga wereng yang mengisap batang padi akan mati.

Biasanya jika mulai terserang hama wereng, petani mendatangkan daun tembakau yang tidak laku jual dalam jumlah besar. Selain dengan daun tembakau, juga daun mimba, cengkok, dan saos rokok. Pengobatan secara hayati tersebut dikenal cukup lama.

"Orang tua saya dulu membasmi wereng juga dengan cara seperti ini. Jadi saya hanya meniru karena terbukti bisa menekan hama," imbuhnya.

Petani lainnya, Darno menyatakan pembasmian hama wereng dengan tembakau seperti itu merupakan pengobatan yang tidak memiliki efek samping. "Sebab setelah panen, daun-daun itu dapat menjadi pupuk untuk tanaman berikutnya."

Panen Lebih Awal

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Demak Ir M Yusuf SU didampingi YMT Kabag Inkom Setda Ir Heru Budiyono menjelaskan, pembasmian hama wereng secara tradisional tidak akan memberi hasil maksimal. Artinya, meski bisa membunuh wereng, namun tidak lebih dari 50 wereng yang mati.

"Berbeda dibandingkan dengan penanganan menggunakan obat Applaod. Jika dilakukan dengan pestisida Applaod maka wereng akan mati sampai telurnya. Namun pengobatan tersebut bisa efektif jika disemprotkan pada batang padinya," kata dia.

Yusuf mengungkapkan, ada beberapa petani yang terpaksa memanen padi lebih awal, yaitu ketika buah padi baru terlihat mengering. Padahal semestinya usia padi butuh 7 - 10 hari lagi.

Ketua Komisi B DPRD Demak Suko Pratomo meminta pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap persoalan hama wereng. Dalam waktu dekat, komisinya akan mengadakan rapat komisi bersama Dinas Pertanian guna membahas persoalan itu. (H1-56m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA