logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Juni 2005 SEMARANG
Line

Penyandang Tuna Netra Ingin Alat Bantu Nyoblos

BALAI KOTA- Ketua Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jateng Ny Agung Rejeki berharap penyelenggara pilkada memberi aksebilitas kepada penderita tunanetra untuk memilih secara langsung, bebas dan rahasia.

Harapan itu disampaikan dalam audensi dengan Komisi D DPRD Kota Semarang, baru-baru ini. Dalam audensi itu juga sekaligus memperkenalkan Pengurus Daerah Pertuni Jateng yang baru, dan pemaparan program kerja setelah terpilih pengurus baru.

Salah satu keinginan penderita tunanetra, pada pilkada seperti di Kota Semarang disediakan tempelate yang ada huruf braile.

''Mudah-mudahan DPRD Kota mendukung bagaimana tunanetra bisa secara bebas, rahasia, dan langsung tanpa didampingi dalam mencoblos calon kepala daerah,'' tandas dia.

Seperti dalam penyelenggaraan Pemilu 2004 kemarin, penyandang tunanetra juga diberi alat bantu berupa tempelate. Sehingga mereka bisa melakukan pencoblosan secara rahasia, tanpa dibantu.

Ketika dihubungi terpisah, anggota KPU Kota Semarang, Iva AA Sriwulansari menjelaskan, pihaknya segera melakukan sosialisasi pilkada terhadap mereka.

''Kami sudah mengontak kepada pengurus Pertuni kalau segera ada acara itu,'' kata dia.

KPU Kota sudah mengakomodasi keinginan tersebut, yakni dengan mencetak 1.800 tempelate. Setiap kelurahan akan dibagi 10 alat bantu yang dilengkapi huruf braile. Anggota Komisi D DPRD Kota, M Mahsun mengemukakan, aksebilitas penyandang tunanetra harus diperhatikan. Selama ini memang perhatian kepada mereka di Kota Semarang masih kurang.

Selain soal pilkada, Pertuni juga menyampaikan aspirasi terkait minimnya akses jalan bagi penderita tunanetra di jalanan Kota Semarang.

Ucok, salah satu pengurus Pertuni menjelaskan, penataan trotoar di ibu kota Jateng ini tidak memperhatikan kepentingan penyandang tunanetra.

Hal ini disebabkan ketertiban trotoar tidak ada lagi. Selain sudah rusak juga banyak yang dipakai untuk jualan.

''Bila kami berjalan memanfaatkan trotoar, nyenggol tenda jualan dimaki-maki pedagang. Sedangkan kalau harus turun ke jalan diomeli awak angkutan,'' kata dia menceritakan pengalaman teman-temannya. (G17-50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA