| Senin, 06 Juni 2005 | SEMARANG |
Pengamanan Distribusi Soal UN Berlapis
SEMARANG - Siswa SMP, MTs, SMP LB yang mengikuti Ujian Nasional (UN) diimbau jangan mudah percaya dengan aksi yang dilakukan pihak-pihak tertentu dengan menjual bocoran soal atau kunci jawaban. Peringatan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng Drs Suwilan Wisnu Yuwono MM, baru-baru ini. ''Pengamanan soal ujian nasional dilakukan berlapis sejak dari percetakan, distribusi di kabupaten/kota hingga dibagikan ke sekolah-sekolah. Sangat kecil kemungkinan ada orang yang bisa menggandakan soal mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika dalam ujian nasional tahun ini,'' tuturnya. Dia mengungkapkan kalau ada orang yang menjual soal ujian yang digandakan, bisa dipastikan barang tersebut merupakan soal ujian tahun-tahun sebelumnya yang dikamuflase dengan cara mengubah kop, mengganti tahun pembuatan kemudian difotokopi, sehingga kelihatan seolah-olah soal asli. Suwilan menyatakan, tidak sembarang orang bisa membuka soal ujian nasional sebelum pelaksanaan ujian berlangsung. Bahkan, sekolah yang menyelenggarakan ujian pun baru menerima soal pukul 06.00 pagi harinya sebelum ujian dilaksanakan pada hari tersebut. Soal yang tersegel baru bisa dibuka di hadapan peserta ujian dan saksi. ''Ujian tingkat SMA telah berlangsung lancar. Kami minta siswa tingkat SMP yang mengikuti ujian jangan coba-coba mencari bocoran soal atau kunci jawaban. Kalau hal tersebut dilakukan siswa yang bersangkutan justru rugi karena terkecoh. Upaya yang tidak fair semacam itu akan memberikan preseden buruk dari tujuan semula mengukur kompetensi siswa.'' Bahasa Indonesia Ujian nasional tingkat SMP, pagi ini hanya mengujikan satu mata pelajaran yaitu bahasa Indonesia. Ujian diikuti 477.691 siswa SMP, MTs, dan SMP LB untuk seluruh Jateng. Secara terpisah Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Drs Sri Santoso mengungkapkan, di wilayahnya pelaksanaan ujian dibagi dalam sepuluh sub rayon. Kegiatan yang diikuti 22.113 siswa di Kota Semarang membutuhkan 1.146 ruang kelas dan 2.292 guru pengawas. Suwilan berharap, peserta ujian bisa melampaui batas nilai minimal lulus 4,26 dalam ujian yang keseluruhan soalnya dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional. ''Kalaupun ada siswa yang tidak mencapai nilai minimal 4,26 di antara tiga mata pelajaran yang diujikan tersebut. Siswa yang bersangkutan masih bisa memperbaiki dengan mengikuti ujian periode II pada mata pelajaran yang gagal saja pada Oktober.'' Data yang dihimpun menemukan bahwa dalam pelaksanaan Ujian Akhir Nasional (UAN) 2002/2003 yang menetapkan batas nilai minimal 3,01 dari sejumlah 477.650 siswa tingkat SMP, 3,95 % atau 18.880 siswa tidak lulus. Sebaliknya, 2003/2004 ujian nasional yang mematok nilai minimal 4,01 diikuti 474.176 siswa SMP dan MTs, 9,22 % atau 43.715 siswa tidak lulus. (H7-36d) |