logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 06 Juni 2005 BANYUMAS
Line

Gizi Buruk Bisa Terjadi pada Keluarga Kaya

PURBALINGGA- Gizi buruk ternyata tidak hanya mengancam anak-anak dari keluarga miskin, tetapi keluarga kaya pun mempunyai potensi yang sama. Hal itu terjadi, jika makanan yang masuk ke tubuh anak tidak bergizi.

''Karena itu, sebaiknya pembantu di rumah tahu soal makanan bergizi,'' kata Kepala Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (DKKS), dokter Dyah Retnani Basuki.

Sudah umum, seorang anak tidak menyukai sayuran. Karena itu, orang yang momong anak harus bisa mengolah sayuran tersebut secara bervariasi. ''Hari ini mungkin si anak mau sop, besok belum tentu mau. Karenanya, menunya harus disiasati. Kalau tidak mau makan makanan bergizi, dan dibiarkan terus, maka lambat laun anak akan kekurangan gizi,'' jelasnya.

Sebagai langkah pemantauan terhadap gizi, anak secara rutin harus ditimbang berat badannya di posyandu atau polindes. Petugas yang melayani di tempatn itu sudah mempunyai catatan perkembangan berat badan anak. Untuk anak balita, misalnya usia satu tahun, maka berat badan idealnya adalah tiga kali berat badan waktu lahir.

''Jadi, gizi buruk itu tidak hanya karena faktor ekonomi, tetapi juga perilaku dan pengetahuan orang yang momong si anak. Jangan biarkan anak-anak mengonsumsi jajanan terus, dan tidak mau makan. Harus dicari penyebabnya, mengapa dia tidak mau makan. Mungkin saja karena menunya itu-itu saja,'' kata Dyah. (F10-16a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA