| Senin, 06 Juni 2005 | BANYUMAS |
H SumadihardjoMerintis Sampang Jadi Kota SatelitSUHU udara siang itu sangat panas. Tetapi puluhan buruh masih sibuk bekerja di lantai dua bangunan rumah toko (ruko) yang berjajar di pinggir jalan raya Sampang. Kota kecamatan berpenduduk 40.000 jiwa di timur laut Cilacap ini, dua tahun terakhir memang sibuk berbenah diri. Bangunan ruko, kios,dan perumahan berkembang di sekitar pasar yang jadi pusat keramaian. ''Bangunan ruko ini milik Pak Madi,'' ujar pemilik warung makan di dekat gerbang perbatasan. Yang dimaksud adalah H Sumadihardjo, bos jamu tradisional yang kini beralih usaha ke bidang konstruksi. ''Sudahlah, jangan cerita jamu lagi. Itu masa lalu, saya sudah tak ngurusi lagi,'' ujarnya saat ditemui di kantornya, akhir pekan lalu. Dia mengaku tak ada kesulitan melakukan alih usaha dari jamu ke bidang konstruksi yang kini ditekuninya. ''Saya pilih inves di daerah sendiri, biar Sampang maju dan menjadi kota satelitnya Cilacap,'' ujarnya beralasan. Puluhan miliar uangnya ditanamkan untuk membangun pusat perdagangan dan perumahan. Hasilnya, dari Buntu (di Kecamatan Kemranjen Banyumas) sampai Sampang hampir menyatu. ''Sepuluh tahun lagi dua kota kecamatan itu pasti menyatu,'' kata investor yang tengah menangani dua proyek sekaligus ini Dua proyek yang bakal menghabiskan dana sekitar Rp 40 miliar ini, merupakan rintisan untuk mewujudkan obsesinya menjadikan Sampang sebagai sentra perdagangan Cilacap Timur sekaligus kota satelit. Berkembang Pesat Sumadi memang layak disebut sebagai perintis, karena sebelum ada sentuhan investasinya, Kota Sampang terlihat kumuh. Bangunan warung-warung yang berjajar di pinggir jalan tidak permanen. Kondisi jalan gelap karena penerangan listrik kurang. Sekarang setelah dipacu dengan pembangunan ruko, bangunan lain pun bermunculan. Berseberangan dengan lokasi ruko, tampak pedagang mobil bekas menjajakan dagangannya dari Escudo, Starlet sampai mobil jenis niaga seperti Panther dan Mitsubishi. Di sebelahnya ada rumah makan Padang, sebelahnya lagi sedang dibangun rumah makan lesehan. ''Dulu saya beli tanah di sini Rp 5 juta/ubin. Kini pasarannya sudah meningkat jadi Rp 10 juta/ubin,'' tandasnya. Ruko yang dibangun ukuran 6 x 14 meter (ukuran standar) dijual Rp 400 juta/unit. Bagaimana tanggapan Pemkab terhadap perkembangan yang pesat ini? Menurut Sumadi, tanggapan Bupati Probo Yulastoro yang juga asal daerah ini sangat positif. ''Dia mengimbau agar para pengusaha asal Sampang melakukan investasi di daerah sendiri, sehingga perputaran uang dinikmati warga.'' Lokasi Kota Sampang di jalur selatan (Yogyakarta-Bandung) ini, sekarang bertambah semarak. Ada dua hal yang menyebabkan perkembangannya pesat, antara lain situasinya kondusif, tak ada preman sehingga investasi berkembang. Karena berada di jalur yang cukup ramai lalu lintasnya, kota ini hidup 24 jam. (Didi Wahyu-16s) |