| Kamis, 02 Juni 2005 | OLAHRAGA |
PBSI Hadapi Kesenjangan PemainJAKARTA - Pada saat ini terjadi kesenjangan kualitas prestasi untuk sektor tunggal putra pemain pelatnas PB PBSI. Simon Santoso tidak mempunyai pelapis yang kualitasnya setingkat di bawahnya. "Kita akan sulit mengejar China pada regenerasi tunggal putra. China mempunyai enam sampai delapan pemain tunggal putra. Kita hanya punya Taufik dan Sonny. China regenerasi di bawah Lin Dan bagus. Kita hnya Simon. Di bawah Simon tidak ada yang kualitasnya lebih bagus dari pemain China. Simon juga masih keteter untuk pemain selapisnya yang ada di China," jelas Ketua Pengda PBSI DKI Jaya Icuk Sugiarto di Jakarta kemarin. Icuk yang mantan Kabid Binpres PB PBSI menyatakan, kini saatnya PBSI harus memikirkan pemain-pemain muda untuk ditingkatkan jam terbangnya. Mereka harus diikutkan berbagai turnamen di dalam dan luar negeri. "PBSI harus berani inves prestasi dengan pemain mudanya. Kirimkan mereka ke berbagai turnamen bermutu. Ini agar mereka termotivasi sebagai pemain penyangga. Sekarang ini kesenjangan dari Simon ke bawah sangat jauh," papar Icuk. Dia menyarankan agar PBSI segera melakukan terobosan untuk masalah umur pemain. Pemain yang masuk sebagai pemain pelatnas harus usia muda. Sedangkan kebijakan kedua adalah mengirimkan atlet di bawah usia 16 tahun ke berbagai turnamen. "Sekarang pelatnas tidak punya pemain usia 16 tahun. Klub masih jadi tumpuan dominan untuk pemain usia ini. Kalau ini faktanya tentu PBSI harus bantu klub tersebut. Caranya ya subsidi. Misalnya subsidi untuk pembelian suttlecock dan biaya pengiriman pemain ke berbagai turnamen," ungkap Icuk Sugiarto. Jakarta Terbuka Dia menandaskan, PBSI harus segera mencarikan pendamping untuk Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat dan Simon Santoso. Pemain masa depan seperti Fransisca Ratnasari harus segera dilahirkan. Hal ini untuk mengejar pemain-pemain China. "Sekarang juara nasional umurnya sekitar 20 tahunan. Ini sungguh akan menyulitkan untuk memasuki usia emas. China sudah jeli untuk menggarap pemain mudanya," tegasnya. Berkaitan dengan pembinaan pemain muda, maka Pengda PBSI DKI Jaya akan menggelar Yonex Sunrise Jakarta Terbuka 2005. Kejuaraan seri Satelite ini akan berlangsung di Jakarta pada 20-25 Juni. Even ini juga merupakan sirkuit nasional. Kali ini merupakan pelaksanaan yang ke-19. "Saat ini sudah terdaftar 401 peserta dari seluruh kelompok umur. Mereka dai 29 klub. Kami masih menunggu partisipasi klub Djarum. Vietnam dan India akan kirim pemain. India baru secara lisan. Sirkuit mempertandingkan pemula hingga dewasa. Kalau Satelite hanya kelompok dewasa," kata Ketua Pelaksana Retno Kustiyah. Retno Kustiyah berharap agar pemain nasional disertakan oleh PBSI pada even ini. Jika mereka turun di lapangan berarti kelanjutan dan potensi prestasi setiap atlet bisa teruji. "Seperti halnya China, munculnya atlet berprestasi dunia juga berasal dari even tinggkat daerah. Kalau di sini aya seperti Yonex Sunrise Jakarta Terbuka," paparnya.(D3-28) |