logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 Juni 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Benarkah Efek Jera Telah Kita Dapatkan

- Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, upaya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum yang sedang gencar-gencarnya dilakukan sekarang akan membuat orang berpikir ribuan kali untuk korupsi. Kondisi seperti ini jelas sangat berbeda dari keadaan lima tahun silam atau sebelum reformasi. Apa yang diungkapkan oleh Wapres ada benarnya. Bagaimanapun masih minim dan belum memuaskan, upaya pemberantasan korupsi menunjukkan keseriusannya dan ini tentu akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan pada mereka yang merasa korupsi. Selanjutnya juga memberikan efek jera. Para pejabat baik eksekutif maupun legislatif tampak makin berhati-hati, agar tidak terkena ranjau-ranjau yang bisa menjerat mereka ke dalam kasus korupsi.

- Di Semarang dan kota-kota lain, situasi yang dapat menimbulkan terapi kejut terjadi. Melalui media massa, kita melihat wajah-wajah mantan pimpinan Dewan ketika memasuki sel tahanan. Tak akan pernah terbayangkan sebelumnya hal ini benar-benar terjadi. Mereka adalah para mantan wakil rakyat yang seharusnya tetap terhormat. Tetapi di depan hukum, tak ada yang dikecualikan. Gubernur, bupati, dan wali kota pun banyak yang terkena. Asas praduga tak bersalah haruslah senantiasa dipegang, namun melihat proses hukum yang mulai bergulir kita sudah bisa merasakan nuansa yang jauh berbeda dari masa sebelumnya. Dan langkah itu barulah sebagian kecil. Kalau kita konsisten akan lebih banyak lagi yang ditangkap dan diadili.

- Inilah saatnya negeri ini memperoleh momentum yang tepat untuk melakukan perubahan. Benar seperti dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tanpa itu Indonesia akan makin diremehkan oleh bangsa-bangsa lain. Kita tak boleh kalah dari China yang dalam setahun bisa memenjarakan ribuan koruptornya. Hanya dengan penegakan hukum, tanpa pandang bulu, citra dan kredibilitas bangsa bisa diperbaiki. Dan dampaknya akan sangat luar biasa. Karena dengan sebutan sebagai salah satu negara terkorup di dunia, pastilah kalangan investor asing tak terlalu memandang Indonesia sebagai sebuah negara dengan daya tarik investasi tinggi. Bukan tidak ada sama sekali, melainkan akan lebih atraktif lagi kalau mampu meyakinkan perubahan itu.

- Diakui langkah pemberantasan korupsi dan penanganan kasus-kasusnya masih menjangkau sebagian kecil. Tidak salah juga bila dikatakan tidak adil, karena yang triliunan rupiah masih didiamkan atau belum ditangkap. Ketidakpuasan dan rasa ketidakadilan itu pasti ada, namun kalau hanya itu yang terus-menerus dikedepankan juga tak akan menyelesaikan masalah. Seperti diungkapkan oleh Jusuf Kalla di depan peserta Kongres I Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), semua orang menginginkan koruptor besar bisa segera ditangkap. Keinginan itu wajar dan sudah seharusnya, namun sama pentingnya dengan itu adalah segera menghapus keinginan mereka sendiri melakukan korupsi. Lebih penting adalah berorientasi ke depan.

- Jadi tidaklah tepat bila belum ditangkapnya koruptor besar dijadikan dalih atau alasan, kalau begitu kita pun masih boleh melakukan korupsi. Semua berusaha bersama-sama dan semua ini akan memakan waktu yang sangat panjang. Karena itu, sambil terus berproses, bagaimana segera menghentikan kebiasaan dan perilaku korup itu jauh lebih penting. Dan semua itu perlu diawali dari diri sendiri dan mulai dari hal-hal kecil. Di sinilah pentingnya efek jera seperti diharapkan. Pertanyaan kita, benarkah efek jera itu telah kita dapatkan. Benarkah orang, seperti dikatakan Wapres, sekarang menjadi takut dan berpikir ribuan kali sebelum melakukan korupsi. Kalau benar begitu, maka ini bisa menjadi gelombang perubahan besar menyangkut kultur bangsa.

- Tetapi bagaimana kalau ternyata kondisi senyatanya belum seperti itu. Orang takut dan ekstrahati-hati untuk sementara, namun mereka masih tetap mengincar untuk suatu ketika melakukan korupsi lagi. Atau tetap melakukan, tetapi dengan pola atau model berbeda dan lebih canggih sehingga tidak mudah ketahuan. Semua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Yang terpenting adalah menjaga momentum dan memberikan dukungan penuh bagi upaya penegakan hukum di satu sisi dan kontrol langsung dari masyarakat di sisi yang lain. Keberanian melaporkan bila menengarai ada dugaan KKN itu sudah merupakan sumbangsih yang sangat berarti. Kalau kontrol meluas dan makin melekat, maka ruang gerak korupsi pun makin sempit.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA