logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 Juni 2005 NASIONAL
Line

Yogya Tetap Tempat Transaksi

YOGYAKARTA - Pernyataan Kepala Pusat Informasi Kehutanan Departemen Kehutanan Transtoto Handadhari bahwa Yogyakarta disinyalir sebagai tempat transaksi para cukong penebangan kayu liar dan perdagangan kayu ilegal ke luar negeri mengundang reaksi keras warga masyarakat Yogyakarta.

Bahkan pernyataan itu, ternyata berbuntut panjang. Terbukti para pengusaha mebel yang tergabung dalam wadah Asmindo hingga Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X membantah tuduhan tersebut.

Namun tidak demikian Transtoto Handadhari yang tetap pada pendiriannya. ''Saya ingin tegaskan kembali bahwa sinyalemen Yogyakarta menjadi sarang dan tempatnya cukong kayu ilegal bertransaksi kemungkinan tetap ada,'' kata dia pada acara jamuan pagi di aula Dinas Kehutanan DIY, Jalan Baciro, Yogyakarta, kemarin.

Transtoto mengemukakan, sinyalemen itu muncul bukan tanpa alasan. Tesis yang dibuatnya itu didukung informasi praktis tentang kondisi kota dan geografis Yogyakarta. Pertama, sebagai kota pariwisata dengan berbagai fasilitas yang menarik hampir setiap warga untuk datang, bertemu maupun tinggal.

Kedua, selama ini Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang paling aman dan tenteram. Ketiga, jauh dari komunitas hutan, baik hutan jati maupun sumber hutan alam lain. Keempat, dikenal memiliki hutan jati rakyat yang tumbuh berkembang, antara lain di Gunungkidul.

Kelima, banyak hutan di Yogyakarta yang rusak. Harus diakui kerusakan hutan itu akibat terjadinya penebangan liar dan perambahan yang berlangsung sejak beberapa waktu lalu.

Keenam, pembangunan Kota Yogyakarta yang pesat, dan tumbuh berkembangnya industri pengolahan kayu, termasuk di Yogyakarta membutuhkan kayu yang tidak sedikit yang hampir seluruhnya berasal dari luar daerah.(sgt-34v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA