| Kamis, 02 Juni 2005 | NASIONAL |
Laporan dari Belanda (3-Habis)Akmil Breda, Jauh dari Kesan Angker
BREDA identik dengan nama sebuah akademi militer di Belanda. Akademi militer yang terkenal ini melahirkan banyak sekali jenderal legendaris. Beberapa jenderal Indonesia pernah mengenyam pendidikan militer di sana, seperti mantan KSAD dan menteri dalam negeri Jenderal (Purn) Rudini pada 1951-1955. Mantan Dubes RI di Maroko, Prancis, dan Spanyol serta Wakil Ketua DPA Letjen (Purn) Gusti Pangeran Haryo Djatikusumo. Juga alm Letjen (Purn) Soekemi. Setelah era tokoh-tokoh itu, tidak banyak lagi prajurit TNI-AD yang sekolah di sana, karena pemindahan orientasi pendidikan militer dari Belanda ke Amerika Serikat. Akademi militer yang biasa disebut sebagai Royal Netherlands Military Academy ini menempati sekolah kastil yang sangat tua dan dibangun tahun 1198. Sedangkan akmil ini dideklarasikan ketika Pangeran Frederik, putra Raja William I, secara resmi membuka pelatihan perwira pada 24 November 1828. Setidak-tidaknya ada 173 prajurit yang mengikuti latihan angkatan pertama ini. Pada periode berikutnya makin banyak prajurit yang belajar di akademi ini, yakni 1907-1909, mencapai 328 prajurit, 1939 (555 prajurit) dan pada periode beberapa tahun terakhir ini setiap tahunnya menerima sekitar 800 siswa untuk tiga angkatan, yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Membayangkan sebuah akademi militer, tentu seperti suasana militeris yang biasa terlihat di pusat pendidikan kemiliteran dan barak-barak. Tetapi, jika Anda masuk ke Akmil Breda, sangat berbeda dari kesan yang selama ini melekat di benak Anda. Pintu masuk ke area itu hanya dijaga oleh seorang petugas piket dan seorang perempuan, yang tampak sekali bukan prajurit, melainkan tenaga administrasi. Perbincangan antara seorang staf pengantar dari Kedubes RI di Belanda dan petugas jaga hanya singkat. Huis van Brecht Mayor Joan Janssen, seorang perwira penerangan, langsung menyambut kami dengan senyuman ramah. Masih agak kikuk pertama kali menyapa, tetapi tampak sekali Mayor Janssen antusias memberikan gambaran tentang lembaganya. "Dari Indonesia? Ya, saya juga!" katanya. "Kok?" "Nenek moyang saya pernah tinggal di Aceh," jelas Janssen. Dan kami pun mengangguk pelan. Wah, perwira ini tampaknya nenek moyangnya pernah dikirim dan hidup di Aceh. Mungkin zaman Snouck Hurgronye menaklukkan Aceh. Dan kami pun dibawa ke sebuah gedung yang terlihat sangat berumur. Gedung di sebelah kanan itu diberi nama The Huis van Brecht. Nama gedung ini diambilkan dari nama keluarga Van Brecht yang pernah tinggal di situ pada abad ke-16. Di situlah tiga generasi dari keluarga besar Van Brecht tinggal. Setelah beberapa kali renovasi, gedung itu masih tampak kukuh hingga sekarang. Meskipun kami mengelilingi sebagian area yang luasnya hanya 6.000 meter persegi, terasa lama juga karena tampak sekali Mayor Janssen sangat menguasai medannya sehingga alur cerita yang runtut menenggelamkan pada kekaguman. "Ya, itulah para kadet yang ingin berakhir pekan," tunjuk Janssen, ketika melihat seorang kadet keluar dari area akmil dengan sepeda motor Kawasaki Ninja yang besar. Sesaat kemudian seorang kadet perempuan jalan dengan ransel di punggungnya. Tegap dan acuh tak acuh. Sempat melirik rombongan kami, tetapi berlalu begitu cepat. Di sisi jalan yang lain, terlihat beberapa prajurit perempuan sedang berbincang akrab dengan teman lelakinya. Santai saja. Dan, di sisi jalan yang lain, beberapa kadet sedang naik sepeda keluar area. Tujuan Wisata Pemandangan hari Jumat sore 27 Mei itu memperlihatkan para kadet akan berakhir pekan. Ada yang dijemput keluarganya, jalan sendirian atau rombongan. Dalam sekejap, area akmil sepi. Toh demikian Mayor Janssen tetap saja asyik bercerita. Bahkan dia makin antusias, ketika Gubernur Mardiyanto mengaku menjadi tentara karena terinspirasi oleh salah seorang pamannya, yakni alm Letjen (Purn) Soekemi yang nota bene pernah mengenyam pendidikan militer di Breda ini. Ups! Ternyata ada juga rombongan lain yang masuk area akmil. "Itu wisatawan. Cukup banyak wisatawan yang datang ke sini. Setiap tahun, tidak kurang dari 6.000 turis baik lokal maupun mancanegara datang ke sini," turtur Janssen, sambil menunjuk rombongan yang sedang dipandu petugas sipil. Ada bedanya. Tim kecil Gubernur diajak masuk ke seluruh ruang termasuk yang biasanya tidak boleh ada orang luar masuk. Di lantai dua, gedung sebelah kanan dipajang beberapa senjata tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Ada badik, pedang, tombok, dan keris dari Jawa. Logam keris terlihat bersih, pertanda memang diberi warangan, dengan ganja emas. Masa pendidikan di akmil ini sebenarnya hanya 1,5 tahun. Untuk menuju spesialisasi membutuhkan lagi waktu sepanjang 2 tahun. Jadi, praktis 3,5 - 4 tahun lama studinya, atau relatif sama dengan akmil di sini. Gubernur Mardiyanto sangat terkesan atas bangunan tua yang melingkupi seluruh area itu. Tampak rapi, terawat, kukuh, meskipun kesan militernya sangat minimal. "Ini pelajaran penting bahwa sekolah tentara bisa menerima rombongan wisatawan dari luar. Bukan dari keluarga kadet yang kebetulan sekolah di sini," tuturnya. "Jadi, keberadaan akmil itu tidak terlalu asing bagi lingkungan masyarakat sekitarnya. Jawa Tengah memiliki Akmil di Magelang dan Akpol di Semarang. Eh, siapa tahu kita bisa mengambil pelajaran dari cara Akmil Breda mengelola akademi itu," tuturnya. Sebuah catatan penting bahwa Akademi Breda ini pernah dipindahkan ke Bandung tahun 1940-1942, ketika kastil itu dikuasai oleh Jerman. Tetapi sayang tidak banyak informasi yang bisa didapatkan ketika akmil ini dipindah ke Bandung. Mungkin masa yang terlalu singkat, sehingga belum bisa membuat sejarah dan legenda. (Hendro Basuki-14t) | ||||