| Kamis, 02 Juni 2005 | NASIONAL |
15 Tersangka Bom Poso
JAKARTA- Polisi menetapkan 15 tersangka terkait dengan peledakan dua bom di depan Pasar Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Peristiwa pekan lalu itu mengakibatkan 19 orang tewas dan lebih 50 orang luka-luka. Hal itu diungkapkan Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar kepada wartawan di Poso, Rabu (1/6), seperti dikutip Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Soenarko. Menurutnya, 13 tersangka telah diamankan di Mapolres Poso dan dua tersangka berinisial AT dan E menjadi DPO (daftar pencarian orang) polisi. AT dan E yang diduga kuat sebagai pelaksana di lapangan pernah terlibat beberapa kasus kekerasan di Ambon dan Seram, Maluku. Di samping itu, polisi juga menyita barang bukti berupa dua unit mobil jenis Toyota Kijang dan Izusu Panther. Mobil Toyota Kijang, kata dia, merupakan mobil dinas milik Kepala Rumah Tanahan Negara (Rutan) Kabupaten Poso Drs Hasman. Sementara di mobil Panther yang diamankan di Tombiano, Kecamatan Tojo Barat, Kabupaten Tojo Unauna-daerah yang dimekarkan dari Kabupaten Poso tahun 2004-ditemukan serbuk yang memiliki kesamaan dengan bahan bom yang diledakkan di Tentena. Kapolri yang didampingi Kapolda Sulteng Brigjen Pol Aryanto Sutadi menolak menyebutkan inisial para tersangka. Namun Kapolda Aryanto membenarkan, salah seorang dari 13 tersangka yang telah ditahan adalah Kepala Rutan Poso Hasman. Hasman diamankan di Desa Tumora, Kecamatan Poso Pesisir, Minggu malam (29/5), saat dalam perjalanan ke Kota Palu atas tuduhan kepemilikan senjata api jenis FN tanpa izin dan mengeluarkan tahanan tanpa seizin Pengadilan Negeri (PN) Poso. Empat tahanan PN Poso atas dakwaan penyimpangan dana kemanusiaan pengungsi yang dikeluarkan Hasman adalah KS, AL, AM, dan E. Keempat orang tersebut di luar tahanan sebelum peristiwa peledakan bom di Tentena terjadi. Setelah menahan dan memeriksa Hasman, polisi menggeledah gedung dan rumah dinas Rutan Poso, Selasa (31/5). Dalam penggeledahan itu ditemukan potongan pipa dan serbuk bahan peledak dari rumah salah seorang pegawai rutan. Diduga kuat rumah dinas Rutan Poso menjadi tempat merakit bom yang diledakkan di Tentena. Sebanyak 19 orang tewas dan 53 lainnya luka-luka, menyusul dua ledakan keras yang terjadi hampir bersamaan di Tentena, kota kecil di tepian Danau Poso, dan berjarak sekitar 258 kilometer Tenggara Kota Palu, pada Sabtu (28/5) pagi. Ledakan dari bom rakitan dan terdengar hingga pada radius lima kilometer itu pertama kali terjadi sekitar pukul 08:15 Wita di Pasar Tradisional Tentena, disusul 15 menit kemudian di sebuah toko milik warga setempat yang berdampingan dengan Kantor BRI Tentena. Jarak antara lokasi ledakan pertama dan kedua yang hanya beberapa puluh meter itu menimbulkan kerusakan hingga radius 100 meter, termasuk bagian depan Gereja Sion. Ditahan Sebelumnya Soenarko di Jakarta mengatakan, Tim Gabungan Mabes Polri dan Polda Sulawesi Tengah (Sulteng) menahan tujuh orang yang diduga terkait dengan kasus peledakan bom di Pasar Tentena, Poso. "Saat ini ketujuh orang itu diperiksa secara intensif di Mapolda Sulteng. Mereka masih dalam pendalaman, belum ditetapkan sebagai tersangka kasus bom Tentena," katanya. Ketujuh orang itu adalah Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Hasman yang ditangkap polisi karena kedapatan membawa senjata api dan senjata tajam di dalam mobilnya saat sweeping yang dilakukan pada Senin (30/5). "Bersama Hasman ikut pula ditangkap Jufri, Supratman, dan Tanri Firna (perempuan)," katanya, seraya menambahkan, Jufri dan Supratman masih berstatus narapidana di Lapas Poso dalam kasus pembunuhan kepala desa. Polisi, tambahnya, juga menangkap Abdul Kadir yang berstatus napi, karena tidak berada di Lapas Poso saat pemeriksaan oleh polisi. Dia ditangkap Senin malam. Kadir adalah napi penghuni Lapas Poso dalam kasus penyimpangan dana bantuan Poso. Sedangkan dua orang lagi yang ditangkap polisi adalah Ismet dan Wisnu. Menurut Soenarko, Hasman akan dikenai pasal dalam Undang-undang (UU) Darurat No 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api. Sementara keenam orang lainnya diperiksa dengan UU No 15 Tahun 2003 tentang Terorisme. "Penyidik punya waktu 7 x 24 jam untuk memeriksa keenam orang tersebut," katanya. Sementara itu, menyangkut hasil pemeriksaan partikel bom, Soenarko mengatakan, tim yang terdiri atas ahli identifikasi kedokteran forensik dan laboratorium forensik sedang mendalami partikel yang ditemukan baik di tempat kejadian maupun di dalam tubuh korban. Namun dia belum bisa menjelaskan apakah kasus bom Tentena tersebut terkait dengan kasus korupsi dan hingga kini polisi telah memeriksa 30 saksi. Kirim Tim Pada hari yang sama, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengirim tim ke Poso untuk mendorong terwujudnya perdamaian di daerah tersebut, menyusul terjadinya aksi peledakan bom. Tim DPD terdiri atas Ketua Tim Ali Warsito, Pdt Ishak Lambe, dan Faisal Mahmud. Kepada pers di Gedung DPR/MPR, mereka menjelaskan, tim DPD akan di Poso mulai Kamis (2/6) dan akan bertemu dengan berbagai pihak terutama kalangan tokoh agama dan masyarakat setempat. Menurut Warsito, perdamaian telah tumbuh di Poso, namun terusik dengan adanya ledakan bom. Karena itu, untuk menguatkan perdamaian diperlukan dorongan dari berbagai pihak agar masyarakat tidak terprovokasi. Sementara Pdt Ishak Lambe menambahkan, Tim DPD akan memantau implementasi kesepakatan Malino. Di sisi lain, kata Warsito, tim akan memantau implementasi program pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan pascakerusuhan, terutama menyangkut rumah-rumah bagi korban kerusuhan. Sejauh ini, berdasarkan informasi yang diterima DPD, masih banyak pengungsi yang belum kembali ke rumahnya karena trauma kerusuhan. Dalam kaitan ini, tim akan mendorong tercapainya suasana kondusif di Poso dan menyadarkan masyarakat untuk tidak mengaitkan ledakan bom dengan konflik masa lalu. Warga Boyolali Salah seorang warga Juwangi, Boyolali yang diduga terlibat diduga masih bersembunyi di Solo dan sekitarnya. Pihak kepolisian tidak menyebut tempat persembunyian tersangka berinisial AM. Kapolwil Surakarta Kombes Pol Drs Abdul Madjid SH hanya menegaskan orang yang menjadi target penangkapan itu masih berada di sekitar Solo. Tidak dijelaskan pasti daerah mana yang diduga sebagai tempat pelarian pelaku kerusuhan itu. "Karena wilayah yang menjadi target tidak hanya satu tempat, apalagi tersangka yang hendak kita tangkap itu selalu berpindah tempat." Aparat Boyolali sendiri bergerak cepat menyusul adanya keterkaitan warga Boyolali dengan kasus bom di Poso. Berapa petugas terus melakukan penyisiran di berbagai daerah satu di antaranya di Kecamatan Juwangi, tempat tinggal AM. "Kami perintahkan staf untuk segera melakukan penyelidikan dan penyisiran. Bila memang berada di Boyolali kami perintahkan untuk segera ditangkap,"kata Kapolres AKBP Drs Oneng Subroto. Dikatakan, orang yang disebut-sebut terkait dengan kasus bom Poso memang orang Boyolali. Tetapi sekarang tidak lagi berdomisi di Boyolali dan sudah berpindah. Namun demikian pihaknya terus melakukan penyisiran dan penyelidikan. Tidak menutup kemungkinan kembali ke daerah asalnya. Jadi Sasaran Di Semarang aparat kepolisian di jajaran Polwiltabes memperketat pengamanan. Langkah ini dimaksudkan untuk mengantisipasi munculnya serangan bom, sebagaimana yang terjadi di Tentena, Poso. Di samping itu, sebagai upaya memburu tersangka teroris, Dr Azhari, Noordin M Top dan kawan-kawannya. Salah satu upaya yang kini sedang digalakkan adalah patroli dan operasi di sekitar perbatasan kota. Dalam operasi yang digelar di Jl Kaligawe, depan PO Adam, polisi memprioritaskan mobil-mobil boks atau mobil-mobil yang berusia agak tua. Alasannya, mobil-mobil jenis itu yang dicurigai digunakan untuk mengangkut bahan peledak. Tidak hanya itu, pengendara motor dan mobil-mobil keluaran baru dari berbagai jenis dan merek pun menjadi sasaran operasi. Bagi pengendara motor yang mengenakan helm cakil, diwajibkan dibuka kacanya. Demikian pula, mobil-mobil yang berkaca gelap, harus dibuka. (bu,sas,G11,san,shj, G5 - 48) | ||||