logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 Juni 2005 NASIONAL
Line

Undang Sejumlah Tokoh Nasional


SM/dok Try Sutrisno

JAKARTA - Mantan Wakil Presiden RI Jenderal (Purn) Try Sutrisno kemarin mengundang sejumlah tokoh nasional berkumpul di rumahnya di Jalan Purwakarta No 6 Menteng, Jakarta Pusat.

Mereka yang datang ke rumah Try adalah mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan presiden Megawati Soekarnoputri beserta suaminya, Taufik Kiemas, mantan ketua DPR Akbar Tandjung, mantan panglima TNI Wiranto, mantan gubernur DKI Jaya Letjen (Purn) Soerjadi Soedirja, dan mantan aktivis mahasiswa dan tokoh Malari, Hariman Siregar.

Mereka mengaku, diundang makan siang atau memperingati hari lahir Pancasila. Tidak ada pernyataan penting yang keluar dari para tokoh tersebut.

Gus Dur tampak pulang terlebih dahulu, kemudian disusul tamu undangan lainnya. Namun mereka tidak mau memberikan komentar terkait dengan pertemuan tersebut.

Sementara itu, dalam keterangannya, Try Sutrisno mengatakan, tujuan pertemuan tersebut tidak lain hanya untuk bersilaturahmi antara pribadi-pribadi yang pernah duduk di panggung politik nasional.

"Lillahi ta'ala ini hanya silaturahmi. Antara pribadi-pribadi, baik itu mereka dalam kapasitasnya sebagai pimpinan partai, mantan pejabat tinggi negara, petinggi militer, dan sebagainya," katanya.

Dia menjelaskan, undangan kepada mereka tidak secara resmi, tapi hanya melalui 'telepon-teleponan'. Dia menyatakan memang sengaja mengambil momen bertepatan dengan hari besar nasional, yaitu Hari Lahir Pancasila.

Try membantah bahwa pertemuan tersebut dalam rangka untuk membuat forum penyeimbang terhadap penguasa saat ini.

"Ini silaturahmi pertama, sedangkan kita tampung usulan-usulan dan sepakat bahwa pertemuan seperti ini akan digulirkan terus. Sehingga terakomodasi berbagai introspeksi hingga konsep yang bagus untuk bangsa ini. Dan hari-hari besar nasional tidak dilewatkan dengan seremonial begitu saja tanpa makna. Karena forum ini baru pertama, maka kita baru membicarakan hal-hal yang umum, universal, dan mendasar," tuturnya.

Pelangi Indah

Ditanya apakah pertemuan tersebut sifatnya 'pelangi' - karena menggabungkan warna-warna politik di masyarakat - Try menjawab singkat. "Pelangi itu indah kan. Kalau merah saja, atau kuning saja atau hijau saja kan bosen."

Saat ditanya apa yang disampaikan Megawati, Try mengatakan, putri Bung Karno tersebut banyak berbicara masalah falsafah, ideologi negara, dan juga menceritakan bagaimana proses lahirnya Pancasila secara objektif.

"Dari seluruh pembicaraan itu, kita tinggal sepakat. Kita tidak boleh munafik, sudah punya (Pancasila) diomongkan tapi tidak dilaksanakan," tandas Try Sutrisno.

Ditanya apakah forum ini membahas sikap lunak pemerintah terhadap gerakan separatis, Try mengatakan, pembicaraan tidak eksplisit mengarah ke situ. Tentang sikap pemerintah yang akan melibatkan asing untuk meminta perdamaian di Aceh, mantan wapres itu mengatakan, "Sikap saya, kurang apa kita ini sebagai bangsa. Jadi kita konsisten saja mempertahankan tanah air dengan seluruh kekuatan kita."

Menurutnya, GAM itu untung karena disebut sebagai Gerakan Aceh Merdeka.

"Mengapa tidak kita sebut saja gerakan separatis. Orang lain harus tahu, Indonesia itu ada penyakit yang namanya separatis. Kita harus terbuka dan tegas, kalau tidak mau direcoki dan diintervensi soal dalam negeri kita," katanya.

Try mengajak segenap komponen bangsa untuk menjaga dan bersifat amanah terhadap apa yang telah diberikan negara dan bangsa serta pengorbanan para pahlawan.

Try juga khawatir tentang jalannya reformasi. "Reformasi itu harus tetap dalam batas-batas yang konsisten dan tetap bertujuan untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Jangan kebablasan sampai merusak tatanan atau warisan, dan gampang mengecapnya sebagai bagian masa lalu. Dan NKRI adalah harga mati," katanya.

Ditanya soal pilkada, Try mengatakan, sebaiknya kita mengembalikan ke sila keempat Pancasila.

"Jadi, ada hikmah dari Tuhan dan kebijaksanan dari otak kita, lalu ada permusyawaratan yang didasari keduanya, dan dilakukan wakil-wakil kita. Jadi, itu yang menurut pemikiran founding father kita. Yang penting adalah memilih wakil-wakil yang konsisten dan amanah, ini saja yang perlu kita perbaiki, jangan mengubah dengan sistem yang lain," katanya. (F4-49t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA