logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 Juni 2005 NASIONAL
Line

KBRI di Australia Diteror Antraks

  • 52 Staf Dikhawatirkan Terkontaminasi

DIPERIKSA: Sejumlah petugas keamanan dan ahli kimia beracun memeriksa Kedutaan Indonesia di Camberra, Australia, karena ditemukan kiriman amplop berisi bakteri mematikan, Rabu (1/6). Peristiwa tersebut terjadi di tengah kemarahan publik Australia, menyusul kasus Schapelle Corby yang divonis 20 tahun penjara oleh pengadilan Indonesia karena penyelundupan obat terlarang. (57t)

JAKARTA - Sebanyak 52 staf Kedubes RI di Canberra, Australia kini dalam pamantauan ketat. Serbuk putih yang dikirim ke kedubes itu diduga kuat sejenis bakteri penyebab penyakit antraks (bacillus anthracis). Dikhawatirkan 52 staf KBRI itu terkontaminasi serbuk tersebut.

"Kita telah mengevakuasi 52 teman kita di sana. Mereka sedang dalam proses dekontaminasi (dimandikan). Kondisi mereka dipantau terus karena dikhawatirkan secara tidak sengaja menghirup atau menyentuh bubuk itu," kata juru bicara Deplu Marty Natalegawa, Rabu kemarin.

Marty belum bisa memastikan serbuk putih yang ditemukan di KBRI di Canbera itu merupakan serbuk Antraks. Dari hasil penelitian Australia sejauh ini, jelasnya, bubuk tersebut merupakan zat kimia aktif.

Namun PM Australia John Howard menduga, serbuk tersebut antraks. Dia memperkirakan serbuk itu adalah agen biologi yang masuk dalam kelompok bacillus. Salah satu bentuk kelompok bacillus adalah agen penyebab penyakit antraks.

Pemerintah Australia sendiri sangat serius menangani kasus tersebut. Menlu Australia Alexander Downer telah mengontak Menlu Hassan Wirajuda yang saat ini tengah berada di Tokyo. Australia dan RI sepakat meningkatkan pengamanan di KBRI.

"Kita juga terus mengadakan kontak dengan Kedubes Australia di sini. Telah ada kesamaan pandangan antara kita dan Pemerintah Australia bahwa kita sama-sama mengutuk insiden ini dan sama-sama mengupayakan agar pelakunya dapat ditangkap," ujar Marty.

Siapa pengirim serbuk tersebut, Deplu belum mempunyai dugaan. Namun diduga kuat pengiriman serbuk itu terkait vonis Schapelle Corby. "Kami menduga hal itu memang berkaitan dengan kasus yang sedang dihadapi Corby."

Marty lantas mengimbau warga Australia yang kecewa dengan vonis 20 tahun penjara Corby tidak melakukan tindakan melanggar hukum. Tindakan emosional seperti mengirimkan agen biologi itu tidak akan meringankan hukuman.

"Kami tidak pernah mempermasalahkan kepedulian yang besar masyarakat Australia. Tapi kami mengimbau agar masyarakat Australia mau menyalurkan kepeduliannya melalui cara-cara yang produktif dan konstruktif dalam kata lain melalui jalur hukum," tandas Marty.

Ditutup

Kedubes Indonesia di Australia kini ditutup. Penutupan ini dilakukan setelah pihak kedubes menerima bungkusan mencurigakan.

Menlu Australia Alexander Downer menjelaskan, Kedubes RI meminta pengamanan tambahan di sekitar gedung kedubes. Karena itu kedubes kini dikelilingi oleh truk-truk brigade pemadam kebakaran dan para personel dinas emergency.

Menurut petinggi Negeri Kanguru itu, insiden ini merupakan keprihatinan besar. Kejadian ini diyakini Downer ada hubungannya dengan kemarahan publik Australia atas vonis 20 tahun penjara bagi ratu mariyuana asal Australia, Schapelle Corby oleh Pengadilan Negeri.

"Kami mengutuk kesewenangan seperti ini dan mengimbau masyarakat yang peduli akan Schapelle Corby untuk menyalurkan energi guna mendukung tim pembela hukum dia (Corby)," kata Downer.

Downer menyayangkan insiden ini dan menegaskan bahwa masalah ini tidak ada gunanya bagi kemajuan kasus Corby dan upaya pemerintah untuk merundingkan kesepakatan pertukaran tahanan. "Ini masalah keprihatinan besar dan ini sangat tidak membantu."

Sebuah sumber Kedubes RI mengatakan, semua staf kedutaan dalam kondisi baik-baik saja. Namun mereka belum diizinkan meninggalkan kedubes. Menurut seorang juru bicara kepolisian Canberra, paket mencurigakan itu diterima kedubes pada pagi kemarin.

"Sebagai respons normal kami terhadap paket mencurigakan, paket itu langsung dibawa dan kami saat ini tengah menganalisisnya," ujarnya. Menurut juru bicara tersebut, butuh beberapa jam untuk menganalisis paket tersebut.

Kasus Corby memang menimbulkan kemarahan besar publik Australia. Bahkan kabarnya banyak warga Australia yang ingin meminta kembali sumbangan uang yang telah mereka berikan untuk para korban tsunami di Aceh.

Juru Bicara Deplu Yuri Thamrin mengungkapkan, kepolisian Australia kini masih memeriksa paket mencurigakan itu.

Paket misterius itu dikirimkan Rabu pagi saat staf Kedubes RI belum ada yang mengantor. Pihak keamanan langsung menginformasikan penemuan itu kepada para staf kedubes dan memintanya tidak masuk kantor.

Yuri memastikan pengiriman paket mencurigakan tersebut terkait vonis terhadap Schapelle Corby. Maklum, banyak warga negeri Kanguru itu yang kecewa gadis Australia itu divonis 20 tahun penjara karena terbukti membawa 4,2 kg mariyuana. Pemerintah Australia menaruh perhatian serius terhadap pengiriman paket tersebut. Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer menjanjikan bantuan semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus itu.

PM Australia John Howard menegaskan bubuk itu diduga sejenis bakteri penyebab penyakit antraks.

"Itu masih diuji. Itu bukan bubuk putih biasa, tapi sejenis agen biologi."

Menurut Howard, dirinya belum bisa bicara banyak mengenai bubuk tersebut. "Saya bukan peneliti, namun mereka bilang kalau itu masuk dalam kelompok bacillus dan sekarang sedang diuji. Pada tahap ini, saya tidak bisa mengatakan lebih dari itu."

Kelompok bacillus mencakup berbagai bentuk bakteri yang salah satunya adalah agen penyebab penyakit antraks.

Howard meminta maaf kepada Pemerintah Indonesia atas insiden itu.

"Ini perbuatan sembrono yang mengabaikan jiwa manusia dan saya atas nama rakyat Australia meminta maaf kepada Kedubes Indonesia dan Pemerintah Indonesia."

Dikatakan, bubuk berbahaya tersebut dikirimkan dalam amplop yang dialamatkan untuk Duta Besar RI Imron Cotan.

Menurut Howard, jika bubuk tersebut telah dipastikan sebagai sejenis bakteri penyebab antraks, maka ini akan menjadi insiden yang pertama kali terjadi di Australia.(dtc-14v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA