logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 Juni 2005 KEDU & DIY
Line

Reboisasi Hutan Gundul Akan Selesai 2006

BUKAN rahasia lagi hutan negara di wilayah Kedu Selatan banyak yang gundul akibat pencurian kayu. Ketika mulai bertugas di Perhutani KPH Kedu Selatan pada awal 2002, Administratur (Adm) Ir H Waloejo Budi Santoso melihat kerusakan hutan di wilayah kerjanya mencapai 10.000 ha. Hal itu terjadi akibat penjarahan besar-besaran yang berlangsung sejak 1997.

Dari areal hutan negara se-Kedu Selatan seluas 44.721,8 ha yang tersebar di lima kabupaten, ternyata tingkat kerusakannya terjadi di semua wilayah. Waloejo mengemukakan, hutan yang gundul akibat penjarahan di wilayah Kabupaten Purworejo 1.755 ha dari lahan 8.867,24 ha, di Kebumen dari lahan 17.679,64 ha yang gundul 4.320,4 ha.

Sementara itu, di Banjarnegara kerusakan 738 ha dari luas lahan 6.622,44 ha. Wonosobo yang luas hutannya 7.777,31 ha mengalami kerusakan 2.034 ha sedangkan di wilayah Banyumas dari lahan 3.775,12 ha, 72,5 ha di antaranya rusak dijarah.

Berdasarkan pendataan Perhutani, selama 2003 lalu pohon yang hilang 13.491 batang dengan kerugian Rp 1.982.210.000. Pada 2004, pohon yang hilang 21.624 batang dengan kerugian Rp 3.208.382.000. Jika melihat jumlah kayu yang hilang, ujar Ir H Waloejo, Wonosobo menduduki angka teratas, yakni 1.754,7 buah dengan kerugian Rp 2.705.261.000.

Sementara itu, Ajun Adm/Ka KPH Ir Dicky Y Randy memiliki catatan, kebutuhan kayu di perusahaan kayu/mebel Wonosobo 70.000 m3/tahun. Padahal, suplai kayu dari hutan rakyat hanya 40.000 m3/tahun dan dari Perhutani 20.000 m3/tahun.

Berkenaan dengan kenyataan seperti itu, ungkapnya, Perhutani tidak mungkin jika tidak ikut melayani kebutuhan kayu masyarakat.

Salah satu caranya tentu saja Perhutani memang harus rajin mereboisasi secara terus-menerus. ''Melihat kondisi hutan banyak yang gundul, saya putuskan untuk mereboisasi secara cepat. Kalau dalam kondisi normal, reboisasinya rata-rata hanya 400-500 ha per tahun, ini saya speed up menjadi 1.800-2.000 ha per tahun,'' ujar Ir H Waloejo, Sabtu (28/5).

Realisasi

Sebagai realisasi dari janjinya itu, pada 2002 dia mereboisasi lahan gundul 1.938,9 ha, 2003 seluas 2.125,1 ha, 2004 seluas 1.630,9 ha. Tahun ini ditargetkan akan mereboisasi lahan kosong 1.724,5 ha. ''Sisa lahan gundul 2.246,3 ha akan kami reboisasi pada 2006. Dengan demikian, tahun depan sudah tidak ada lahan yang gundul akibat penjarahan kayu,'' paparnya.

Dengan cara cepat seperti itu, dia berharap proses reboisasi hutan yang gundul tidak memakan waktu terlalu lama. Dia menekankan, penggarapan reboisasi tetap memakan waktu sampai beberapa tahun karena disesuaikan dengan kemampuan dana, tenaga, dan pengawasannya.

Guna memudahkan mencari tanaman reboisasi, Perhutani bekerja sama dengan UGM Yogyakarta membuat kebun benih tanaman meranti pada 2004. Enam belas ribu bibit meranti yang dibeli dari Kalimantan tersebut ditanam di petak 77d seluas 40 ha di Desa Pakisarum, RPH Kemiri, BKPH Purworejo.

Administratur KPH yang didampingi supervisor lapangan Widayat TN mengemukakan, pelaksanaan reboisasi itu dipantau lembaga independen PT Gama Multi Usaha Mandiri milik UGM Yogyakarta. Hasil pemantauan reboisasi 2003 tercatat persentase tanaman yang tumbuh mencapai 95,46.

''Paradigmanya sudah berubah. Jika dahulu Perhutani cenderung ke produksi kayu, sekarang konservasi hutan. Yakni sejalan dengan berlakunya PHBM yang sistem tanamnya melibatkan masyarakat,'' imbuh Ir H Waloejo. (Eko Priyono-39dj)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA