| Kamis, 02 Juni 2005 | INTERNASIONAL |
Nuklir Korut DiblokirWASHINGTON - Korea Utara diblokir agar tidak memperoleh bahan-bahan yang berkaitan dengan pembuatan senjata kimia dan nuklir dalam sembilan bulan terakhir ini melalui berbagai upaya non-proliferasi multilateral, demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS, Selasa lalu. Program pimpinan AS tersebut, yang dinamakan Prakarsa Keamanan Proliferasi (PSI), juga mencegah Iran mendapatkan peralatan dan bahan-bahan yang berkaitan dengan rudal balistik, kata juru bicara Deplu AS Richard Boucher. Dia menolak menjelaskan lebih lanjut. Boucher tengah menjelaskan secara mendetail 11 kasus sukses yang dilaporkan Selasa pagi oleh Menlu AS Concoleezza Rice. Laporan itu disampaikan pada suatu upacara untuk memperingati dua tahun program multilateral guna menghentikan perdagangan gelap senjata penghancur massal, dan bahan-bahan serta teknologi pembuatnya. Rice juga mengatakan, ''Selama sembilan bulan terakhir ini, AS dan 10 mitra PSI kami telah cukup melakukan kerja sama dalam 11 usaha yang sukses.'' ''Kerja sama PSI menghentikan pengiriman bahan dan peralatan yang ditujukan bagi program-program rudal balistik di sejumlah negara yang berkepentingan, termasuk Iran,'' jelasnya pada acara tersebut yang dihadiri oleh para duta besar dari Jepang, Singapura, Denmark, dan para wakil lain di Deplu AS. 11 Usaha Sukses Walaupun Rice menyebutkan 11 usaha yang sukses, Boucher menolak memberi keterangan yang lebih terperinci. Dia menyatakan ada masalah intelijen yang sensitif, dan hanya menyebutkan sedikitnya dua kasus yang melibatkan Iran dan Korut. Kerja sama bilateral dengan beberapa pemerintah membuat Korea Utara tidak dapat menerima bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan senjata kimia, dan kerja sama dengan negara lain memblokir pengiriman ke Korut bahan yang bermanfaat dalam program nuklirnya, kata Boucher. Dengan menyebutkan bahwa saat ini lebih dari 60 negara mendukung PSI, Rice mengatakan, perdagangan yang berbahaya dalam persenjataan penghancur massal hanya dapat dihentikan melalui upaya yang terkoordinasi dan berkelanjutan oleh masyarakat internasional. Dubes Jepang untuk AS Ryoto Kato mengatakan, Jepang bertekad membuat PSI menjadi lebih efektif untuk menghentikan pengembangbiakan senjata-senjata yang mematikan. Roket Pertama Sementara itu, Korut menyatakan Korea telah menemukan roket pertama di dunia 1.300 tahun lalu. Kantor berita resmi Korut KCNA Senin lalu melaporkan, senjata mirip dengan roket modern yang diluncurkan jet telah digunakan di Korea pada tahun-tahun terakhir Periode Koguryo pada abad ke-7. ''Roket pertama itu sangat sederhana tapi pada prinsipnya serupa dengan roket modern,'' kata KCNA. ''Senjata yang diluncurkan jet yang disebut Kwanghwi itu menunjukkan kekuatannya dalam pertempuran dekat kastil di gunung Pukhan tahun 661.'' KCNA melaporkan antara tahun 918-1392, Korea juga membuat roket yang disebut Hwajon yang hempir satu meter panjangnya dengan ujung panah yang menggunakan teknologi roket untuk mendorong panah ke jarak yang sangat jauh. Roket itu ditembakkan dengan menyalakan peluru yang mudah membakar. KCNA menyatakan pada awal abad ke-15, pembuat senjata Korea telah mengembangkan roket dengan banyak tingkatan. Korea Utara memiliki program rudal sejak 1960-an. Negara itu telah menjual rudal dan teknologi rudalnya ke luar negeri untuk mendapatkan mata uang asing dan menarik perhatian masyarakat internasional ketika negara itu menembakkan rudal Taepodong di atas Jepang pada 1998.(ant-26) |