logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 02 Juni 2005 BANYUMAS
Line

Kontrak Politik Mahasiswa Ditolak

PURWOKERTO- Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto menolak kontrak politik mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Unsoed. Kontrak politik berisi 10 butir pernyataan itu, kemarin, disodorkan wakil mahasiswa kepada Rektor Prof Rubiyanto Misman dan anggota senat universitas.

Delapan wakil mahasiswa itu dipimpin Hanung dan Anggi. Dialog dilakukan di ruang rapat rektorat lantai II. Acara difasilitasi Pembantu Rektor II Bidang Kemahasiswaan Komari SH MHum.

Bukan Jabatan Politis

Rubiyanto Misman menyatakan menolak menadatangani kontrak politik itu karena kampus bukan lembaga politik. Jabatan rektor juga bukan jabatan politis sebab diangkat pemerintah.

''Saya bekerja untuk pemerintah karena yang mengangkat dan membayar saya negara. Jika menandatangani berarti saya tunduk pada mahasiswa. Keabsahan perwakilan ini pun belum jelas,'' ujar dia, kemarin, seusai pertemuan.

Dia menyatakan sebagian besar dari 10 poin yang disodorkan mahasiswa telah terlaksana. ''Namun kan tak harus selalu melibatkan mahasiswa. Saya juga menolak kampus ini dinilai komersial. Program studi baru seperti kedokteran, teknik, dan farmasi memang membutuhkan banyak dana. Coba bayangkan, untuk membuat program kedokteran kami harus membangun rumah sakit senilai Rp 250 miliar.''

Dialog antara wakil mahasiswa dan pemimpin universitas itu merupakan kelanjutan demonstrasi mahasiswa, Selasa (31/5). Ratusan mahasiswa saat itu unjuk rasa menuntut pemilihan calon rektor periode 2005-2009 ditinjau ulang. Mahasiswa berbagai fakultas dan program studi itu mendatangi rektorat.

Dalam aksi mahasiswa mengkritik hasil pemilihan calon rektor yang diajukan panitia pemilihan ke Menteri Pendidikan untuk dimintakan pengesahan Presiden dan menyoroti demokratisasi di kampus. Mereka berpendapat demokrasi di kampus telah hilang karena mahasiswa tak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan.

Aksi yang dipimpin Anggi S dan hubungan masyarakat Jafarudin itu relatif tertib. Itu berbeda dari aksi kali pertama, Senin (23/5). Saat itu mahasiswa dan satuan pengamanan (satpam) saling dorong. Seorang mahasiswa terinjak dan seorang satpam terpukul. (G22-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA