| Senin, 30 Mei 2005 | EKONOMI |
Analisis Industri dan PerusahaanANALISIS fundamental merupakan analisis berjenjang yang dimulai dari: (1) analisis ekonomi, (2) analisis industri, dan kemudian (3) analisis pada perusahaan. Perkembangan faktor ekonomi akan memengaruhi pertumbuhan industri, sedangkan pertumbuhan industri memengaruhi perkembangan perusahaan dalam kelompok industri tersebut. Pengaruh faktor ekonomi terhadap masing-masing kelompok industri saham mempunyai derajat berbeda-beda. Di Bursa Efek Jakarta (BEJ) kelompok industri saham terbagi menjadi sembilan sektor, yaitu (a) pertanian, (b) pertambangan, (c) industri dasar dan kimia, (d) aneka industri, (e) industri barang konsumsi, (f) properti dan real estat, (g) infrastruktur, (h) keuangan, serta (i) perdagangan, jasa, dan investasi. Analisis industri terhadap sembilan sektor tersebut akan menghasilkan daftar pendek pilihan pada kelompok saham tertentu. Pengaruh faktor fundamental ekonomi terhadap daftar pendek pilihan pada kelompok saham tertentu tersebut mempunyai derajad sensitivitas berbeda. Ada kelompok saham yang menerima pengaruh perubahan faktor ekonomi fundamental secara progresif atau lebih dari sebanding. Kelompok saham lainnya dapat terkena pengaruh secara proporsional atau bahkan secara degresif atau kurang sebanding. Analisis industri diperlukan untuk melihat karakteristik kelompok perusahaan yang terkait dengan risiko dan peluang keuntungan kelompok industri saham tersebut. Ada berbagai strategi yang dapat dilakukan oleh para investor dalam menghadapi peluang dari karakteristik kelompok perusahaan tersebut, yaitu strategi ofensif, konservatif, dan defensif. Strategi ofensif terkait dengan pemilihan kelompok saham progresif dengan peluang keuntungan tinggi namun berderajat risiko tinggi pula. Strategi tersebut tepat dilakukan terhadap kelompok saham dengan pertumbuhan sektor tinggi. Pada sektor itu di antaranya saham kelompok subsektor teknologi, investasi, otomotif, dan saham perusahaan yang sensitif terhadap siklus atau subsektor pertanian. Strategi konservatif berhubungan dengan kelompok saham proporsional dengan derajat peluang keuntungan sedang dan risiko moderat. Strategi tersebut tepat dilakukan terhadap kelompok saham dengan pertumbuhan sektor yang perusahaannya cenderung menghasilkan pendapatan tetap, misalnya subsektor telekomunikasi dan rokok. Strategi defensif tepat diterapkan pada kelompok saham degresif dengan derajat peluang keuntungan dan penerimaan risiko rendah. Tergabung pada sektor itu, misalnya, subsektor pertambangan dan perdagangan. Di antara ketiga strategi tersebut mana yang paling baik? Hal itu bergantung pada seberapa besar target peluang keuntungan dan batas toleransi masing-masing investor dalam hal derajat penerimaan terhadap risiko yang akan dihadapi. Hasil dari analisis industri menghasilkan daftar pendek sektor kelompok saham dan subsektor pilihan. Analisis industri menjamin memperoleh sektor dan subsektor pilihan yang fundamentalnya baik. Apakah sektor dan subsektor pilihan tersebut akan menjamin investor mendapat peluang keuntungan optimal? Tidak akan demikian, karena kondisi masing-masing jenis saham berbeda meskipun tergabung pada kelompok sektor potensial yang sama. Karena itulah, diperlukan analisis untuk menentukan jenis saham pilihan dari daftar pendek tersebut. Analisis Keuangan Analisis fundamental perusahaan akan menghasilkan pilihan jenis saham mana yang sudah mahal dan mana yang masih murah. Fokus analisis tersebut terkonsentrasi pada analisis manajemen dan analisis keuangan perusahaan. Analisis neraca dan rugi-laba perusahaan menghasilkan rasio-rasio keuangan standar, contohnya rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas, serta keuntungan. Namun demikian rasio-rasio standar itu tidak bisa langsung memberikan informasi yang bisa diterapkan atau aplikabel bagi para investor. Karena itu, analisis di pasar modal lebih menggunakan rasio-rasio khusus yang lebih aplikabel bagi investor. Rasio khusus tersebut diperoleh dengan cara membandingkan harga suatu saham dengan berbagai macam basis perhitungan. Basis pokok pertama yang dapat digunakan sebagai dasar adalah keuntungan perusahaan. Makin tinggi keuntungan perusahaan maka seharusnya harga sahamnya juga kian tinggi. Basis itu dirumuskan dengan cara membandingkan harga saham dengan keuntungan perusahaan atau price earning ratio (PER). Makin tinggi PER sebenarnya menunjukkan harga suatu saham kian dinilai tinggi oleh pasar sebanding dengan keuntungan yang didapatkan oleh perusahaannya. Namun demikian kian tinggi PER berarti harga suatu saham makin mahal. Basis pokok kedua adalah nilai buku perusahaan atau nilai aset neto perusahaan sesudah diperhitungkan penyusutannya. Seharusnya makin tinggi nilai buku perusahaan harga sahamnya di bursa juga kian tinggi. Basis itu dirumuskan dengan cara membandingkan harga suatu saham dengan nilai bukunya atau dikenal sebagai price to book value (PBV). Makin tinggi PBV sebenarnya menunjukkan harga suatu saham kian dinilai tinggi oleh pasar sebanding dengan nilai buku perusahaannya. Namun demikian kian tinggi PBV berarti harga suatu saham sebenarnya sudah makin mahal. Basis pokok ketiga adalah nilai intrinsik atau nilai sekarang plus nilai premium prospek kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Bila harga satu saham sudah berada jauh di atas nilai intrinsiknya maka menggambarkan sudah makin mahal. Demikian pula sebaliknya jika harga suatu saham masih berada jauh di bawah nilai intrinsiknya maka menggambarkan masih murah. Rasio tersebut dapat dirumuskan sebagai rasio harga saham terhadap nilai intrinsiknya atau price to intrinsic value (PIV). Sesuai dengan karakteristik perusahaan pada masing-masing sektor, basis perhitungan makin berkembang. Misalnya basis perhitungan atas dasar lines atau jaringan bagi perusahaan telekomunikasi, serta basis oversubscribed atau kelebihan permintaan bagi perusahaan otomotif. Sesudah analisis fundamental perusahaan dilakukan akan dapat diketahui jenis saham terpilih atas dasar fundamental perusahaan. Apakah analisis tersebut menjamin jenis saham yang dipilih akan memberikan keuntungan optimal? Masih diperlukan analisis teknikal untuk mengetahui kapan sebaiknya waktu yang tepat untuk membeli saham yang fundamentalnya baik tersebut agar memperoleh keuntungan optimal. (Dr Sugeng Wahyudi, dosen Strategi dan Keuangan Program MM Undip-27) |